Pencurahan Roh dalam SHDR


Program Seminar Hidup Dalam Roh Kudus ( SHDR ) di Stasi Harapan Indah – St. Albertus pada  hari Senin lalu tanggal 28 Mei 2012 memasuki sesi ke lima ( 5 ) dari total delapan ( 8 ) kali sesi pertemuan.  Para peserta dalam mempersiapkan untuk menyambut  sesi ke lima ( 5 ) yang merupakan sesi “ Pencurahan Roh Kudus “ ini benar benar serius, ada yang melakukan pengakuan dosa, ada yang berpuasa / berpantang.  Pencurahan Roh Kudus ini diimani sebagai hal penting untuk mengalami pembaharuan. Sesi yang di mulai pukul 18.00 – 21.00 wib ini dibawakan dengan sukses oleh Bapak Benyamin Ratu yang didukung oleh team pujian dari Amazing Grace yang berkolaborasi dengan team pujian PDKK St. Albertus.


Pencurahan Roh Kudus ini diikuti oleh kurang lebih 152 orang yang terdiri dari peserta 121 orang dan panitia 31 orang.  Kita patut berbangga karena diantara peserta tersebut terdapat 11 orang yang masih remaja yang artinya mereka di usianya yang masih belia namun sudah sadar dan mengerti arti pentingnya Pencurahan Roh Kudus ini sehingga mereka antusias untuk mengikuti acara SHDR ini sampai selesai.

Apa yang dimaksudkan dengan Pencurahan Roh ?  Kitab Suci juga memberikan beberapa contoh tentang hal ini, misalnya, ketika Paulus tiba di Efesus dan bertemu dengan beberapa murid. Setelah berbicara dengan mereka, barangkali Paulus juga merasa bahwa masih ada banyak kekurangan sesuatu pada mereka maka ia pun bertanya, "Adakah kamu telah menerima Roh Kudus ketika percaya?" Dari jawaban mereka itu, Paulus tahu bahwa mereka belum menerima Roh Kudus, bahwa mereka belum menjadi orang Kristen yang penuh maka ia pun mulai berbicara tentang hal ini, "Ketika mendengar ini, mereka pun dibaptis dalam nama Tuhan Yesus dan ketika Paulus menumpangkan tangan atas mereka, Roh Kudus turun atas mereka dan mulailah mereka berbicara dalam bahasa roh serta bernubuat" (Kis 19:1-6).


Pencurahan Roh Kudus ini merupakan pengaktifan dan aktualisasi buah-buah Sakramen Pembaptisan dan Krisma, yang seringkali kurang efektif dalam hidup banyak orang. Pembaptisan Roh Kudus ini bukan suatu sakramen, hanya semacam doa permohonan untuk mengaktifkan rahmat pembaptisan.  Apabila rahmat pembaptisan itu sungguh-sungguh diaktifkan, orang akan mengalami kehadiran Roh Kudus yang sungguh-sungguh berkarya dalam dirinya. Hal ini dapat merupakan titik tolak suatu hidup baru. Jadi sesungguhnya jelas bahwa pengalaman semacam itu sudah ada sejak semula dalam Gereja, hanya saja banyak orang yang melupakannya. Kini hal tersebut ditemukan kembali oleh Pembaruan Hidup dalam Roh dengan suatu dimensi yang baru, yaitu dengan suatu kesadaran yang mendalam bahwa hal ini pun terbuka bagi semua umat  yang sungguh-sungguh percaya.

Apa yang dialami peserta SHDR pada waktu mengalami pencurahan Roh Kudus cukup berbeda-beda. Ada yang mengalami banyak sekali, ada pula yang sedikit. Yang satu merasakan tersentuh dalam sekali, yang lain hampir tidak mengalami apa-apa namun setidaknya mereka mengalami damai yang mendalam saja serta kasih Allah yang besar.  Selain menerima Pencurahan Roh banyak peserta yang menerima karunia Roh seperti Bahasa Roh yang merupakan karunia doa adikodrati yang melapaui gagasan dan ide manusia, bukan seperti bahasa manusia yang dapat dimengerti, tetapi yang diberikan langsung oleh Roh Kudus.  Dalam sesi Pencurahan Roh Kudus ini menurut pengamatan panitia sebagian besar mengalami pengurapan. Hal tersebut didukung dengan banyak peserta yang bersaksi di depan menceritakan apa yang mereka alami.

Menurut Bapak Benyamin Ratu untuk mendapatkan karunia Bahasa Roh adalah dengan merindukannya dan memintanya. Kita juga harus berserah pada Tuhan dan mengarahkan hati dan perhatian pada Tuhan. Selanjutnya kita juga harus membuka mulut dengan memuji Tuhan misalnya Alleluya… Alleluya… Kita harus benar benar beriman artinya kita focus terarah kepada Tuhan tidak terganggu dengan sekitar. Tidak perlu membatasi karya Roh Kudus misalnya tidak mau menangis, tidak mau jatuh,Mau didoakan tetapi tidak mau berbahasa Roh. Menghilangkan penghalang penghalang seperti perasaan tidak layak, tidak layak karena berdosa atau takut berbuat aneh maupun kuatir pribadinya akan berubah.

Namun demikian pengalaman pada saat Pencurahan Roh Kudus ini bukanlah yang terpenting, biarpun hal tersebut dapat menjadi modal yang baik untuk suatu hidup yang baru. Poin terpentingnya adalah perubahan yang dialami peserta itu dikarenakan oleh kehadiran Roh Kudus dalam dirinya secara baru. Karena kehadiran baru Roh Kudus ini, terjalinlah suatu hubungan yang baru antara peserta dengan Tuhan.  Penerimaan Pencurahan Roh Kudus ini bukan lah sesuatu yang menunjukkan kesucian seseorang namun justru sebagai awal untuk menuju kearah kesucian tersebut.  Bagi para peserta SHDR kami ucapkan selamat berkarya dalam pelayanan karena kita semua diutus !
Previous
Next Post »