BERJUMPA TUHAN, CAPEKKAH ?

Suatu ketika di sebuah personal chat ada sebuah percakapan. Ini saya copy paste dari obrolan saya di cetingan dengan seorang teman

My friend : kamu paroki mana?
Jeng : Paroki St. Mikael, Kranj..njenengan?
My friend : aku di St. Anna
Jeng : kalo misa yang jam berapa pak
My friend : aku mah jarang misa, biasanya diwakili anak istri
Jeng : kenapa? Minggu, kerja juga?
My friend : udahlah…biar gereja ga sesak
Jeng : gak sesak juga kok. Yang sesak itu malah mall je, pak
My friend : heheheh sibuk n capek
Jeng : nyari duit..gak cape..nyari Tuhan kog cape ya..
My friend : @#$!%!


Ini mungkin saja merupakan percakapan yang sangat biasa atau karena sudah
menjadi kebiasaan maka akhirnya jadi biasa-biasa saja. Dan bukan tidak
mungkin itu juga terjadi pada kita yang setiap hari dari Senin hingga
Jumat kerja keras selama 8 jam lebih hanya demi uang yang akan kita
dapat begitu angka 25 dalam tiap bulan sudah dipenghujung hari. Lalu
terbayang betapa enaknya Sabtu dan Minggu bisa istirahat di rumah.

Konon katanya Tuhan memang sudah tidak bekerja lagi dalam arti mencipta
ketika penciptaan dunia sudah terjadi. Entahlah jika Dia masih juga
bekerja setiap hari hingga kini karena Dia bertanggung jawab terhadap
ciptaanNya maka Dia bekerja untuk memeliharanya tanpa istirahat. Bahkan
Dia tidak merasa lelah menunggu kita untuk hadir menjumpainya di
mezbahNya dalam suasana yang penuh ceria penuh bakti.

Kenapa kita merasa capek pergi ke rumahNya sementara Dia tidak pernah lelah
menunggu kita di mezbahNya, di rumahNya yang kudus.

Sumber : Tulisan Bernadette Diana di OASE PENYEJUK JIWA [ Romo Yonas ]
Previous
Next Post »