TANYA JAWAB SEPUTAR RABU ABU


T: Apakah saya wajib mengikuti Misa Rabu Abu? 
J: Menurut penanggalan liturgi, pada Hari Rabu Abu kita tidak diwajibkan menghadiri Misa (sebagaimana pula sebenarnya tidak diwajibkan untuk menghadiri Misa Kamis Putih, Jumat Agung, atau Malam Paskah). Namun demikian, sebagai umat yang dewasa imannya, kiranya kita tidak lagi terpaku pada wajib atau tidaknya kita menghadiri Misa. Kita menghadiri Misa apapun karena kerinduan kita akan Allah bukan karena diwajibkan. Jadi, apabila memang tidak bisa menghadiri Misa Rabu Abu karena satu dan lain hal, maka bukan dosa berat. 


T: Saya sungguh tidak bisa menghadiri Misa Rabu Abu apakah saya masih boleh berpuasa (makan kenyang satu kali sehari) dan pantang?
J: Masih boleh dan memang malah diwajibkan seturut Kitab Hukum Kanonik (KHK) untuk berpuasa dan pantang walaupun Anda tidak menerima abu, kecuali Anda sedang sakit berat. Ada beberapa paroki yang masih membagikan abu pada hari Minggu Prapaskah I. Terimalah abu pada hari itu.

T: Saya mengajak seorang non-Katolik, menghadiri Misa Rabu Abu, apakah dia boleh menerima abu?
J: Abu yang diterima pada hari Rabu Abu merupakan sakramentali. Dan karena itu masih boleh diterima oleh non-Katolik. Jelaskan padanya bahwa menerima abu adalah lambang pertobatan, siapapun yang mau bertobat terlepas dari appaun agamanya, boleh menerima abu. (Tapi orang tersebut tetap tidak diperkenankan menerima komuni!)

T: Darimana asal abu yang saya terima?
J: Dari daun palma kering yang Anda terima pada waktu Minggu Palma tahun lalu. Biasanya ada pengumpulan daun palma kering yang kemudian dibakar, beberapa hari sebelum Hari Rabu Abu.

T: Bagaimana jika saya belum menyerahkan daun palma kering yang saya pasang di salib rumah saya?
J : Adalah sangat baik apabila salib Anda tidak dipasang daun palma lagi sebagai pengingat bahwa sekarang sedang Masa Prapaskah. Mengapa? Daun palma menyiratkan sifat rajawi Kristus (dan itu termasuk kebangkitan-Nya juga, maka dengan menyingkirkannya, Anda memfokuskan diri pada sengsara dan wafat Kristus. Dikarenakan daun palma itu adalah sakramentali, maka apabila Anda ingin memusnahkannya, Anda harus menghancurkannya sampai tidak terlihat lagi bentuk asalnya atau dibakar. Apabila Anda memilih untuk membakarnya, jangan kemudian menerakan abu itu di dahi Anda dan tidak menghadiri Misa Rabu Abu. Abu yang dibagikan dalam Misa bagaimanapun adalah abu yang sudah diberkati. Tapi, jika Anda tetap memasang daun palma kering di salib Anda, bukan sesuatu yang salah juga. 

T: Apakah abu yang saya terima di dahi saya boleh dihapus?
J: Banyak orang mempermasalahkan hal ini, dan mengaitkannya dengan kerendahan hati, agar kita tidak menunjukkan ibadah kita di depan orang, maka sebaiknya abu di dahi dihapus. Tapi apakah benar demikian? Sekali lagi, sebagai seorang Katolik yang dewasa imannya, kita harus bergerak lebih jauh daripada sekadar mempermasalahkan wajib atau tidak wajib, boleh atau dilarang. Lagipula, TIDAK ADA aturan gerejawi apapun mengenai abu di dahi. 

Dalam bacaan Kitab Suci Misa Rabu Abu akan nampak dua hal yang kontras. Bacaan dari Perjanjian Lama akan menampilkan peristiwa puasa raya, suatu bentuk puasa kolektif. Dalam hal ini tentulah tidak mungkin orang menutup-nutupi kalau ia sedang berpuasa. Namun demikian, teks Kitab Suci selanjutnya menampilkan Yesus yang seolah-olah membuat segala penampilan lahiriah ketika berpuasa adalah buruk. Tapi apakah benar demikian? Ternyata, bila dicermati, konteks Yesus ketika itu, lebih pada motivasi seseorang ketika melakukan kewajiban agamanya. 

Jadi jika Anda memilih untuk menghapusnya, pastikan Anda tidak melakukannya karena “malu kalau saya seorang Katolik”, dan jika Anda memilih untuk tidak menghapusnya pastikan bukan karena “saya ingin dilihat orang bahwa saya seorang Katolik”. Tidak menghapus abu sampai hilang sendiri karena keringat atau mandi, memang dapat memberi kita kesempatan untuk menerangkan sekilas iman Katolik pada orang yang mempertanyakan tanda abu di dahi kita.

Apapun yang Anda pilih, kiranya tidak pantas jika segera menghapus abu itu segera setelah Anda menerimanya, sebab abu yang Anda terima itu merupakan sakramentali, seperti halnya Rosario yang sudah diberkati.




Previous
Next Post »