Ziarah Iman Umat Stasi Harapan Indah ke Tanah Suci


Setelah selama dua tahun menabung melalui Koperasi Tri Tinggal akhirnya berangkatlah sejumlah umat stasi Harapan Indah pada Minggu pagi pk 05.15 tgl 1 Desember 2013. Hujan lebat di pagi hari tidak menghalangi semangat rombongan 41 peziarah termasuk Pastor Yonas sebagai pendamping, berangkat menggunakan satu bus Damri ke bandara Soekarno-Hata.

Perjalanan ziarah ini dikelola oleh agen perjalananTVD Journey dengan tour leader Bpk Theo Capriano. Ziarah selama 12 hari mencakup kunjungan ke Mesir, Israel (Yerusalem, Betlehem dan Tiberias) dan Yordania.

Hari Pertama - 1 Desember 2013
Dari Jakarta ke Bangkok transit/ bermalam di Hotel Metro Resort, Bangkok.

Hari ke-2
Dari Bangkok via Muscat (Oman) tiba di Cairo malam hari. Agen perjalanan di Mesir, Intermed, menjemput rombongan dan menghantar sampai ke penginapan di Mena House Oberai.

Hari ke-3: Mesir
City tour, dimulai mengunjungi piramid giza dan sphink yang berada tidak jauh dari lokasi hotel. Sembilan puluh persen penduduk Mesir adalah muslim, sisanya beragama kristen (protestan dan katolik), koptik, ortodoks dan yahudi.

Kunjungan ke kawasan koptik mencakup Hanging Church yang merupakan tempat ibadat penganut koptik, Abu Sirga Church dan Sinagoga. Tempat-tempat tersebut masih dipergunakan untuk beribadat oleh umat koptik, katolik dan yahudi. sampai sekarang. Perihal penyebutan katolik, koptik dan ortodoks Pastor Yonas menjelaskan bahwa pengelompokan katolik hanya ada dua, yaitu katolik yang mengikuti Ritus Roma (seperti yang kita anut) dan katolik dengan Ritus Timur (koptik, ortodoks, rusia).


 Gereja Abu Sirga didirikan untuk menghormati tempat di mana Keluarga Kudus dari Nazareth tinggal sekitar 3 tahun selama pengungsiannya di Mesir (Luk 2:13-15). Karena itu gereja ini juga dikenal sebagai Gereja Keluarga Kudus. Kami berhenti sejenak di gereja ini untuk berdoa.
Sore harinya kami mengunjungi Simon Turner Church. Gereja ortodoks yang memiliki arsitek ampi-theater berada di perbukitan cadas kapur dan memiliki diorama kisah perjanjian baru yang cantik di dinding kubah alaminya. Karena lokasinya di kawasan Makatam, tidak jauh dari lokasi pengolahan sampah maka kadang disebut sebagai "gereja sampah".

Hari ke-4: Mesir-Sinai
Pagi hari sesudah sarapan pagi rombongan peziarah melanjutkan perjalanannya menuju St. Catherine (Sinai). Sebelum meninggalkan Cairo kami singgah di kapel biara suster Francescane Elisabetinne untuk merayakan ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Yonas. Perjalanan ke St. Catherine ditempuh lebih dari 12 jam melalui jalan darat menyusuri gurun. Perjalanan menjadi lama karena beberapa kali harus berhenti untuk pemeriksaan oleh aparat keamanan. Kami sempatkan singgah sebentar di Mara selepas menyeberang terusan Suez untuk melihat sumur di lokasi di mana Nabi Musa melemparkan tongkatnya untuk mengubah air yang pahit menjadi manis (Kel 15:23). Pk 22.00 kami tiba di Morgan Land Hotel yang ada di kaki gunung Sinai. Setelah makan malam dan istirahat sejenak kami menyiapkan diri untuk pendakian.

Hari ke-5: Sinai-Israel

Pk 00.30 dalam gelap malam dan tiupan angin dingin yang menusuk tulang kami berkumpul untuk napak tilas pendakian Nabi Musa di Gunung Sinai sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (Kel 32:15, 34:1-5). Perjalanan ditempuh dalam dua tahap. Tahap pertama dari kaki gunung mengendarai unta sampai kurang lebih pertengahan gunung. Kegelapan malam, udara yang dingin dan tidak adanya pengalaman naik unta mendaki lereng curam di bawah langit yang cerah bertabur bintang merupakan pengalaman yang sangat berkesan. Setelah rehat sebentar di drop point kami melanjutkan pendakian dengan berjalan kaki. Total perjalanan sekitar dua setengah jam. Pk 04.30 kami turun dari gunung dengan berjalan kaki sambil menikmati pemandangan lembah gunung Sinai ketika fajar mulai menyingsing.


Tiba di hotel kami tidak bisa berlama-lama karena seusai membersihkan badan dan makan pagi langsung check out untuk melanjutkan perjalanan menuju Israel. Pk 12.30 tiba di Taba Land Port, perbatasan Mesir-Israel. Kami mengucapkan selamat tinggal kepada Wael, Maido dan Mark yang menjadi guide selama kunjungan di Mesir.

Proses clearance di imigrasi Israel cukup lama karena pemeriksaan yang sangat teliti. Setelah hampir satu jam seluruh rombongan akhirnya dengan selamat masuk wilayah Israel. Agen perjalanan yang baru, Thalib dari Eternity Travel, menyambut kami. Perjalanan kami di Tanah Terjanji pun dimulailah. Kota pertama di wilayah Israel yang dilewati adalah Eliat yang merupakan kota wisata pantai. Dalam perjalanan menuju Yerusalem kami singgah di lokasi Sodom dan Gomorah dan lokasi yang diperkirakan tempat di mana istri Lot menjadi tiang garam (Kej 19:26). Perjalanan hari kelima ini diakhiri dengan check in di hotel Mount David di kota Yerusalem pk 19.30.

Hari ke-6: Yerusalem
Temperatur udara sejak dari Mesir sampai Yerusalem sejuk di siang hari berkisar 20 derajat Celcius dan tentunya lebih dingin di malam hari. Kelembaban udara lebih rendah dibandingkan di Indonesia karena iklim subtropik, lebih kering sehingga badan tidak mudah berkeringat meskipun banyak melakukan aktifitas. Namun di sisi lain membuat kami lebih sering buang air kecil. Ini cukup merepotkan karena rombongan berjumlah besar sehingga makan waktu yang signifikan untuk antri di toilet.

Perbedaan mencolok antara Mesir dan Israel yang kasat mata adalah pada kebersihan lingkungan. Mesir, cenderung berdebu karena memang berada tepat di pinggir gurun, lalu lintas kendaraan yang semrawut dan lingkungan yang kumuh terutama di area kota lama. Israel lebih bersih dan rapi. Meski ada beberapa bagian dari kota Yerusalem yang juga kotor namun secara keseluruhan tidak ada sampah berceceran. Kendaraan bermotor di Mesir dan Israel berjalan di lajur kanan. Hampir tidak ada sepeda motor di Mesir dan Israel.
Sumber pendapatan negara Israel berasal dari agrikultur, pariwisata dan teknologi informasi.
Yerusalem terbagi menjadi dua wilayah: Yerusalem Timur yang berada di bawah otorita Palestina dan Yerusalem Barat yang merupakan wilayah Israel. Betlehem ada di wilayah Yerusalem Timur. Sedangkan Taman Getsemani, bukit Golgota dan makam Yesus berada di wilayah Yerusalem Barat.


Tempat pertama yang kami kunjungi di Bethlehem adalah Milk Grotto Church. Dilanjutkan ke lokasi kandang/ goa di mana Yesus dilahirkan (Luk 2: 1-7) yang saat ini sudah didirikan kompleks gereja (Grotto of Nativity). Di sini kami mengikuti perayaan ekaristi di salah satu kapel yang ada. Di kapel St. Caterine ini Pastor Yonas membawakan misa tridentin. Sesi pagi di Bethlehem sebelum break makan siang diakhiri dengan kunjungan ke padang gembala, lokasi di mana para gembala menerima kabar gembira kelahiran Sang Juru Selamat dari malaikat (Luk 2: 8-13). Di tempat ini ada visualisasi kandang tempat Yesus dilahirkan.


Selepas makan siang kami mulai mengunjungi tempat-tempat yang ada di wilayah Israel (Yerusalem Barat) yaitu Gereja Bapa Kami/ Patre Nostre. Di gereja ini kami merenungkan injil Matius 6: 5-15 dengan pendalaman dari Pastor. Selanjutnya ke bukit zaitun yang tidak jauh dari Patre Nostre kami mengunjungi tempat di mana Yesus diangkat ke surga yang saat ini merupakan kompleks masjid. Kemudian ke Dominus Flavit (Mat 23: 32-39), Taman Getsemani (Mat 24: 36-46) yang berada dalam satu kawasan dan di mana umat ortodoks mendirikan Gereja Maria Magdalena. Napak tilas di hari ke-6 diakhiri dengan kunjungan ke Gereja Peter Callicantu atau kadang disebut Gereja Ayam karena di tempat itu Petrus menyangkal sebanyak 3 kali sebelum ayam berkokok (Mat 26: 69-75). Gereja ini ada di lokasi di mana istana imam agung Kayafas (Yoh 18: 24) berdiri dan tempat di mana Yesus ditahan. Saat itulah kami dapat lebih memahami penderitaan Yesus.

Hari ke-7: Via Dolorosa
Mengawali renungan penderitaan Yesus memanggul salib (Via Dolorosa) kami berkunjung ke gereja St. Ana, tempat Bunda Maria dilahirkan dan kolam Bethesda, tempat Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh (Yoh 5: 1-9).
Perhentian I di lokasi di mana Pontius Pilatus menjatuhkan hukuman mati. Perhentian (stasi) II sampai dengan IX melalui jalan/ lorong yang saat ini dipenuhi dengan pedagang (pasar). Perhentian X sampai XIV kami lakukan di halaman belakang kompleks makam Yesus (Holy Sepulchre) karena stasi tsb saat ini  berada dalam bangunan/ gereja sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan jalan salib.

Di dalam kompleks Holy Sepulchre ini kami berdoa di lokasi tempat Yesus disalibkan, Bukit Golgota, yang saat ini relatif rata, tempat jenasah Yesus dibersihkan, diurapi dan dimakamkan. Kami beruntung karena dapat merayakan ekaristi di salah satu kapel yang ada kompleks makam Yesus. Dalam homilinya Pastor menyampaikan bahwa setiap orang memiliki dan memanggul salibnya masing-masing. Hendaknya kita meneladan Yesus yang selalu bangkit saat terjatuh dan menyelesaikan tugasnya. Mengakhiri sesi pagi kami mampir di Tembok Ratapan yang merupakan sepenggal dari tembok bagian barat (western wall) Bait Allah umat Yahudi yang tersisa sampai saat ini.
Sesi siang harinya kami mengunjungi Bukit Pencobaan dan kota Yerikho (Mat 4: 1). Kota Yerikho adalah kota tertua dan letaknya lebih rendah dari permukaan laut mati. Udaranya lebih panas di bandingkan Yerusalem, bahkan sedemikian panasnya sehingga pada musim panas ditinggalkan oleh sebagian besar penduduknya.
Sorenya kami kembali ke Yerusalrm dan singgah di Domition Abbey di Bukit Zion tempat di mana Bunda Maria diangkat ke surga atau juga dikenal sebagai tempat Bunda Maria tidur/ beristirahat. Ada dua tempat lain yang diyakini sebagai tempat di mana Bunda Maria diangkat ke surga. Penganut ortodoks dan armenia meyakini tempat tersebut ada di lembah Kidron. Dan ada pula yang meyakini tempat itu ada di Suriah/ Efesus karena dalam kitab suci dikatakan bahwa Maria mengikuti Petrus dan para murid Yesus.  Perjalanan sore hari ke-7 diakhiri dengan kunjungan ke makam Raja Daud. Tempat ini merupakan tempat ibadat umat Yahudi. Karena kami tiba pada hari Sabtu sore maka kami dapat melihat beberapa umat Yahudi yang sedang menjalankan ibadat penutup Sabat.
Malam kedua dan ketiga di Yerusalem ini kami menginap di tempat yang sama, Mount David Hotel.

Hari ke-8: Ein Kareem & Nazareth
Pagi-pagi sekali kami check out. Sesudah makan pagi, pk 0700 kami sudah melanjutkan perjalanan menuju ke Nazareth. Dalam perjalanan kami singgah di Ein Kareem untuk mengunjungi gereja yang didirikan di tempat di mana Maria mengunjungi Elizabeth (Luk 1: 39-45), dan tempat tinggal musim dingin Sakaria.  Dalam pendalaman, Pastor menyampaikan penjelasan mengenai doa Salam Maria yang alkitabiah sekaligus mengandung tradisi gereja Katolik sebagai penghormatan kepada Bunda Maria sebagai bunda Yesus dan bukan merupakan penyembahan.

Melanjutkan peziarahan, kami menuju ke Gereja Stela Maris yang berada tidak jauh dari kota Haifa. Haifa merupakan kota besar ketiga di Israel dan merupakan pelabuhan. Haifa artinya "cantik" dan memang pemandangan pesisir dan taman kotanya (Bahai Temple) sangat indah. Gereja Stela Maris terletak diperbukitan karmel dan dikelola oleh biara karmelit. Di daerah inilah Nabi Elia mengalahkan nabi palsu/ baal (1Raj 18:40, 19:1).

Kami tidak lama singgah di gereja ini karena harus melanjutkan perjalanan ke Nazareth. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Gereja Kabar Gembira yang didirikan di tempat/ rumah Bunda Maria saat menerima Kabar Gembira dari malaikat Gabriel. Tidak jauh dari Gereja Kabar Gembira terletak Gereja St. Yoseph yang didirikan di tempat/ rumah St. Yoseph yang juga rumah Keluarga Kudus, tempat Yesus tinggal bersama kedua orangtuanya sampai dengan usia 12 tahun.
Tempat terakhir yang kami kunjungi di hari ke-8 adalah Gereja Kana. Di gereja ini kami merayakan misa sekaligus peneguhan perkawinan 14 pasang suami-istri yang peserta ziarah. Dalam homilinya Pastor menyampaikan mujizat pertama Yesus yang dilakukan dalam Pesta Kana adalah mujizat keluarga. Karena itu penting bagi setiap pasangan untuk selalu menghadirkan Yesus dalam keluarga sebagai sumber keselamatan.
Dari Nazareth kami melanjutkan perjalanan ke penginapan The Club Tiberias yang berada di tepi danau Galilea untuk istirahat.

Hari ke-9: Gunung Tabor & Tiberias
Terletak di sebelah selatan danau Galilea dan berada pada ketinggian 550m di atas permukaan laut. Gunung Tabor adalah tempat Yesus menampakkan kemulian-Nya, para murid-Nya melihat wajah dan pakaian Yesus berkilau dan menyaksikan Yesus berbicara dengan Nabi Musa dan Nabi Elia (Luk 9:28-36). Dan memang seperti Petrus dan teman-temannya merasa sangat bahagia di tempat itu, kami pun merasa sangat bahagia bisa berkunjung ke Gunung Tabor, meski perjalanan mendaki anak tangga cukup meletihkan. Dalam homili saat perayaan ekaristi di  Gereja di Gunung Tabor tersebut pastor menyampaikan Gunung Tabor menjadi lambang kemuliaan dan kebahagiaan namum juga menjadi tanda bahwa akan ada perjuangan yaitu sesudah Yesus turun dan menggenapi karya keselamatan dengan penderitaan dan wafat di salib. Dengan demikian kita untuk mengingat kembali “saat-saat di Gunung Tabor kita” sebagai penyemangat kita dalam menjalani kehidupan dan menempuh saat-saat sulit.

Melanjutkan perjalanan kami, Yardenit adalah tujuan berikutnya. Di lokasi yang merupakan tepian sungai Yordan ini kami melakukan pembaharuan janji baptis. Dalam renungan kisah pembaptisan Yesus di sungai Yordan oleh Yohanes, Pastor menjelaskan perbedaan baptis yang diterima oleh para pengikut Yohanes saat itu adalah baptis pentobatan, sama seperti baptis yang kita terima. Sedangkan baptis Yesus merupakan tanda awal penampilan dan karya di hadapan umum dan menunjukkan identitas-Nya sebagai Anak Allah, sang Mesias. Dalam perjalan di bus kami banyak diskusi dengan Pastor seputar Sakramen Baptis (forma dan materi, baptis bersyarat dll).

Danau Galilea, atau juga disebut Tiberias, atau Tabarih, atau Genesaret, merupakan sumber utama air untuk Israel, Palestine dan Yordania. Danau yang membentang sepanjang 22km lebar 8km ini berada di ketinggian 122m di atas permukaan laut. Sumber airnya adalah dari air hujan yang turun saat musim dingin. Kami berhenti di dermaga yang ada di kota Tiberias untuk naik perahu/ kapal dan berlayar di danau. Cuaca cerah dan pemandangan sangat indah.
Makan siang kami di St. Peter restaurant dengan menu utama “ikan petrus”. Kami membuat perayaan sederhana untuk Pak Eko yang merayakan hari ulang tahun dan Pak Willy-Ibu Linawati yang merayakan ulan tahun perkawinannya.

Perjalanan berlanjut ke Kapernaum. Kapernaum menjadi tempat pelayananYesus. Banyak tanda heran diadakan di kota ini. Yesus memilih Kapernaum bisa jadi karena saat itu merupakan tempat perlintasan orang dari Mesopotamia dan Mesir, kota perdagangan dan pelabuhan. 80% aktivitas Yesus dalam 3 tahun terakhir hidupnya dilakukan di kota ini sehingga Kapernaum juga disebut sebagai “Town of Jesus”. Kami melihat sinagoga di mana Yesus mengajar dan berdebat dengan para ahli Taurat yang berada tidak jauh dari rumah mertua Petrus. Lokasi itu juga tidak jauh dari tempat di mana Yesus memanggil Petrus saat menjala ikan.

Selanjutnya kami menuju Tabhga, tempat di mana Yesus mengajar dan menggandakan roti dan ikan untuk memberi makan lebih dari 5000 orang. Gereja Tabhga merupakan gereja koptik, banyak ornament mosaic dan dekorasi berciri Mesir. Tempat di mana Gereja Tabhga berdiri juga disebut Heptapegon atau “tujuh mata air” yang airnya mengaliri danau Galilea.

Masih di seputar Tiberias, kami menuju tempat di mana Yesus sesudah bangkit menampakkan dirinya kepada Petrus yang sedang menjala ikan (Mrk. 1:14-20). Di situ juga didirikan gereja, Church of the Primacy of Peter. Sekali lagi Pastor juga memberikan penjelasan/ eksegese jala dan 153 ekor ikan adalah lambang gereja yang menghimpun segenap umat dari segala bangsa untuk menjadi murid Kristus.

Tempat terakhir yang kami kunjungi pada hari kesembilan adalah Bukit Sabda Bahagia. Gereja dan area bukit Sabda Bahagia dikelola oleh para suster Fransiskan. Selain gereja juga ada biara dan taman yang sangat asri. Kembali Pastor mengupas perikop Mat 5:3-12 tentang 8 sabda bahagia yang merupakan dasar ajaran Kristus. Gereja yang dibangun tahun 1938 dengan arsitektur dari Antonio Barluzzi unik karena berbentuk oktagonal (memiliki 8 sisi).


Hari ke-10: Gunung Nebo
Pukul 7 di pagi hari sesudah sarapan kami check out dari The Club untuk melanjutkan perjalanan ke Yordania melalui Jordan Valley Border. Tidak lama kami sudah masuk Amman, ibu kota Yordania. Yordania adalah Negara Islam yang relative moderat, memiliki 8 juta penduduk, hanya 7% di antaranya yang beragama Kristen, merupakan kerajaan dengan pemimpinnya King Abdullah II menggantikan ayahnya, King Hussein dari dinasti Hashemite. Meski tidak “sehijau” Israel namun pertanian sayur-mayur yang banyak ditanam di Jordan Valley adalah salah satu pendapatan utama Yordania.

Kami langsung mengarah ke Gunung Nebo (Siyagha) untuk mengunjungi tempat di mana Nabi Musa dan Harun diperlihatkan dari kejauhan Israel. Kami merayakan misa di salah satu kapel yang ada di area gereja yang saat ini sedang direstorasi. Temperatur di Gunung Nebo cukup dingin, di siang/ sore mencapai 18derajat dan angin cukup kencang karena lokasi ada di ketinggian 700m.


Sisa perjalanan siang sampai sore hari kami adalah untuk melanjutkan perjalanan ke Panorama Hotel untuk bermalam di Petra.

Hari ke-11: Petra, Jordan-Bangkok via Muscat

Mengakhiri ziarah iman kami singgah di Petra, salah satu keajaiban dunia. Udara 10 derajat yang membekukan sepanjang lebih dari 2.5km jalan kaki sepadan dengan pemandangan landscape bebatuan dan tentunya arsitektur spektakuler dari  bangunan yang memiliki facade lebar 30m dan tinggi 40m yang dipahat dari batu cadas utuh. Gerimis mulai turun ketika kami kembali.

Perjalanan pulang ke tanah air dari Jordan melalui Oman/ Muscat dan Bangkok. Bertolak dari Queen Aila International airport di Amman pk 1750. Diwarnai suasana yang cukup heboh karena beberapa peserta yang over weight bagasi sehingga perlu packing ulang. Transfer penerbangan di Muscat pk 00.25 waktu setempat menuju Bangkok.

Hari ke-12: Bangkok-Jakarta
Tiba di Bangkok pk 1030. Waktu di Bangkok 4 jam lebih cepat. Akhirnya dengan penerbangan Garuda dari Bangkok pk 1340 kami semua tiba dengan selamat di bandara Soekarno-Hatta pk 1745. Bus Damri kembali menghantar kami ke Harapan Indah - Home Sweet Home.

(Dilaporkan oleh Antonius Arif)




Kesan-kesan..........................

Bpk. Petrus Urspon & Ibu Dhita:
Dengan berziarah kami akhirnya mengetahui langsung dari situs di mana kisah yang ada dalam Kitab Suci berlangsung. Kami juga makin terbuka dengan adanya keragaman agama di luar agama Katolik yang juga menghayati kisah dan tempat-tempat yang sama. Kebersamaan sebagai satu keluarga dari kelompok peziarah ini sangat berarti bagi kami.
Kesan khusus yang saya alami saat mengunjungi tempat tinggal Maria dan Yoseph di Nazareth, khususnya visualisasi St. Yoseph saat bergelut dengan situasi untuk menerima Maria sebagai istrinya dan bagaimana St. Yoseph menyediakan tempat tinggal untuk keluarga sekaligus tempat kerjanya.

Bpk. Williamto & Ibu Linawati:
Kami sudah pernah mengikuti ziarah seperti ini sebelumnya. Dengan kunjungan yang kedua ini kami lebih mendalami dan menghayati penjelasan atas kisah dan tempat-tempat suci yang disampaikan oleh pastor pembimbing semoga memperdalam iman kami. Ziarah seperti ini sangat bermanfaat untuk memberikan gambaran ketika kita mempelajari kisah yang ada dalam Kitab Suci. Kami juga merasakan kebersamaan sebagai keluarga dalam kelompok peziarah dari stasi ini yang mana sebelumnya ada beberapa tidak kami kenal.

Bpk. Albertus Simamora & Ibu Vera:
Kami semakin dapat menghayati dan memahami kisah yang ada di Kitab Suci melalui napak tilas tempat-tempat dan melihat aspek budaya di mana kisah tersebut berlangsung. Kami juga bangga sebagai umat Katolik karena banyak tempat dikelola dan dipelihara oleh komunitas Fransiskan sehingga banyak umat dapat memiliki kesempatan untuk mengunjungi dan berziarah.
Saat yang sangat berkesan untuk kami adalah saat perayaan ekaristi di Kana. Kami merasakan sungguh merupakan hadiah terindah atas 20 tahun pernikahan kami.

Ibu PCS Rosita:
Secara umum penyelenggaraan ziarah cukup bagus. Perjalanan dalam mengikuti kisah pelayanan Yesus jadi lebih terbayang. Saran agar tempat yang tidak terlalu relevan misalnya Mesir bisa dikurangi sehingga lebih banyak waktu untuk merenungi sabda Tuhan di tempat yang lebih penting. Tempat yang paling berkesan gereja 8 sabda bahagia karena tempatnya sangat indah.





Bpk Sebastianus Partyanto:
Perjalanan ziarah ini sangat berarti bagi saya, karna yg selama ini hanya ada dalam mimpi dan angan2 saya untuk bisa sampai ke tanah terjanji. Setiap tempat yg kita kunjungi, dan sangat religi, mengingatkan kita akan kehidupan, keengsaraan dan wafat Yesus dapat kita rasakan, dan dapat meningkatkan kita untuk lebih ingin tau lebih jauh lagi mengenai kitab Suci. Semoga.
Kesan; sangat berkesan sekali, walaupun baru pertama kali trip ke Yerusalem, kenangan yg tak terlupakan, karna akan membimbing dalam perjalanan hidup kita kedepan



Previous
Next Post »