“BEKERJA UNTUK HIDUP KEKAL”

Renungan  Hari Minggu Biasa XIX 2 Agustus 2015

“BEKERJA UNTUK HIDUP KEKAL”
(Yoh 6:27)

Suatu pagi, tatkala orang sibuk bekerja, perumahan tampak sepi. Seorang anak kecil sedang bermain sendiri di teras rumah. Seorang tamu mendatanginya dan bertanya, “Papa mana, Dik?” Si Kecil menjawab, “Papa pelgi kelja cali duit buat adek”. Jawaban si kecil menampakkan ajaran para orangtua pada umumnya. 

Orang pada umumnya memberi alasan bekerja keras: “demi keluarga” atau “demi anak-anak”. Orangtua bekerja keras sering kali tidak memerhitungkan apakah dirinya akan menikmati hasil kerjanya atau tidak karena semua hasil kerja (upah/gaji) diserahkan kepada isteri untuk memenuhi segala kebutuhan anggota keluarga. Tidak jarang orang sibuk mencari tambahan di luar pekerjaan pokoknya, karena penghasilan utama tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga karena kebutuhan keluarga meningkat atau demi peningkatan kesejahteraan.

Yesus menggariskan agar para murid tidak berhenti pada mengejar materi semata. Para murid dituntut untuk maju lebih jauh: menggapai hidup abadi. “Bekerjalah untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal”, begitu Yesus ajarkan.

Tatkala mengingat kesibukan para murid Tuhan dewasa ini, rasanya nilai-nilai yang terpancar dari kasih sayang (mulai) tampak kabur. Orang larut dalam pekerjaan dengan alasan “demi keluarga” atau “demi anak-anak”. Tatkala digugat waktu lebih untuk pasangan (suami/isteri) atau anak-anak, orang lainlah (pasangan atau anak-anak) yang dituntut untuk mengerti/memahami dan menerima kenyataan kesibukan dirinya.

Tuntutan Yesus seharusnya dipahami betul dalam konteks hidup seperti itu. Tatkala karir meningkat, (seharusnya) meningkat pula kasih sayang antar-anggota keluarga. Tatkala kesejahteraan material meningkat, (seharusnya) meningkat pula kebahagiaan atau keceriaan keluarga. Bekerja untuk hidup kekal terpancar tatkala kebahagiaan atau keceriaan seluruh anggota keluarga semakin terpancar; tatkala kasih sayang antar-anggota keluarga semakin merekat kuat; meski dalam keterbatasan atau kesederhanaan hidup! Semoga dengan demikian meningkat pula kesadaran akan rahmat yang membuat para murid Tuhan tidak mengejar dan berhenti pada materi, tetapi sungguh pada tujuan akhir: hidup kekal!

By Slamet Harnoto
Previous
Next Post »

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah ConversionConversion EmoticonEmoticon