Jurnal 13 Days Fatima - Lourdes - Holydoor Bagian 1

Bagian I 

Hari ke-1/ 10 Okt:
Setelah merencanakan dan mengikuti program ziarah (Prozitas) Kopdit Tritunggal Paroki Harapan Indah akhirnya tibalah saat keberangkatan. Rombongan terdiri dari 42 peserta - kebanyakan umat Paroki Harapan Indah - pastor pembimbing rohani dan tour guide. Mengawali peziarahan, peserta mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Senin 10 Oktober 2016 pk 16.00 di Gereja St. Albertus bersama dengan Romo Kesar. 

Usai misa perjalanan rombongan ke Bandara Soekarno-Hatta menggunakan bus (Bee Buzz). Bertolak pk 00.40 dari Indonesia, penerbangan ke Lisbon, Portugal, transit Dubai, menggunakan Emirates Airline ditempuh selama 15 jam. 

Hari ke-2/ 11 Okt:
Tiba di Lisbon pk 12.35 waktu setempat. Ada beda 6 jam (lebih lambat) dari WIB. Lisbon adalah gerbang masuk peziarahan kami di Eropa. Lisbon adalah kota kelahiran Santo Antonius Padua. Dari Lisbon kami menggunakan long distance coach bus yang mengantar selama perjalanan darat di Eropa. Di Lisbon kami menyempatkan untuk mengikuti city tour mengunjungi 25 April Bridge, Belem Tower dan Discovery Monument yg sayangnya sedang dalam renovasi. 


Melanjutkan perjalanan kami, tiba di kota Fatima menjelang makan malam. Hotel tempat kami menginap, Hotel Santa Maria hanya berjarak 10 menit berjalan kaki ke Basilica of Our Lady of F├ítima. Seusai check-in dan makan malam kami sempatkan untuk orientasi tempat di basilika. Cuaca dingin dan gerimis. Kami mengunjungi Kapel Penampakan yg dibangun tepat di sebelah pohon Ek tempat di mana Bunda Maria menampakkan diri pertama kalinya kepada tiga anak desa Fatima: Lucia, Francisco dan Jacinta tanggal 13 Mei 1917. Kami juga mengunjungi monumen berupa potongan Tembok Berlin. 

Hari ke-3/ 12 Okt:
Misa pagi dibawakan oleh Romo di Kapel Signora Dores yg ada di dalam lokasi Sancturium di Basilika pk 06.45. Dalam homilinya, Romo menjelaskan bahwa Allah menyampaikan wahyuNya. Wahyu ada yang sifatnya umum, yang tertulis dalam Kitab Suci. Dan ada yg sifatnya pribadi, yg disampaikan Allah melalui peristiwa iman seperti yang dialami oleh ketiga anak di Fatima dan juga kepada kita semua. Keinginan Allah adalah agar umatNya menanggapi wahyuNya, baik yang bersifat umum maupun pribadi, sebagai perwujudan iman kita. 

Seusai makan pagi kami mengikuti ibadat Jalan Salib di Calvari Hungaro yang tidak jauh dari Sanctuarium. Dua tempat istimewa yang dilewati adalah Valinhos yang juga merupakan tempat penampakan Bunda Maria, dan Loca d'Anjo tempat di mana malaikat memberikan komuni kepada tiga anak setahun sebelum penampakan pertama Bunda Maria. Kami bertemu rombongan lain dari Indonesia dan kami melakukan foto grup di bukit seusai jalan salib. Setelah jalan salib kami mengunjungi rumah tempat tinggal Lucia (Casa da vidente Lucia). 

Sore harinya beberapa dari peziarah grup kami berdoa Rosario sambil berlutut yg merupakan ciri khas Rosario Fatima. Jalur Rosario ini memanjang dari hampir ujung lapangan basilika sampai di depan Kapel Penampakan. Sebagian besar peserta menggunakan deker/ pelindung lutut, namun ada juga yang tidak menggunakan deker termasuk Romo dan ternyata sanggup menyelesaikan Rosario. Proficiat! 

Setelah istirahat dan makan malam, pk 20.30 kami menuju Basilika lagi untuk mengikuti malam peringatan penampakan Bunda Maria yang terakhir/di bulan Oktober 100 tahun yang lalu. Udara dingin tidak menghalangi sekitar 200 ribu peziarah dari segenap penjuru dunia yg berkumpul di basilika melakukan Rosario malam itu. Pk 21.30 dimulai doa Rosario bersama di lapangan. Usai doa rosario perarakan patung Bunda Maria dimulai dari Kapel Penampakan mengelilingi basilika diikuti oleh sekitar 30 Uskup dan tidak kurang dari 200 para imam, termasuk Romo pembimbing juga turut serta dalam prosesi. Suasana di basilika malam itu sungguh luar biasa. Lapangan penuh peziarah bagai lautan lilin. Doa Salam Maria dilantunkan dalam berbagai bahasa. Susana sangat khusuk. Usai prosesi sebagian peziarah meninggalkan basilika dengan tertib dalam suasana hening. Prosesi ditutup dengan perayaan Ekaristi menjelang tengah malam. 

Hari ke-4/ 13 Okt:
Pagi hari, sebelum sarapan kami merayakan misa di kapel hotel. Dalam homilinya Romo menyampaikan bahwa pengalaman iman sering kali dimulai dengan suatu kekaguman dan kegembiraan rohani. Seperti halnya pengalaman hari sebelumnya, kegembiraan karena menyelsaikan Rosario berlutut, atau kekaguman atas keagungan prosesi lilin. Namun agar tidak hanya berhenti sebatas kekaguman, kendaknya kita semua mengalaminya sebagai suatu awal pengalaman iman. 

Pagi itu kami meninggalkan Portugal menuju Spanyol. Selamat tinggal Fatima, kami tidak akan melupakanmu. Hari ini kami singgah di Salamanca untuk santap siang. Dalam perjalanan di bus Romo menjelaskan perbedaan antara ziarah di Tanah Suci/ Yerusalem dengan ziarah di tempat-tempat kudus di Eropa. Tempat ziarah di Tanah Suci adalah tempat-tempat yang dikisahkan dalam Kitab Suci, sedangkan di Eropa adalah tempat dalam konteks tradisi dan pengajaran Gereja Katolik. 

Salamanca, sering disebut Kota Merah atau Kota Pelajar. Kami mengunjungi Katedral Salamanca yang terletak di area kota tua Salamanca. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan bermalam di Valladolid, kota kecil di negara Spanyol sebagai tempat transit. 

(Bersambung ke Bagian II) 

Oleh Maria & Arif 

Previous
Next Post »

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah ConversionConversion EmoticonEmoticon