Misa Syukur Imlek 2017 Meriah Sekali

Seiring dengan Hari Raya Imlek sebagai perayaan tahun baru China, di Gereja St. Albertus Agung diselenggarakan Misa Syukur Imlek. Tepatnya pada hari sabtu tangal 28 Januari 2017 jam 07.00 WIB Romo Y. Kesaryanto,Pr dan Romo A. Pramono Wahyu Nugroho,Pr membawakan misa Syukur Imlek.

Nuansa warna merah mendominasi suasana di dalam gereja. Warna merah yang melambangkan kegembiraan semakin melengkapi suasana hati dalam perayaan misa syukur kali ini. Komentator memberikan informasi awal seperti biasa hanya saja kali ini menggunakan Bahasa Mandarin dilengkapi dengan terjemahannya sehingga semua umat tanpa terkecuali memahami apa yang disampaikan.


Secara garis besar misa syukur yang bertepatan dengan perayaan Santo Thomas Aquino ini berjalan lancar dan meriah. Lagu-lagu pujian yang dibawakan petugas koor oleh tim OMK Paroki Harapan Indah semakin membawa suasana suka cita. Duo Romo dibantu 8 misdinar serta 6 prodiakon serta beberapa petugas lainnya yang berasal dari alumni KEP, WKRI dan kategorial yang lain membuat misa syukur ini begitu baik.


Romo Pramono dalam homilinya menjelaskan latar belakang seputar Imlek dengan berbagai asesorisnya. Semua itu kita sinergikan dengan iman Katolik sehingga semuanya menjadi baik. Romo Kesaryanto juga berkempatan menambahkan pesan dalam homili ini bahwa dalam seputar perayaan Imlek banyak sekali ramalan-ramalan akan tahun 2017 sehingga hendaknya kita sebagai umat yang punya iman Katolik jangan terpengaruh karena semua kita kembalikan dengan iman kita, ada hal yang bisa kita terima dan ada hal yang tidak bisa kita terima mentah-mentah. Kita tidak boleh takut akan ramalan-ramalan yang ada, sesuai dengan bacaa pertama (Ibrani 11 :1-2, 8-19) dimana Abraham dengan penuh iman mencari tanah terjanji dan bahkan rela berkorban walau yang harus dikorbankan adalah anaknya sendiri. Namun karena Abraham penuh iman dan tidak takut maka semuanya berakhir dengan baik. Jadi yang perlu kita digarisbawahi bahwa Katolik terbuka dengan akulturasi budaya namun yang tertinggi tetap ajaran iman Katolik.


Salah satu hal yang membuat misa syukur ini berbeda dengan biasanya adalah pada saat persembahan tita-tiba terdengar bunyi lonceng yang dilanjutkan dengan alunan lagu persembahan. Nampak terlihat 6 anak-anak menari memegang kipas merah mengantarkan petugas pembawa persembahan menuju altar.


Misa pun diakhiri dengan berkat penutup dan umat tetap dimohon untuk tidak meninggalkan tempat karena ada kejutan dari duo Romo. Romo Kesaryanto memainkan biola dan Romo Pramono menyanyi, sebuah peristiwa langka yang membuat umat terpana dan memberikan tepuk tangan suka cita. Setelah Duo Romo mempersembahkan atraksi Romo pun membagikan jeruk kepada umat sambil umat memberikan angpau untuk pembangunan komplek gereja. 

Acara belum usai sampai disini saja karena di halaman gereja sudah menunggu atraksi Wushu yang dipersembahkan oleh beberapa umat Paroki Harapan Indah. Sambil menikmati atraksi Wushu kami sempat berbincang dengan beberapa umat mengenai seputar misa syukur Imlek ini. Pak Sigit dari lingkungan Aloysius 1 mengatakan bahwa beliau sudah beberapa kali mengikuti misa syukur Imlek namun kali ini agak lain dari biasanya. Kali ini Romo lebih berpartisipasi dengan ikut main biola dan menyanyi sehingga budaya Imlek terlihat semakin diterima dengan tetap dilandaskan dengan iman Katolik. Hal ini semakin membuat Katolik semakin kaya. Beliau juga berharap dalam kesempatan mendatang sebaiknya lebih diperluas sosialisasinya sehingga umat lebih mengerti kan adanya akulturasi budaya ini.


Ibu Murfati sebagai warga Negara keturunan Tionghoa dan sebagai umat lingkungan Arcadius 4 juga berharap kedepan lebih meriah lagi dan diadakan sosialisasi jauh hari sebelum hari H secara bertahap agar semakin banyak umat yang mengerti. Sebaiknya panitia juga lebih banyak diisi dengan warga Negara keturunan Tionghoa yang mengerti betul akan Imlek sehingga dalam membawakan lebih baik lagi seperti dalam menyanyikan lagi dengan Bahasa mandarin dan lain sebagainya.


Salah satu suster dari KYM yang berasal dari Sumatera Utara yaitu Suster Rosalia juga sempat memberikan pandangannya akan misa syukur Imlek ini. Beliau merasa senang dan menikmati dan mengalami kegembiraan melalui akulturasi budaya lain. Apa yang baik kita terima dan yang kurang baik kita kritisi. Gereja Katolik memang kaya akan budaya dan semua diperbaharui dalam Roh Kudus. Semua berbagi kegembiraan melalui budaya dan bisa saling mengambil pelajaran yang baik dari setiap budaya lain. 




Banyak diantara umat yang belum berminat mengikuti misa syukur Imlek ini karena menganggap ini bukan budaya mereka. Menurut Suster Rosa pribadi beliau lebih memandang dari kacamata iman dan turut serta merasakan kegembiraan. Kedepan sosialisasi memang sangat dibutuhkan agar umat semakin mengerti dan semakin banyak umat yang ikut hadir ambil bagian dalam salah satu kegiatan dalam Gereja. Selamat merayakan Tahun Baru Imlek semoga Tuhan selalu beserta kita.

By Hery WW | Photo by Donny & Sigit ALTO



Previous
Next Post »

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah ConversionConversion EmoticonEmoticon