Pelayanan Pemimpin

5 November 2017                                                                                                                      HARI MINGGU BIASA XXXI
                                                                                                                                   
Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat 23:11)

Pelayanan Pemimpin

Ada dua hal yang saya tawarkan sebagai permenungan pada minggu biasa 31 ini. Pertama, hendaklah setiap umat beriman menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Kedua, ada keseimbangan antara kata dan karya.



Dalam hidup pribadi, sering dikenali sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk. Segala sifat itu menampakkan diri dalam keinginan-keinginan yang ada dalam diri. Sering kali dijumpai tanpa disadari sifat atau keinginan mewujud dalam tindakan. Satu hal yang penting diperhatikan adalah mengendalikan segala sifat dan keinginan negatif dengan arah tujuan sebagaimana hidup beriman sebagai ukuran dengan menyesuaikan kondisi hidup konkret. Sebagai contoh adalah keinginan untuk menjadi pelayan yang baik bagi jemaat. Keinginan ini tampak misalkan pada seorang bapak prodiakon. Dengan mengiyakan setiap pelayanan, ia berharap sungguh menjadi seorang pelayan yang baik bagi jemaat. Apakah kondisi hidup konkret memungkinkannya? Bukankah ia masih harus memikirkan ekonomi keluarga? Bukankah ia masih harus memerhatian istri dan anak-anaknya?

Kesuksesan di lingkaran sosial sering kali tidak diimbangi dengan kesuksesan dalam keluarga. Hubungan dan komunikasi tampak rusak antara suami dan isteri, antara orangtua dan anak-anak, tatkala sukses menjadi pelayan bagi jemaat. Bukankah keharmonisan dalam keluarga seharusnya diprioritaskan? Bagaimana melayani dalam lingkaran sosial dengan tetap memerhatikan lingkaran intim keluarga?


Pelayanan seorang pemimpin seharusnya memerhatikan keseimbangan antara kata dan karya sebagaimana nampak nyata dalam hidup Yesus. Kata-kata menjelaskan, mewartakan, dan memertegas karya yang dijalankan. Jangan sampai terjadi ketidakseimbangan antara kata dan karya dimana kata melampaui karya, atau cuma bisa omong doang. Kehidupan para Farisi merupakan contoh dari hal ini. Bagaimana dengan kehidupan kita?

by Slamet Harnoto
Previous
Next Post »

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah ConversionConversion EmoticonEmoticon