Melayani dengan Tulus


Waktu ditanya, “Sudahkah kamu melayani?” Ada yang dengan bangga menjawab “Sudah! Saya ikut dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi-organisasi di tempat saya berada, di kampus, di gereja, di rumah juga, ikut kegiatan tanggap banjir di RT/RW”. Sementara itu teman-teman lain yang belum aktif menjawab “Belum”. Belum bisa, belum terpanggil, belum sempat, belum mau, dan berbagai macam belum-belum lainnya muncul sebagai alasan. Sebenarnya, apakah mereka yang ikut dalam berbagai kegiatan dan aksi sosial sudah benar-benar melayani? Dan apakah mereka yang bilang belum terpanggil benar-benar tidak pernah tergerak hatinya untuk melayani?
Tahun ini Jessica terpilih menjadi ketua organisasi di kampusnya. Berbagai kegiatan telah direncanakan dalam program kerja, mulai dari pelatihan, kegiatan edukasi, sampai kunjungan sosial untuk membantu mereka yang kurang mampu. Visi-misinya adalah untuk mengembangkan organisasi agar mampu membawa nama baik universitas dan membangun suatu organisasi yang solid dalam bekerjasama, juga membantu sesama mahasiswa untuk mencapai prestasi. Tapi seiring berjalannya waktu, ada tantangan yang harus ia hadapi. Ketika itu terjadi perdebatan karena perbedaan tujuan dan pandangan Jessica mengenai suatu hal dengan teman sesama anggota di organisasi, tapi ia merasa memiliki hak untuk menentukan keputusan sesuai kehendaknya. Tanpa mempertimbangkan lebih lanjut pendapat temannya, Jessica membuat keputusannya sendiri.

Benarkah Jessica sudah sungguh melayani??
Sikap Jessica dalam menghadapi perbedaan pendapat yang tidak bisa ia terima menandakan bahwa ia belum melayani dengan hati. Jessica sungguh sudah memiliki niat untuk melayani, tapi hanya sekedar melayani. Ketika ada orang lain yang menghalanginya untuk menjalankan ide-ide dan tujuannya dalam organisasi, ia pun merasa dihambat dan akhirnya mengeluhkan keadaan itu.

Apa yang selama ini sudah kita jalani? Teman-teman yang ikut bergabung dalam organisasi (KMK, BEMF, OMK, Karang Taruna, dsb), apakah sudah melayani dengan hati yang tulus?? Ketika ada perbedaan pola pikir, bagaimana kita menghadapinya?? Berusaha menyamakan tujuan meski dengan cara yang berbeda, atau menghindar dari ketidaksamaan itu??
Kita sebagai Orang Muda Katolik diajarkan “Bekerja Untuk Tuhan”, BUKAN HANYA “Bekerja di Ladang Tuhan”. Ketika kita bekerja di ladang Tuhan hanya dengan niat melayani, tanpa belajar untuk memahami perbedaan yang pasti akan selalu ada dan menantang hati nurani, kita sesungguhnya belum sungguh bekerja untuk Tuhan. Rasul Paulus mengatakan, “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” (Rm 12 : 16).

Ketika kita mulai mengarahkan pelayanan kita dengan tujuan yang baik, yaitu untuk kemuliaan Tuhan dan bukan hanya untuk kebanggan diri sendiri, Tuhan pun akan memberikan kesempatan yang lebih baik untuk kita mengembangkan diri. Jabatan dan kemampuan (talenta) lebih yang Tuhan berikan adalah kesempatan baik bagi kita untuk mengasah diri dan hati nurani kita, bukan untuk kebanggaan diri semata. Kita bisa mencontoh padi yang semakin berisi dan semakin merunduk, supaya tetap rendah hati dalam setiap pelayanan yang kita lakukan. Karena kita berhasil atas kehendak Tuhan, bukan atas kehendak kita sendiri. Kita bekerja untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk memuaskan kepentingan manusia semata.
Semoga menginspirasi! Tetap Semangat Melayani dengan Tulus yaa J Tuhan Memberkati.
Yoana Yesinatali

0 Response to "Melayani dengan Tulus"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel