KAMIS PUTIH 17 APRIL 2014 MISA 1 PUKUL 17.00 WIB MISA 2 PUKUL 21.00 WIB ... JUMAT AGUNG 18 APRIL 2014 MISA 1 PUKUL 15.00 WIB MISA 2 PUKUL 19.00 WIB ... SABTU MALAM PASKAH 19 APRIL 2014 MISA 1 PUKUL 17.00 WIB MISA 2 PUKUL 21.00 WIB ... MINGGU PASKAH 20 APRIL 2014 HANYA 1 KALI MISA PUKUL 07.30 WIB
Latest Post

Rabu, 23 Juli 2014

Keluarga Menjadi Tempat Untuk Belajar

Jumat, 18 Juli 2014 menjadi hari yang berbahagia bagi keluarga Bapak Anang dan Ibu Bernadeta. Karena pada hari itu diadakan 3 acara sekaligus di rumah kediaman mereka di Cluster Ifolia 2 Harapan Indah. Acara misa pemberkatan rumah yang dimulai pada pukul 20.00 WIB dihadiri lebih dari 40 orang umat Lingkungan Felisitas 3. Misa dipimpin oleh Romo Fransiskus Asisi Heru Kurniawan, SVD sekaligus untuk memperingat ulang tahun ke-43 Ibu Bernadeta dan ulang tahun pernikahan ke-15 Bapak Anang dan Ibu Bernadeta.



Dalam homili singkatnya, Romo Heru menyampaikan bahwa setiap keluarga yang tidak bisa hidup sehati muncul dalam tindakan sehari-hari. Entah itu di perkerjaan, relasi dengan orang lain, tentu lebih kasar dan tidak mempunyai hati sebagaimana yang telah diberikan di dalam keluarganya. Pemberkatan rumah merupakan pemberkatan keluarga, maka keluarga Katolik diharapkan dapat menjadikan keluarga sebagai sekolah atau tempat untuk belajar yang pertama dan utama. Kita lebih mudah mengisi rumah dengan berbagai macam perabotan, tapi jika tidak diisi dengan hati maka kita tidak akan pernah merasa bahagia. Dalam membangun rumah tangga mungkin ada percekcokan, tapi sesungguhnya keluarga adalah tempat untuk belajar.



Ingatlah janji perkawinan, karena kalau tidak ingat maka tidak akan bisa melaksanakannya. Karena waktu mengucapkan janji perkawinan adalah pilihan sendiri dan keiinginan diri sendiri bukan atas paksaan siapapun. Tidak akan pernah dari semak duri kita memetik buah ara dan buah anggur, maka bukan hanya dari rumah yang bagus kita memetik anak-anak dan kebahagiaan tapi dari kita sendiri. Sarana itu penting, tetapi isinya lebih penting.
 
 
Bangunlah keluarga menjadi tempat untuk belajar, belajar apapun : belajar memahai, belajar untuk berdoa, belajar untuk mencintai, belajar untuk bangkit ketika tidak dimengerti orang lain, belajar untuk bersosialisasi dengan tetangga, belajar untuk memberikan iman kita di dalam lingkungan. Begitu membahagiakan apabila seseorang melihat rumah dan keluarga adalah sebagai tempat yang dirindukan dan tempat merindukan. Buatlah rumah menjadi tempat sekolah sekaligus tempat yang dirindukan dan merindukan.

Proficiat buat keluarga Bapak Anang dan Ibu Bernadeta, semoga apa yang menjadi harapan-harapan keluarga diberkati oleh Allah.

Neli Apriyanti

Senin, 21 Juli 2014

PERCAYA KEPADA TANDA ALLAH


















PERCAYA KEPADA TANDA ALLAH (Mat 12:38-42)

Mengulangi hal yang sama kepada orang yang beku hati dan keras kepala tentu sangat menjengkelkan. Yesus mengalami peristiwa itu. Ajaran, perbuatan baik, penyembuhan orang sakit dan kerasukan setan serta mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya adalah tanda kehadiran Kerajaan Allah. Tetapi para ahli Taurat dan orang Farisi menutup mata dan hati terhadap semua itu. Mereka tidak percaya kepada Yesus dan segala pekerjaan-Nya. Mereka mungkin ingin Bapa di surga turun dan berkarya di tengah mereka. Padahal melihat Yesus dan pekerjaan-Nya berarti melihat Bapa. "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." (Yoh 14:9b).

Mereka tetap berkeras hati dan meminta tanda lain dari Yesus, tetapi Ia menolak memberikannya. Mereka tidak akan diberi tanda lain selain tanda Nabi Yunus. Yunus mewartakan pertobatan kepada orang-orang Niniwe dan merekapun bertobat dan percaya kepada Allah. Tanpa pertobatan, mereka tidak akan bisa percaya kepada Allah dalam diri Yesus.

Allah selalu hadir dan memberikan tanda-tanda-Nya termasuk yang paling biasa, sederhana dan kecil melalui keluarga, komunitas dan teman-teman kita. Sikap selalu menuntut dan mengeluh terhadap sesama bukan saja menyiratkan rasa tidak puas melainkan juga menunjukkan sikap menolak kebaikan Allah. Sebab orang yang sulit mempercayai kebaikan sesama, dia juga sulit mempercayai kebaikan Allah.

Salam Kasih Dalam Sang Sabda.

P. Yonas, SVD (QC, 21/7/14)

Jumat, 18 Juli 2014

Kunjungan Kasih WKRI St. Albertus

Dalam rangkaian ulang tahun WKRI yang ke-90 tepat pada tanggal 26 Juni 2014, setiap cabang
WKRI di Dekenat Bekasi diwajibkan mengadakan baksos dalam bentuk kunjungan ke Panti Asuhan. Salah satunya adalah WKRI cabang stasi St. Albertus Agung yang mengadakan kunjungan ke Panti Asuhan Yayasan Sinar Pelangi atau YSP Jatibening pada hari Sabtu tangal 12 Juli 2014.



Rombongan WKRI yang dipimpin oleh Ibu Vera sebanyak 25 orang berangkat dari Gereja St. Albertus Agung pukul 12.30 WIB menggunakan 5 mobil. Terlihat mobil penuh sesak dengan ibu- ibu WKRI ,hadiah untuk anak-anak panti asuhan dan juga sembako. Walaupun penuh sesak di dalam mobil terlihat penuh suka cita, terlihat dari wajah yang akan berbagi kasih dengan anak-anak yang kurang beruntung dalam keluarga.



Sesampainya di lokasi mendapat kejutan dengan hadirnya  Ibu Miranda selaku Presidium, Ibu Ririen, Ibu Theresia dan Ibu Telly (WKRI DPD Jakarta ) ditengah-tengah kami. Mereka menyempatkan hadir di panti asuhan setelah mengikuti RKCW di Jakarta Timur. Acara  dimulai dengan doa pembuka oleh Ibu Yustina dan dilanjutkan dengan acara hiburan yang dipandu oleh Ibu Ida Markus.



Jumlah anak-anak yang ada di YSP kurang lebih 100 anak, tetapi karena masih dalam suasana libur puasa  maka sebagian anak panti ada yang pulang ke keluarga masing-masing. Sehingga anak yang tinggal di panti sebanyak 30 anak-anak dan remaja dengan 10 ibu-ibu pengasuh. Untuk menghibur anak- anak TIM WKRI mementaskan panggung boneka yang dibawakan oleh Om Jabrik. Terlihat wajah anak-anak sangat gembira melihat pertunjukan yang penuh jenaka juga mengandung pesan moral yang disampaikan dalam cerita panggung boneka dan semua yang hadir merasa terhibur.



Usai acara panggung boneka ibu-ibu WKRI St. Albertus Agung memberikan tanda kasih untuk anak-anak panti secara simbolis yang diterima oleh pimpinan Yayasan Sinar Pelangi  Sr. Andre Lemmers, FCJM berupa  sembako,100 tas sekolah dan alat tulis. Semua Sumbangan sembako dikumpulkan dari partisipasi ibu-ibu WKRI cabang St. Albertus Agung begitu juga dengan tas sekolah dan alat tulis sumbangan dari salah satu keluarga anggota WKRI.



Sr. Andre Lammers, FCJM dalam kata sambutannya mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu WKRI St. Albertus yang sudah memberikan kasih untuk anak-anak panti, semoga apa yang diberikan dapat bermanfaat bagi anak-anak panti asuhan. Tak terasa dua jam kebersamaan dengan anak-anak pun terasa singkat dan berakhir dengan penuh suka cita. Senangnya bisa berbagi kasih bersama anak-anak panti asuhan semoga kunjungan ini dapat menumbuhkan kasih ibu-ibu WKRI terhadap sesama terutama mereka yang berkekurangan.



Selamat Melayani, Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Maria Siwi & Ditha Urspon

 

Kamis, 17 Juli 2014

HATI YANG BERKUALITAS


















HATI YANG BERKUALITAS (Mat 11:28-30)

Ketika kita mempunyai persoalan, kita akan mencari minimal teman cerita yang mau memahami kita. Sebab teman yang memahami kesulitan kita tidak cepat mempersalahkan dan mengakimi. Banyak orang menderita pada zaman Yesus. Mereka menderita karena tuntutan hidup keagamaan yang melampaui batas kesanggupan dan beratnya dosa mereka. Para ahli Taurat sedikitpun tidak mengerti batas kemampuan dan keterbatasan mereka sebagai manusia. Datang kepada mereka berarti semakin menambah beban dan sakit hati.

Yesus mengundang mereka untuk datang kepada-Nya sebab Ia memiliki kualitas hati yang berbeda dari para ahli Taurat. Kualitas hati Yesus terletak pada kelembutan hati-Nya dalam memahami keterbatasan manusiawi dan dosa setiap orang. Sehebat apapun orang, ia tidak bisa sempurna seperti yang diinginkan para ahli Taurat. Yesus tidak menuntut mereka melebihi kemampuan yang ada. Yesus juga tidak menyukai dosa, tetapi Ia mencintai pendosa. Ia mengerti bahwa orang bisa jatuh dalam dosa, tetapi mereka juga bisa bertobat. Kepada mereka, Yesus memberi kesempatan untuk bertobat. Kita dipanggil untuk mengenakan hati Yesus.

Semakin banyak orang Katolik yang memiliki hati seperti Yesus, semakin banyak pula orang yang merasakan hati Tuhan yang berbelaskasih dan maharahim. "...Belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati..." (Mat 11:29).

Salam Kasih Dalam Sang Sabda.

P. Yonas, SVD (QC, 17/6/14)

Love at The First Sight

Love at The First Sight adalah tema dari Retret Hidup dalam Roh (RHDR) gabungan yang diadakan oleh PDOMPKK Lumen Dei (St. Albertus), PDOMPKK St Bartolomeus dan PDOMPKK St Arnoldus, pada tanggal 11-13 Juli 2014. Sebuah retret dimana kami orang muda Katolik diingatkan / mengalami cinta pada pandangan pertama dengan Tuhan sehingga pada prosesnya bisa menjadi manusia baru. 

 

Pagi itu tak kurang dari 130 orang muda Katolik berangkat dari Bekasi (St Albertus dan St Bartolomeus) menuju Camp David Resort yang ada di kawasan Puncak. Menempuh sekitar 3 jam perjalanan, pukul 10 siang para peserta tiba di kawasan Camp David.

 

Rangkaian RHDR selama 3 hari 2 malam ini diawali oleh Misa Kudus yang dipimpin oleh Pastor John Laba Kame. Retret ini terdiri dari 7 sesi, dimana kami akan dibekali dan diingatkan akan cinta kasih Tuhan, menerima karunia Allah, hingga bertumbuh dalam komunitas dan pelayanan yang mana semua aspek tersebut membimbing kami agar diubahkan seperti Kristus untuk dapat hidup baru.

Ketujuh sesi yang dibawakan oleh Brother Rolando, Vindes dan Alex ini adalah :

1. Cinta Kasih Allah

2. Karya Penyelamatan Allah

3. Hidup Baru dalam Roh

4. Menerima Karunia Allah (Pertobatan)

5. Pencurahan Roh Kudus

6. Pertumbuhan

7. Diubah Seperti Kristus

 
Tak cukup hanya bersorak memuji Tuhan dalam lagu pujian, setiap harinya kami menyambut Tubuh dan Darah Kristus dalam Sakramen Ekaristi serta menyucikan diri dalam Sakramen Tobat.
 
 

Hari kedua ada Pencurahan Roh Kudus (PRK), sebuah momen dimana kami berdoa bersama agar Roh Kudus turun dan tinggal dalam hati kami. Setelah kami mengalami damai dan cinta Tuhan dalam PRK, sebuah Euforia sukacita yang luar biasa melingkupi kami, kami menari, bersorak memuji Tuhan dan beberapa dari kami pun bersaksi akan kebaikanNya.

 


Hari terakhir kami habiskan dengan kegiatan outing seperti olahraga pagi dan games. Kami mendengarkan sesi terakhir yang merupakan puncak dari rangkaian retret ini, yakni sesi ke 7 : Diubah Seperti Kristus, sebuah proses untuk menjadi manusia baru.

Sebuah penyembahan Tertinggi dalam Misa Kudus menutup rangkaian RHDR ini. Setelah kami mendapat berkat perutusan, kami berfoto bersama dan berkemas pulang menuju Bekasi. Kembali kepada rutinitas namun dengan hati yang baru, yang siap menjadi berkat bagi sesama.
 
 
Retret RHDR Love at The First Sight telah berakhir, namun bukan berarti kami (peserta dan panitia) berpisah, mari berkomunitas, bertumbuh dan melayani bersama di PDOMPKK St Bartolomeus dan PDOMPKK Lumen Dei.

Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu menyelenggarakan acara ini, baik melalui doa, dana, maupun tenaga. Tuhan memberkati.
 
Alfontius Arnold   
      

Selasa, 15 Juli 2014

TERGERAK UNTUK BERTOBAT


















TERGERAK UNTUK BERTOBAT (Mat 11:20-24)

Yesus marah dan mengecam beberapa kota di Galilea. Yang paling mengherankan adalah Kapernaum yang dikenal sebagai kota Yesus. Sebagian besar karya pewartaan Yesus berpusat di Kapernaum. Ia mengajar dan mengadakan banyak mukjizat di sana. Namun hati mereka tidak tergerak untuk bertobat. Hati mereka terlalu keras dan penuh sehingga sulit menerima Yesus. Mereka merasa tidak perlu bertobat karena setiap hari mereka selalu melihat DIA. Mata fisik mereka memang melihat Yesus tetapi mata hati mereka buta terhadap kehadiran-Nya.

Kadang kita jatuh dalam dosa orang Kapernaum. Kita mengklaim diri selalu bertemu Yesus dalam Ekaristi, doa dan aneka ragam praktek hidup rohani, tetapi cara hidup kita tetap saja tidak Kristiani. Pengalaman akan Tuhan selain mengajak kita untuk bersyukur, juga mendorong kita untuk bertobat. Rahmat pertobatan itu tercurah dalam diri orang yang menyadari kerapuhannya dan membuka hati terhadap suara Tuhan yang berbicara dalam banyak cara. "Hari ini dengarkanlah suara Tuhan, jangan bertegar hati." (Mzm 95:8).

Salam Kasih Dalam Sang Sabda.

P. Yonas, SVD. (QC,15/7/14)

Senin, 14 Juli 2014

SAATNYA MEMILIH


















SAATNYA MEMILIH (Mat 10:34-11:1)

Mungkin banyak orang terkejut membaca Sabda Yesus hari ini, "Aku datang bukan untuk membawa damai, tetapi pedang." (Mat 10:34). Orang bisa saja terkejut karena Yesus selalu mengajarkan cinta kasih dan damai, tetapi Ia malah menyebut pedang yang identik dengan kekerasan. Yesus memang datang membawa pedang yang memisahkan orang karena ajaran-Nya. Ajaran-Nya tentang kesempurnaan hidup jauh berbeda bahkan bertentangan dengan yang dipraktekkan banyak orang.

Kumpulan kotbah di bukit dalam Matius bab 5-7 adalah buktinya. Berhadapan dengan ajaran-Nya, orang harus memilih. Orang tidak bisa bersikap netral. Dalam memilih itulah terjadi pertentangan bahkan di antara anggota keluarga sendiri. Ada ibu yang pendendam, tetapi putrinya murah hati dalam mengampuni. Ada ayah yang tidak jujur, tetapi putranya sangat jujur. Ada menantu putri yang kata-katanya menyenangkan, ada mertua putri yang kata-katanya menyakitkan.

Banyak contoh pertentangan yang bisa kita sebutkan. Setiap hari kita menghadapi pilihan-pilihan dan orang-orang yang perilakunya bertolak belakang. Kesetiaan kita sebagai murid Yesus teruji ketika kita tetap memilih jalan Yesus meski pilihan itu mungkin tidak populer di antara mereka yang memilih jalan lain.

Salam Kasih Dalam Sang Sabda.

P. Yonas, SVD. (QC, 14/7/14)

WARTA

More on this category »

ORANG MUDA KATOLIK

More on this category »

ALTO CLUB

More on this category »

KELOMPOK KATEGORIAL

More on this category »

INFO DEKENAT BEKASI

More on this category »
 
Support : Seputar Harapan Indah DOTcom | WELL PRO | Team KOMSOS
Copyright © 2011. Gereja Santo Albertus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Team Komunikasi Sosial St. Albertus
Proudly powered by Blogger