WELCOME... di web resmi Gereja St. Albertus Agung Harapan Indah Bekasi...
BERITA TERBARU

Hari Minggu Biasa III

Written By KOMSOS Team on Minggu, 24 Januari 2016 | 06.00



                                    Renungan 24 Januari 2016 " Hari Minggu Biasa III"


Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (Luk 1:3-4)

“Tidak Ada Keraguan Lagi”

Meyakinkan orang tidaklah mudah. Perjalanan hidup, terutama dengan Bapak sangatlah menarik, dimana untuk meyakinkan beliau terkait bentuk usaha yang akan dilakukan di rumah atau tanah milik beliau. Selalu saja hubungan anak-orang tua menjadi ukuran meski sering tidak disadari beliau. Saya masih dianggap anak yang belum tahu apa-apa, tidak memiliki pengalaman sama sekali. Meski pada akhirnya disetujui ide dasar, namun bagaimana aplikasi selanjutnya beliau yang mengatur.

Tampaknya Lukas perlu meyakinkan seseorang yang bernama Teofilus terkait pengajaran tentang Yesus yang telah diterima Teofilus. Dengan menuliskan berbagai peristiwa Yesus sebagaimana pemberitaan para saksi iman, Lukas berharap tidak ada keraguan sedikit pun pada diri Teofilus akan keselamatan dalam dan melalui Yesus Kristus.

Apa yang tertulis dalam Injil Lukas juga terjadi dalam pemberitaan Injil dewasa ini. Tidak sedikit justru umat beriman yang goyang, atau meragukan imannya. Segala keluh kesah, pahit getirnya hidup, menggoyangkan iman. Orang beriman mudah larut dan hanyut dalam arus kehidupan masa sekarang sehingga pemberitaan Injil pun terasa semakin berat.

Penulisan Lukas tampaknya memberikan dorongan bagi umat beriman agar tidak putus asa di dalam pemberitaan Injil. Kalau Lukas membukukan pemberitaan yang telah dan atau sedang berlangsung, mungkin para pemberita Injil dewasa ini menemukan bentuk-bentuk lain. Salah satunya adalah usaha bersama umat beriman untuk menciptakan perayaan liturgis yang semakin meriah. Kemeriahan dalam perayaan Ekaristi, misalnya, tentu akan sangat menyentuh umat beriman yang mengikutinya dan membawanya serta dalam keterlibatan perayaan.

~o0o~





Hari Minggu Biasa II

Written By KOMSOS Team on Minggu, 17 Januari 2016 | 00.21



Renungan 17 Januari 2016 "Hari Minggu Biasa II" 



“... engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang” (Yoh 2:10)

“Menjaga Kualitas Diri”

Bercocok tanam ... rasanya hampir setiap petani menghendaki hasil yang melimpah, semakin bulan semakin berlimpah hasilnya, sehingga semakin hari semakin tebal kantung uang. Bagaimana caranya? Sering kali cara yang diambil justru semakin menurunkan hasil panen, sehingga tak pelak yang terjadi adalah kebangkrutan. Ambillah contoh benih yang ditebarkan semakin lama semakin tidak berkualitas karena diambil dari hasil tanam yang lalu dan tanpa pengolahan memadai sebagai benih unggulan. Hal tersebutlah yang sering membuat petani menjadi tekor.

Menjaga kualitas benih yang ditebarkan bagaikan menjaga kualitas anggur dalam kisah perkawinan di Kana. Umat beriman ditantang untuk terus-menerus menjaga kualitas pribadi di tengah pergulatan hidup bermasyarakat. Ketekunan dalam doa dan introspeksi diri merupakan dua hal yang penting dimiliki setiap umat beriman dalam menjaga kualitas diri. Rahmat Allah senantiasa dimohon agar umat beriman mampu introspeksi diri, dan atas dasar kasih Allah umat beriman senantiasa memancarkan keindahan hidupnya.

Bagaikan benih dan anggur dalam perkawinan di Kana, pada akhirnya orang lainlah yang akan menikmati langsung “nikmatnya” hidup bersama dengan umat beriman. Benih yang dijaga kualitasnya yang ditebarkan dan anggur manis yang senantiasa disajikan akan membuat banyak orang menikmati kebahagiaan. Demikian pula halnya dengan hidup umat beriman di dalam pergulatan hidup bersama. Banyak orang akan kagum sungguh akan hidup umat beriman yang terjaga kualitas pribadinya.

~o0o~


Pesta Pembabtisan Tuhan

Written By KOMSOS Team on Minggu, 10 Januari 2016 | 06.00




Renungan 10 Januari 2016 "Pesta Pembabtisan Tuhan"




“Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit (22) dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:21-22)

“Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi”

Rasanya sulit menerima Yesus, Anak Allah, dibaptis. Baptisan Yohanes merupakan tanda pertobatan. Itu berarti bahwa orang yang dibaptis adalah orang berdosa. Bagaimana dengan Yesus? Apakah dosa-Nya?

Baptisan Yesus merupakan wujud solidaritas Allah dengan hidup umat manusia yang rapuh. Di samping itu, baptisan Yesus oleh Yohanes yang diiringi oleh suara ilahi tersebut menyatakan keberadaan pribadi Yesus. Berkat solidaritas dan pernyataan ini, hidup manusia direngkuh di dalam keilahian. Hidup manusia berada di dalam naungan hidup ilahi, dalam kebersamaan dengan Allah. Hal ini membawa konsekuensi konkret bagi umat beriman sehingga menjadi sungguh anak yang dikasihi-Nya.

Sering dialami realitas manusia yang rapuh sehingga terjadi ketidakseimbangan antara aktivitas gerejawi dengan aktivitas harian. Umat beriman lebih mengedepankan relasi di lingkungan gerejawi, tetapi lemah dalam komunikasi dengan keluarga dan lingkungannya. Tatkala disadari ketidakseimbangan ini, adakah usaha untuk lebih memerhatikan keluarga dan lingkungan?

Anugerah sebagai anak yang dikasihiNya sudah layak dan sepantasnya terpancar dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Umat beriman bukanlah eksklusif, mengasingkan diri dari kehidupan keluarga dan masyarakat. Umat beriman tidak dapat menuntut sesama untuk memahami dan menerima aktivitas gerejawi yang dijalani, sementara aktivitas tersebut semakin mengasingkan diri dari keluarga dan masyarakatnya.

~o0o~


“ Hari Raya Penampakan Tuhan, dan Hari Anak Misioner Sedunia”

Written By KOMSOS Team on Minggu, 03 Januari 2016 | 00.16




Renungan 3 Januari 2016 Hari Raya Penampakan Tuhan, Hari Anak Misioner Sedunia
                                               


                                                                                         
“Masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya,
lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur” (Mat 2:11)

“Metamorfosa”

Pagi itu tampak kupu-kupu beterbangan dalam jumlah besar di sebuah pohon depan rumah. Hingga siang hari mereka masih berkerumun di pohon tersebut. Sore, menjelang gelap, secara perlahan kupu-kupu menghilang, entah ke mana mereka perginya.

Kupu-kupu itu bagaikan pujian alam pada keagungan ilahi menghiasi cerahnya hari di musim hujan. Terpikir olehku ulat-ulat yang banyak di pohon itu. Dari pelajaran di sekolah aku tahu bahwa kupu-kupu berasal dari ulat yang telah bermetamorfose. Ulat telah berubah menjadi makhluk yang sungguh-sungguh lain (berubah secara substansial) ... menjadi kupu-kupu yang sungguh indah.

Perjumpaan pribadi dengan Allah tentu akan mengubah seorang individu secara mendasar. Perjumpaan dengan Allah membuat seorang individu bermetamorfosa. Peristiwa perjumpaan tiga majus dari Timur merupakan pancaran metamorfosa. Mereka mengakui kemaharajaan Yesus yang baru lahir. Mereka sujud menyembah dan memersembahkan yang terbaik dari negeri mereka masing-masing. Ketundukan inilah yang menunjukan bahwa mereka mengalami menyerahkan kekuasaan kepada Allah.

Adakah kita mengalami seperti ketiga orang majus tersebut?

Perjumpaan personal dengan Allah tentu mengubah setiap individu umat beriman secara mendasar. Umat beriman bermetamorfosa menjadi individu yang baru, dimana Allah sungguh meraja di dalam kehidupan mereka. Kekuasaan Allah tidak sekadar diakui, tetapi sungguh memancar di dalam kehidupan bersama. Hidup bersama tampak begitu indah dengan keunikan masing-masing pribadi, bagaikan kupu-kupu di hari itu.

Melayani dengan Kasih Sayang

Written By KOMSOS Team on Minggu, 27 Desember 2015 | 00.30

     Renungan 27 Desember 2015 Pesta Keluarga Kudus “Melayani dengan Kasih Sayang”             

"Ia tetap hidup dalam asuhan mereka" (Lk 2:51)



Nenek dari ibu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Namun saat-saat terakhir hidupnya bersama kedua orangtua tak pernah lenyap dilekang waktu. Saat-saat itu sungguh melekat di hati. Betapa tidak, tampak jelas tergambar film yang senantiasa terasa anyar dengan tokoh utama bapak. Saat-saat terakhir nenek menampakkan (hanya) insting hidupnya. Ia tidak hanya pikun dan linglung, namun juga tidak terkendali dalam (terutama) buang air (baik kecil maupun besar). Setiap kali tampak bapak membersihkan kotoran dan air seni nenek yang berceceran baik di dipan maupun di lantai kamar. Bapak juga menyiapkan kebutuhan makan dan mandi nenek. Menurut cerita ibu, bapak pula yang mengundang orang-orang untuk tahlilan selama tujuh hari di rumah.

Suatu drama kehidupan yang mungkin tak akan pernah ditayangkan di media elektronik baik televisi atau internet, namun itu menancapkan begitu kuat di hati akan kesederhaan sekaligus kokohnya kasih sayang. Kasih sayang tidak terucap, tapi sungguh nyata di dalam merawat kehidupan, meskipun suatu kehidupan itu tidak memberikan keuntungan apapun, tapi justru merepotkan ataupun mengganggu.

Bagaimana dengan kehidupan umat beriman kristiani?

Kehadiran Kristus di dalam keluarga tentulah memancar dalam kasih sayang yang tulus, tanpa harus terucap, dirancang, atau bahkan dituntut. Kasih sayang itu tentu membuahkan saling pengertian akan kebutuhan hidup masing-masing. Kasih sayang itu tentulah tidaklah menuntut balas, meski sering kali terungkap rasa penyesalan akan apa yang sudah diberikan.


Dengan Pesta Keluarga Kudus ditawarkan di sini untuk meluaskan panorama batin seluar Kristus bagi umat manusia. Kehadiran Kristus dalam keluarga Yosep dan Maria memancarkan kehidupan keluarga besar umat manusia. Kehadiran Kristus di tengah umat manusia merupakan kehadiran kasih sayang bagi seluruh umat manusia dari segala bangsa. Tidak ada seorang umat manusia pun yang hidup tanpa kasih sayang. Di sinilah Kristus hadir! Di sinilah Kristus mengundang umat beriman!

BY Slamet Harnoto | Tim Komsos
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Gereja Santo Albertus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger | Develop by WELL PRO MANAGEMENT