WELCOME... di web resmi Gereja St. Albertus Agung Harapan Indah Bekasi...
BERITA TERBARU

Minggu Paskah V

Written By KOMSOS Team on Minggu, 24 April 2016 | 20.53

 Renungan 24 April 2016 "Hari Minggu Paskah V" 

Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku,
yaitu jikalau kamu saling mengasihi” [Yoh 13:35]

Menyemai biji dari berbagai tanaman tidaklah mudah. Aku tidak hanya dituntut untuk mengenali hidup masing-masing tanaman, tetapi sungguh harus memerlakukan biji-biji tersebut secara berbeda. Biji tanaman hutan berbeda dengan biji tanaman buah. Ada yang membutuhkan waktu beberapa saja sudah berkecambah, namun ada yang memerlukan berbulan-bulan untuk berkecambah.

Individu-individu menampakkan keunikan masing-masing meskipun dalam satu keluarga dan satu orangtua. Mereka adalah pribadi-pribadi berbeda, unik, dan khas sungguh dalam berbagai hal. Meski sama-sama suka mi instan, namun rasa dan merknya berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Tentu mereka menyukai dengan alasan masing-masing.

Perlakuan terhadap individu-individu tentunya berbeda satu dengan lainnya. Pengenalan akan tiap individu menjadi tantangan tersendiri agar kasih sayang tidak disalahtafsirkan oleh banyak orang. Perlakuan berbeda tidaklah berarti membedakan secara tidak adil. Kasih sayang, paling nampak dalam keluarga, haruslah dilandasi oleh pengenalan dan saling memahami satu sama lain. Kasih sayang tidak sekadar bahwa aku mengenal engkau dan engkau mengenal diriku. Tidak pula sekadar aku menerima engkau apa adanya demikian pula engkau terhadap diriku. Kasih sayang yang luhur memancarkan kehendak untuk memberikan terbaik untuk sesama, sebagaimana ditunjukkan oleh Sang Guru kepada para muridNya.


Demikian pula dalam komunias kristiani. Satu ciri khas yang begitu menonjol sebagaimana disabdakan adalah saling mengasihi. Semua orang akan mengenali komunitas kristiani karena dilandasi saling mengasihi. Saling mengasihi dalam komunitas kristiani memancarkan kasih ilahi sebagaimana dianugerahkan oleh Kristus. Bukankah demikian?

BY Slamet Harnoto | Tim Komsos

Minggu Paskah IV

Written By KOMSOS Team on Minggu, 17 April 2016 | 20.51

Renungan 17 April 2016 "Hari Minggu Paskah IV" 


Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku
dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku
[Yoh 10:27]

Dalam suatu telaah psikologis, ada ruang-ruang dimana seorang pribadi tidak mengenal dirinya, tetapi justru orang lain yang mengenalnya; demikian juga ada ruang-ruang dimana diri sendiri dan orang lain tidak mengenali. Namun, siapakah yang mengenal sungguh diri sendiri kalau bukan pribadi yang bersangkutan?
Sering diri ini terbelenggu oleh dorongan agar orang lain memahami dan menerima diriku. Belenggu ini justru mengarahkan diriku agar bisa dipahami dan diterima orang lain. Bagaimana realitasnya? Dalam kapasitas masing-masing pribadi, aku sadar bahwa aku tidak dapat diterima oleh semua orang. Tidak semua orang suka terhadap diriku. Tidak semua orang memahami diriku. Tidak semua orang menerima diriku.


Perjumpaan dengan Sang Gembala yang mulia sebagaimana diwartakan Yohanes menyadarkan diriku agar mengenali diri sendiri lebih dalam. Aku harus mau dan mampu mendengarkan suara-suara di dalam diriku sendiri. Suara-suara itu menggelorakan keinginan-keinginan diriku. Aku harus semakin mengenali mereka: manakah yang menimbulkan rasa senang dan manakah yang menyakitkan. Tatkala aku mengenalinya, aku ditantang untuk mampu menyeimbangkan dengan suara-suara/keinginan-keinginan orang-orang di sekitarku. Aku dan diriku saling mengenali sehingga ada keselarasan di dalam hidupku pribadi.

BY Slamet Harnoto | Tim Komsos

Minggu Paskah III

Written By KOMSOS Team on Minggu, 10 April 2016 | 20.49


Renungan 10 April 2016 "Hari Minggu Paskah III


Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya, "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau". Kata Yesus kepadanya, "Gembalakanlah domba-domba-Ku" [Yoh 21:16]

Hidup bersama tidaklah selalu mudah meski dengan kedua orangtua yang sudah dikenal. Hari demi hari tidak selalu menemukan kecocokan dan terasakan kebersamaan yang menggembirakan. Dalam sehari belum tentu merasakan kebersamaan yang menyenangkan. Diriku harus bisa mengendalikan diri, berusaha untuk mendengarkan dan memahami serta menerima apa yang dimaui kedua orangtuaku, bahkan sering kali harus bersabar agar mereka mau mendengarkan diriku.

Satu hal yang patut aku perhatikan dalam penampakan di danau pada para murid adalah bahwa diriku harus sungguh menggembalakan diriku. Perjalanan hidupku saat ini kentara dengan penggembalaan diri sendiri tatkala aku hidup bersama dengan kedua orangtuaku yang sudah uzur. Aku sungguh bersabar dengan mereka yang sudah begitu renta. Aku harus sungguh mengasihi diri sendiri dengan tetap menjaga kesehatan demi mereka. Harapanku, mereka dapat menikmati hidup dalam usia senja mereka.


Aku sering lupa bahwa dengan menjaga kesehatan diri, aku memikirkan dan memerhatikan orang lain. Dengan kondisi sehat, fisik dan batin, diriku dapat mengerjakan segala sesuatu yang berguna bagi orang lain. Menjaga kesehatan, tatkala banyak hal dikerjakan, merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan. Itulah satu perjuangan konkret sebagai buah perjumpaan dengan Kristus yang mulia.

BY Slamet Harnoto | Tim Komsos

Minggu Paskah II

Written By KOMSOS Team on Minggu, 03 April 2016 | 20.45

Renungan 3 April 2016 "Hari Minggu Paskah II"


"Damai sejahtera bagi kamu!" [Yoh 20:19]

Hidup di perantauan tidaklah selalu menyenangkan. Aku harus senantiasa menjaga relasi dengan sesama karena dengan merekalah aku menjalani hidup. Tatkala aku tidak bisa hidup dengan mereka karena tiada penghasilan sepeser pun, ke mana aku harus pergi? Terpikir olehku pulang kampung, karena bagaimanapun di sana jauh lebih baik daripada hidup di rantau. Tidak terpikir sedikit pun hal-hal negatif di perantauan ataupun di kampung. Yang jelas bagiku, di perantauan aku sudah habis daya upaya untuk menyambung hidupku.

Tatkala Sang Guru menghadapi kehancuranNya, para murid tidak hanya berpikir dan merasa tidak dapat melanjutkan perjalanan dan pulang ke kampung halaman saja. Mereka ketakutan menghadapi masyarakat yang masih mengingat mereka bersama dengan Sang Guru. Masyarakat masih mengenal mereka, bagaimana mereka pada akhirnya menghadapi kenyataan bahwa Guru mereka yang sungguh mereka percayai harus berakhir di kayu salib.

Sebagaimana tampaknya gejala sosial-politis di berbagai belahan bumi, para murid harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka adalah para pengikut setia, murid, dari musuh para pemimpin bangsa Yahudi dan berakhir dalam pengadilan Romawi. Bukan sekadar nafkah yang dapat diperoleh di tempat lain, namun sungguh hidup mereka terancam.

Dalam situasi seperti itu, Yesus menampakkan diri kepada mereka dan menyapa: “Damai sejahtera bagi kamu!” Ada perasaan takut yang semakin tajam, sebagaimana orang melihat hantu. Namun kehadiran Yesus mulia meyakinkan mereka akan kehadiran Sang Guru yang senantiasa bersama dengan mereka hingga sebelum peristiwa salib. Kehadiran Kristus membawa damai sejahtera bagi mereka dan damai itu meresap ke dalam relung hati yang terdalam. Kedamaian itu melenyapkan ketakutan dan membawa kebagiaan bagi mereka.


Sebagaimana peristiwa perdana tersebut, hingga sekarang pun para murid diutus untuk membawa dan mewartakan damai sejahtera bagi sesama. Meski dalam kenyataan konkret kedamaisejahteraan itu harus sungguh diperjuangkan, namun para murid sungguh mengalami kebangkitan Kristus.

BY Slamet Harnoto | Tim Komsos

Katekese Persiapan Perkawinan

Written By KOMSOS Team on Senin, 28 Maret 2016 | 12.56

Masih dalam suasana Paskah maka kami mengucapkan Selamat paskah 2016 bagi semua umat Gereja St. Albertus Agung Paroki Harapan Indah dan semua tamu yang berkunjung ke web kami ini. 

Sebagai informasi awal sekaligus berita gembira, kini Katekese Persiapan Perkawinan (KPP) akan diadakan perdana di Paroki Harapan Indah pada tanggal 9 dan 16 April 2016, bertempat di Aula JPS (John Paul's School) Kota Harapan Indah, Bekasi. 



Bagi para calon peserta yang akan melakukan penyelidikan kanonik, peneguhan perkawinan atau melakukan perkawinan secara Katolik, dapat menghubungi Sekretariat Paroki untuk pengambilan formulir dan pendaftaran.

Informasi detail mengenai hal ini bisa dikomunikasikan ke sekretariat Gereja St. Albertus Agung pada jam kerja. Demikian info dan berita gembira ini semoga bermanfaat !

Hari Minggu Paskah

Written By KOMSOS Team on Minggu, 27 Maret 2016 | 10.41

Renungan 27 Maret 2016 "Hari Minggu Paskah"

Mendobrak Keterkungkungan

Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu
dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci
yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.(Yoh 20:8-9)

Sangat menarik perhatianku karena beberapa kali selama lima bulan terakhir aku ditantang untuk belajar. Aku dianjurkan untuk belajar beternak. Aku dianjurkan untuk belajar ... belajar ... dan belajar. Tatkala anjuran itu sampai di telingaku aku menolaknya: “Belajar apa? Emang Anda lebih mumpuni dari saya?”

Saat merenungkan makna kebangkitan terpikir olehku tantangan untuk belajar. Kebangkitan memancarkan kekuatan untuk keluar dari keterkungkungan diri sendiri. Aku terkungkung oleh berbagai ilmu pengetahuan yang pernah kupelajari. Aku terkungkung oleh berbagai peristiwa yang telah kualami. Aku terkungkung oleh perasaan sempurna diriku sendiri.

Kebangkitan mendobrak keterkungkunganku, bukan masalah kerendahan hati, agar aku tetap dan terus belajar, tidak merasa cukup, apalagi sempurna. Aku harus senantiasa berusaha untuk belajar pada orang lain. Belum tentu pengetahuan atau pengalaman orang lain tidak berguna atau sama saja dengan yang kualami. Pengetahuan dan pengalaman orang lain sedangkal apapun merupakan data yang turut serta dalam proses pengolahan hidup pribadiku.


Salah satunya adalah bagaimana hidup sosialku selama ini. Lebih mudah aku menilai (menghakimi) situasi sosial yang cenderung tidak menguntungkan bagiku daripada bertanya bagaimana aku bisa menjalani hidup dalam kondisi sosial yang ada. Kebangkitan mengingatkan daku akan keberadaan sosial hidup pribadi. SELAMAT PASKAH!

BY Slamet Harnoto | Tim Komsos

Hari Jumat Agung

Written By KOMSOS Team on Jumat, 25 Maret 2016 | 06.00

Renungan 25 Maret 2016 "Hari Jumat Agung" 

Allah Melawat UmatNya

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai".
Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.  (Yoh 19:30)

Rasanya tidaklah mampu pikiran ini menelisik kematian Yesus yang diimani sebagai Allah (Putra). Bagaimana mungkin Ia mati? Bukankah di dalam benak ini sudah terpatri bahwa Allah adalah hidup dan hidup itu bertentangan dengan kematian?

Saat seperti itulah saat aku sadar akan keterbatasan atau batas pemikiran. Aku terpatri akan berbagai konsep atau gambaran yang selama ini menghidupiku. Kematian Allah begitu absurd bagi kepalaku yang sempit, tidak mampu menjangkau pemikiran yang begitu tajam.


Saat seperti itulah aku disadarkan akan Allah yang membongkar pemikiran dan rasa batinku. Aku disadarkan bahwa dengan menyadari batas-batas, aku menyadari ada sesuatu di luar batas-batas itu. Aku sadar, di balik keterbatasan atau kematian berpikirku ada kehidupan berpikir. Aku sadar, di balik kematian, ada kehidupan. Itu semua karena Allah telah melawat umatNya dalam kematian alam ciptaan. Lawatan Allah tidak sekadar mengetahui perkembangan sebagaimana para pejabat berkunjung ke daerah-daerah. Lawatan Allah membuka mata hati dan pikiran umat manusia. Dengan kata lain, lawatan Allah memberikan pencerahan bagi kehidupan umat manusia, terutama yang berada dalam “kematian”.

BY Slamet Harnoto | Tim Komsos
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Gereja Santo Albertus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger | Develop by WELL PRO MANAGEMENT