Bagi umat yang terpanggil untuk melayani di bidang Komunikasi Sosial Gereja silahkan bergabung bersama TIM KOMSOS St. Albertus ! Info hubungi 0811 9100 80 atau 0812 333 400 80
Latest Post

Kamis, 18 September 2014

PENDAFTARAN MISDINAR BARU

Halo teman teman remaja , mau menjadi misdinar ?

Telah dibuka pendaftaran untuk putra putri altar dengan syarat sebagai berikut :
  • Sudah menerima komuni pertama
  • Maksimal Klas 12 SMA

pendaftaran dibuka mulai tanggal 21 September 2014 sampai 5 Oktober 2014 di stand samping Gereja.


Demikian informasi dari kami semoga bermanfaat !

Pelayanan Prodiakon

Pembekalan Prodiakon Stasi Hararapan Indah akan dilaksanakan pada tanggal 20-21 September 2014 di Wisma Samadi Klender. Sehubungan dengan itu maka diberitahukan bahwa :

  1. Pelayanan tugas membagikan komuni dalam Misa Kudus di Gereja akan dilayani oleh Prodiakon dari Paroki Kranji
  2. Pelayanan komuni untuk orang sakit/ lansia ditiadakan.
  3. Pelayanan untuk minggu berikutnya kembali seperti biasanya.

Demikian informasi dari kami semoga bermanfaat !

Rabu, 17 September 2014

TANPA KASIH, SEMUA SIA-SIA


















TANPA KASIH, SEMUA SIA-SIA (1 Kor 12:31-13:13)

Tanpa kasih, hal yang paling besar dalam hidup manusia terasa sia-sia. Maka pertanyaan-pertanyaan penting dalam Kitab Suci adalah : "Apakah anda mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa? Apakah anda mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri? Apakah anda mengasihi musuh-musuhmu? Teladan kasih paling agung adalah Yesus yang tersalib. "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya." (Yoh 15:13).

Menyerahkan nyawa berarti berkorban. Tanpa pengorbanan tidak ada kasih. Kata-kata kasih yang keluar dari mulut seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing jika tidak ada pengorbanan. Hanya bunyi tetapi tidak ada isi. Kasih baru mempunyai makna dan memberi hidup bagi orang lain apabila disertai pengorbanan. Kasih berkorban inilah yang memampukan orang untuk memikirkan kepentingan orang lain.

Semakin banyak kita memikirkan kepentingan diri sendiri, semakin kecil kita memikirkan orang lain. Semakin sedikit kita memikirkan kepentingan diri sendiri, semakin besar pula kemungkinan untuk memikirkan orang lain. "Yang paling besar ialah kasih." (1 Kor 13:13).

Salam Kasih Dalam Sang Sabda.

P. Yonas, SVD ( QC, 17/9/14)

Selasa, 16 September 2014

333 orang itu pun menerima Sakramen Penguatan

Hampir separuh bangku gereja di lantai dasar dipenuhi oleh peserta penerima Sakramen Penguatan yang terlihat rapi dan penuh semangat dengan seragamnya yang berwarna putih-putih. Angka 333 menjadi angka yang istimewa di Hari Minggu 14 September 2014 lalu dan sekaligus menjadi bukti pertumbuhan umat Gereja St. Albertus Agung yang cukup pesat.


Romo Vikjen Samuel Pangestu berkenan memberikan Sakramen Penguatan yang didampingi oleh Romo Antonius Sarto Mitakda, SVD dan Romo Antonius Ebo Resi, SVD. Penerimaan Sakramen Penguatan ini merupakan kali pertama dilaksanakan di Gereja Santo Albertus Agung karena selama ini selalu dilaksankan di Gereja Santo Mikael Kranji.


Peran serta tim katekese yang luar biasa telah mengantarkan 333 peserta penerima Sakramen Penguatan kali ini. Hal ini disinggung oleh Romo Vikjen dalam khotbah beliau, selain itu beliau juga berpesan kepada semua peserta penerima Sakramen Penguatan agar mampu menunjukkan kedewasaan rohaninya yang dimulai dari hal-hal yang sederhana yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari.


Setelah usai misa penerimaan Sakramen Penguatan dilanjutkan ramah tamah antara Romo Vikjen dengan tim katekese serta dewan stasi di aula gereja. Dalam kesempatan ini Romo Vikjen telah mengungkapkan bahwa proses stasi menjadi sebuah paroki sudah ada tanda-tanda dalam petik. Beliau sempat bertanya kepada umat yang hadir, nanti kalau ada romo disini akan ditempatkan dimana? Namun demikian Romo Vikjen percaya akan kemampuan umat di Harapan Indah yang dalam waktu dekat pasti akan segera mewujudkan gedung pastoralnya. 




Hal kedua yang diminta Romo Vikjen adalah calon iman dari Stasi Harapan Indah dan saat itu juga ada 3 anak yang langsung maju menyatakan ingin menjadi pastur. Dialog pun mengalir deras antara Romo Vikjen dan ketiga calon pastur tersebut. Romo Vikjen saat itu juga menyatakan kalau kondisi seperti ini posisinya menjadi impas dan beliau akan segera melaporkan semua itu kepada Bapa Uskup agar proses menjadi sebuah paroki segera terwujud.


JANGAN MENANGIS


















JANGAN MENANGIS (Luk 7:11-17)

Peristiwa kematian anak membawa duka mendalam karena kematian anak berarti pula musnahnya harapan dan masa depan. Itulah sebabnya janda di Nain sangat berduka meratapi kematian anak laki-lakinya yang tunggal. Yesus berbelas kasihan melihat janda ini dan meneguhkan hatinya, "Jangan menangis." ( Luk 7:13) dan menyentuh usungan jenazah. Jangan menangis karena sesudah duka-cita ada suka cita.

Menyentuh usungan jenazah berarti menyentuh bagian terdalam kesedihan hidup. Janda ini bersuka-cita karena Tuhan menyentuh persoalan hidupnya. Semua orang punya kesulitan hidup. Hendaknya kita tidak putus asa sebab dalam kesulitan selalu ada berkat dan harapan. Tuhan kita selalu hadir dalam kesulitan.

Salam Kasih Dalam Sang Sabda.

P. Yonas, SVD. (QC, 16/9/14)

Senin, 15 September 2014

BERDIRI DI DEKAT SALIB


















BERDIRI DI DEKAT SALIB (Yoh 19:25-27)

Ibu mana yang rela melihat anaknya menderita begitu hebat? Bagi ibu yang baik, penderitaan anak adalah penderitaannya. Bunda Maria merasakan penderitaan Yesus hingga wafat di Salib. Ia bahkan berdiri di dekat Salib, pusat penderitaan tetapi juga pusat harapan. Ia menjadi sabahat Puteranya, ketika sebagian besar orang-orang dekat dan orang-orang yang berbondong-bondong datang kepada-Nya lari meninggalkan Dia.

Bunda Maria mengajar kita untuk setia kawan. Berdiri di dekat salib berarti setia bersama orang yang menderita. Setia bersama orang yang keadaannya baik itu lebih mudah dan bisa dilakukan semua orang. Setia bersama orang yang keadaannya buruk itu jauh lebih sulit dan tidak semua orang bisa melakukannya.

Salam Kasih Dalam Sang Sabda.

P. Yonas, SVD (QC, 15/9/14)

Jumat, 12 September 2014

MENILAI DIRI


















MENILAI DIRI (Luk 6:39-42)

Lebih gampang menilai kesalahan orang lain daripada mengakui kesalahan sendiri. Menilai kesalahan orang lain itu gampang karena kita merasa lebih hebat, baik, suci dan sempurna dari yang lain. Mengakui kesalahan sendiri itu sulit karena dengannya orang disadarkan akan dirinya yang kecil, rapuh, terbatas, bukan segalanya dan berdosa.

Yesus mengkritik orang yang suka menilai kesalahan sesama tetapi sengaja mendiamkan kesalahannya bahkan yang lebih besar. Yesus tidak mempromosikan sikap diam terhadap kesalahan orang lain. Ia menuntut sikap yang adil. Maksudnya jangan sampai kita begitu getol memborbardir kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahan kita sendiri. Kita harus lebih dahulu menyadari kesalahan kita dan memperbaikinya agar kita memiliki kekuatan untuk memperbaiki kesalahan orang lain.

Kejujuran untuk mengakui keterbatasan, kelemahan, kesalahan bahkan dosa hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang rendah hati karena mereka lebih terbuka untuk dikoreksi. Sebaliknya hal ini mustahil bagi mereka yang angkuh karena mereka biasanya menutup diri terhadap koreksi. "Hai orang munafik, keluarkan dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu." (Luk 6:42b).

Salam Kasih Dalam Sang Sabda.

P. Yonas, SVD (QC, 12/9/14)

WARTA

More on this category »

ORANG MUDA KATOLIK

More on this category »

ALTO CLUB

More on this category »

KELOMPOK KATEGORIAL

More on this category »

INFO DEKENAT BEKASI

More on this category »
 
Support : Seputar Harapan Indah DOTcom | WELL PRO | Team KOMSOS
Copyright © 2011. Gereja Santo Albertus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Team Komunikasi Sosial St. Albertus
Proudly powered by Blogger