KAMIS PUTIH 17 APRIL 2014 MISA 1 PUKUL 17.00 WIB MISA 2 PUKUL 21.00 WIB ... JUMAT AGUNG 18 APRIL 2014 MISA 1 PUKUL 15.00 WIB MISA 2 PUKUL 19.00 WIB ... SABTU MALAM PASKAH 19 APRIL 2014 MISA 1 PUKUL 17.00 WIB MISA 2 PUKUL 21.00 WIB ... MINGGU PASKAH 20 APRIL 2014 HANYA 1 KALI MISA PUKUL 07.30 WIB
Latest Post

Minggu, 27 Juli 2014

Allah Yang Mengerti



Bapa kau Allah yang sempurna
Bagai domba tak bercela
Kau berkorban untuk diriku
Sebagai persembahan yang hidup
Ku sadari kutak kan sanggup tanpa
Penyertaan Mu selalu
Ingin ku jalani hariku
Bersamamu
Reff:
Ku tak sanggup membayar kasihmu
Yang selalu ada di setiap waktu hidup ku
Tiada yang melebihi cintaMu kepadaku Tuhan
Di dalam hidupku hanyalah dirimu satu
Bridge:
Hanya dirimu ya Tuhan Allah ku
Engkau sang juru selamat....


Lirik lagu diatas berjudul “Allah yang mengerti”, sebuah lagu karya dari rekan-rekan PDOMPKK Lumen Dei, secara khusus lagu ini digarap oleh Claudio, Jimmy, Aldo dkk. Lagu ini berisikan sebuah pengalaman batin penciptanya, ungkapan hati dan dalam bentuk doa, karena kasih Tuhan begitu besar, sehingga bagaimanapun caranya tak mungkin kita bisa membayar cinta kasih Tuhan.

Proses pembuatan lagu ini diawali ketika Claudio diberi tugas oleh Romo Heru untuk membuat lagu rohani. Bekerja sama dengan Jimmy, berjam-jam mereka merampungkan nada awal untuk lagu ini. Beberapa hari setelah itu, Claudio mencoba membuat liriknya tapi belum menghasilkan, hingga akhirnya ia berdoa. Meminta bantuan Tuhan agar lagu yang sedang dalam proses pembuatan ini dapat memberkati orang yang mendengarnya. Tuhan pun menjawab, dengan bantuan Aldo nada dan lirik lagu pun disempurnakan, rekamanpun bisa berjalan lancar.

Semoga lagu “Allah yang mengerti” ini dapat memberkati kita semua dan semakin menyadari akan besar nya cinta Tuhan.

Berikut Video saat lagu ini dinyanyikan pertama kali di PDOMPKK Lumen Dei :


Alfontius Arnold

    



Jumat, 25 Juli 2014

Menjadi Saksi Kristus

Minggu, 20 Juli 2014 Stasi Albertus mengadakan rekoleksi untuk 344 orang peserta penerima Sakramen Penguatan dengan tema “Menjadi Saksi Kristus” bertempat di 2 sekolah yang digunakan sebagai tempat pembinaan.



Peserta kelas 1 SMP – 3 SMP di Sekolah Cahaya Harapan materi dibawakan oleh Romo Antonius Padua Ebo Resi, SVD dan peserta kelas 1 SMA – Kuliah dan dewasa di Sekolah Tunas Harapan Nusantara materi dibawakan oleh Romo Antonius Sarto Mitakda, SVD.

Dalam materinya Romo Anton menjelaskan bahwa dengan menerima Sakramen Penguatan berarti berakar dalam Allah Tritunggal dan Gereja untuk menjadi saksi Kristus. Semuanya itu dapat diwujudkan dalam karya nyata melalui pelayanan dan berbagi terutama kepada yang miskin, lemah, kecil, dan tersisih dalam masyarakat. Anak-anak dapat ikut berperan aktif dalam kegiatan kelompok Kategorial yang ada di Stasi seperti Misdinar, OMK, PDKK, Koor dan Legio Maria.



Sedangkan dalam materinya Romo Sarto menjelaskan arti kata Rekoleksi yaitu mengumpulkan kembali hal-hal yang sudah kita tanamkan seumur hidup kita, hening dalam batin untuk mengambil nilai-nilai kesaksian-kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita dan semakin menyadari pengalaman perjumpaan yang hidup tentang Kristus sendiri dalam diri kita.

Untuk itu kita harus lebih bertanggung jawab pada hidup kita karena :
1. Allah menghendaki semua manusia diselamatkan.
2. Allah melakukan segala sesuatu untuk maksud tersebut.
3. Allah menjadikan kita anak-anak-Nya.   

Menjadi Katolik berarti menjadi seperti Kristus atau Kristus yang lain bagi sesama dengan cara mengampuni, melayani, menghargai, mengasihi dll.



Setelah menerima Sakramen Penguatan kita diharapkan menjadi Alter Kristus/Saksi Kristus dengan cara :

1. Hidup bagi orang lain tanpa pandang bulu.
Tidak lagi memusatkan perhatian pada kepentingan diri sendiri tetapi kepada kepentingan orang lain.

2. Memihak kepada orang-orang yang tersisih.
Yesus menyamakan diri-Nya dengan mereka dan mengasihi dengan tidak mengharapkan balasan.

3. Mengasihi dengan melebihi dari yang disyaratkan.
Tuhan mau melibatkan kita untuk melayani.

4. Kasih mensyaratkan iman dan iman mensyaratkan kasih.
Melakukan sesuatu untuk mengembalikan hidup kita dalam jalur Allah.

5. Menaati segala perintah Allah.
Dengan rendah hati mau belajar menerima dan melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan oleh-Nya.

6. Setia kepada Gereja yang didirikan Kristus.
Kristus yang mendirikan Gereja-Nya diatas Rasul Petrus.

7. Mengambil bagian dalam Tritugas Kristus.
Menjadi Imam, Nabi dan Raja.

Saksi dalam tradisi kekristenan :

1. Seseorang yang secara keseluruhan dilibatkan dalam kesaksian.
2. Seorang saksi kristiani diajukan ke pengadilan jahat.
3. Sebagai seorang murid Yesus yang setia dia akan bersaksi.



The Spirit of Pentecosta diberikan kepada para rasul dan kita semua, semangat Tuhan jadi kekuatan baru. Kebaharuan hidup, keluar dan berani bersaksi. Dalam sejarah Gereja selama 2000 tahun banyak rangkaian kesaksian iman kepada Yesus Kristus tanpa terputus-putus. Beberapa Martir/saksi karena imannya kepada Yesus Kristus yaitu : St. Stephanus,  St. Petrus, St. Paulus, Thomas More dan anaknya Margaret, Kim Tai Gon,  Paulus Miki dkk, Maksymilian Maria Kolbe, Mother Teresa, St. Paus Paulus II dan St. Yohanes XXIII.

Semoga dengan diadakannya rekolesi ini akan semakin menguatkan hati dan iman seluruh peserta yang akan menerima Sakramen Penguatan pada tanggal 14 September 2014 di Gereja Santo Albertus.

Sie Katekese
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

Kamis, 24 Juli 2014

Berbagi Kasih

Sebagai wujud syukur dan berbelarasa bagi yang membutuhkan, kami paduan suara Orang Muda Katolik St. Albertus menyisihkan sebagian penghasilan dan uang jajan kami untuk memberikan bingkisan Lebaran bukan hanya kepada pekerja yang beragama Islam, tetapi kepada semua pekerja di Gereja St. Albertus, di antaranya 5 satpam, 3 petugas kebersihan, 3 karyawan sekretariat, 2 teknisi dan 1 Koster.



Uang yang terkumpul kami belikan biskuit, kopi, teh dan gula pasir. Sedangkan 2 teman kami, Jessica dan Maria menyumbangkan sarung dan sirop.
 
 
Minggu pagi 20 Juli 2014, setelah misa ke-2 selesai, kami berkumpul di pos satpam Gereja dan mulai membagikan bingkisan yang telah kami siapkan. Hadir juga pembina kami, Ibu Anastasia Rusmiyati atau lebih dikenal dengan panggilan Bu Mijo dan juga Mas Eko.

 


Apa yang kami berikan mungkin tidak berarti banyak, tetapi kami memberikannya dengan hati yang tulus dan ikhlas. Dan tentunya kegiatan ini tidak akan berhenti sampai disini saja, tetapi kami akan berusaha untuk terus berbagi kasih bagi sesama yang membutuhkan.

Fransiska Sandra

Rabu, 23 Juli 2014

Keluarga Menjadi Tempat Untuk Belajar

Jumat, 18 Juli 2014 menjadi hari yang berbahagia bagi keluarga Bapak Anang dan Ibu Bernadeta. Karena pada hari itu diadakan 3 acara sekaligus di rumah kediaman mereka di Cluster Ifolia 2 Harapan Indah. Acara misa pemberkatan rumah yang dimulai pada pukul 20.00 WIB dihadiri lebih dari 40 orang umat Lingkungan Felisitas 3. Misa dipimpin oleh Romo Fransiskus Asisi Heru Kurniawan, SVD sekaligus untuk memperingat ulang tahun ke-43 Ibu Bernadeta dan ulang tahun pernikahan ke-15 Bapak Anang dan Ibu Bernadeta.



Dalam homili singkatnya, Romo Heru menyampaikan bahwa setiap keluarga yang tidak bisa hidup sehati muncul dalam tindakan sehari-hari. Entah itu di perkerjaan, relasi dengan orang lain, tentu lebih kasar dan tidak mempunyai hati sebagaimana yang telah diberikan di dalam keluarganya. Pemberkatan rumah merupakan pemberkatan keluarga, maka keluarga Katolik diharapkan dapat menjadikan keluarga sebagai sekolah atau tempat untuk belajar yang pertama dan utama. Kita lebih mudah mengisi rumah dengan berbagai macam perabotan, tapi jika tidak diisi dengan hati maka kita tidak akan pernah merasa bahagia. Dalam membangun rumah tangga mungkin ada percekcokan, tapi sesungguhnya keluarga adalah tempat untuk belajar.



Ingatlah janji perkawinan, karena kalau tidak ingat maka tidak akan bisa melaksanakannya. Karena waktu mengucapkan janji perkawinan adalah pilihan sendiri dan keiinginan diri sendiri bukan atas paksaan siapapun. Tidak akan pernah dari semak duri kita memetik buah ara dan buah anggur, maka bukan hanya dari rumah yang bagus kita memetik anak-anak dan kebahagiaan tapi dari kita sendiri. Sarana itu penting, tetapi isinya lebih penting.
 
 
Bangunlah keluarga menjadi tempat untuk belajar, belajar apapun : belajar memahai, belajar untuk berdoa, belajar untuk mencintai, belajar untuk bangkit ketika tidak dimengerti orang lain, belajar untuk bersosialisasi dengan tetangga, belajar untuk memberikan iman kita di dalam lingkungan. Begitu membahagiakan apabila seseorang melihat rumah dan keluarga adalah sebagai tempat yang dirindukan dan tempat merindukan. Buatlah rumah menjadi tempat sekolah sekaligus tempat yang dirindukan dan merindukan.

Proficiat buat keluarga Bapak Anang dan Ibu Bernadeta, semoga apa yang menjadi harapan-harapan keluarga diberkati oleh Allah.

Neli Apriyanti

Senin, 21 Juli 2014

PERCAYA KEPADA TANDA ALLAH


















PERCAYA KEPADA TANDA ALLAH (Mat 12:38-42)

Mengulangi hal yang sama kepada orang yang beku hati dan keras kepala tentu sangat menjengkelkan. Yesus mengalami peristiwa itu. Ajaran, perbuatan baik, penyembuhan orang sakit dan kerasukan setan serta mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya adalah tanda kehadiran Kerajaan Allah. Tetapi para ahli Taurat dan orang Farisi menutup mata dan hati terhadap semua itu. Mereka tidak percaya kepada Yesus dan segala pekerjaan-Nya. Mereka mungkin ingin Bapa di surga turun dan berkarya di tengah mereka. Padahal melihat Yesus dan pekerjaan-Nya berarti melihat Bapa. "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." (Yoh 14:9b).

Mereka tetap berkeras hati dan meminta tanda lain dari Yesus, tetapi Ia menolak memberikannya. Mereka tidak akan diberi tanda lain selain tanda Nabi Yunus. Yunus mewartakan pertobatan kepada orang-orang Niniwe dan merekapun bertobat dan percaya kepada Allah. Tanpa pertobatan, mereka tidak akan bisa percaya kepada Allah dalam diri Yesus.

Allah selalu hadir dan memberikan tanda-tanda-Nya termasuk yang paling biasa, sederhana dan kecil melalui keluarga, komunitas dan teman-teman kita. Sikap selalu menuntut dan mengeluh terhadap sesama bukan saja menyiratkan rasa tidak puas melainkan juga menunjukkan sikap menolak kebaikan Allah. Sebab orang yang sulit mempercayai kebaikan sesama, dia juga sulit mempercayai kebaikan Allah.

Salam Kasih Dalam Sang Sabda.

P. Yonas, SVD (QC, 21/7/14)

Jumat, 18 Juli 2014

Kunjungan Kasih WKRI St. Albertus

Dalam rangkaian ulang tahun WKRI yang ke-90 tepat pada tanggal 26 Juni 2014, setiap cabang
WKRI di Dekenat Bekasi diwajibkan mengadakan baksos dalam bentuk kunjungan ke Panti Asuhan. Salah satunya adalah WKRI cabang stasi St. Albertus Agung yang mengadakan kunjungan ke Panti Asuhan Yayasan Sinar Pelangi atau YSP Jatibening pada hari Sabtu tangal 12 Juli 2014.



Rombongan WKRI yang dipimpin oleh Ibu Vera sebanyak 25 orang berangkat dari Gereja St. Albertus Agung pukul 12.30 WIB menggunakan 5 mobil. Terlihat mobil penuh sesak dengan ibu- ibu WKRI ,hadiah untuk anak-anak panti asuhan dan juga sembako. Walaupun penuh sesak di dalam mobil terlihat penuh suka cita, terlihat dari wajah yang akan berbagi kasih dengan anak-anak yang kurang beruntung dalam keluarga.



Sesampainya di lokasi mendapat kejutan dengan hadirnya  Ibu Miranda selaku Presidium, Ibu Ririen, Ibu Theresia dan Ibu Telly (WKRI DPD Jakarta ) ditengah-tengah kami. Mereka menyempatkan hadir di panti asuhan setelah mengikuti RKCW di Jakarta Timur. Acara  dimulai dengan doa pembuka oleh Ibu Yustina dan dilanjutkan dengan acara hiburan yang dipandu oleh Ibu Ida Markus.



Jumlah anak-anak yang ada di YSP kurang lebih 100 anak, tetapi karena masih dalam suasana libur puasa  maka sebagian anak panti ada yang pulang ke keluarga masing-masing. Sehingga anak yang tinggal di panti sebanyak 30 anak-anak dan remaja dengan 10 ibu-ibu pengasuh. Untuk menghibur anak- anak TIM WKRI mementaskan panggung boneka yang dibawakan oleh Om Jabrik. Terlihat wajah anak-anak sangat gembira melihat pertunjukan yang penuh jenaka juga mengandung pesan moral yang disampaikan dalam cerita panggung boneka dan semua yang hadir merasa terhibur.



Usai acara panggung boneka ibu-ibu WKRI St. Albertus Agung memberikan tanda kasih untuk anak-anak panti secara simbolis yang diterima oleh pimpinan Yayasan Sinar Pelangi  Sr. Andre Lemmers, FCJM berupa  sembako,100 tas sekolah dan alat tulis. Semua Sumbangan sembako dikumpulkan dari partisipasi ibu-ibu WKRI cabang St. Albertus Agung begitu juga dengan tas sekolah dan alat tulis sumbangan dari salah satu keluarga anggota WKRI.



Sr. Andre Lammers, FCJM dalam kata sambutannya mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu WKRI St. Albertus yang sudah memberikan kasih untuk anak-anak panti, semoga apa yang diberikan dapat bermanfaat bagi anak-anak panti asuhan. Tak terasa dua jam kebersamaan dengan anak-anak pun terasa singkat dan berakhir dengan penuh suka cita. Senangnya bisa berbagi kasih bersama anak-anak panti asuhan semoga kunjungan ini dapat menumbuhkan kasih ibu-ibu WKRI terhadap sesama terutama mereka yang berkekurangan.



Selamat Melayani, Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Maria Siwi & Ditha Urspon

 

Kamis, 17 Juli 2014

HATI YANG BERKUALITAS


















HATI YANG BERKUALITAS (Mat 11:28-30)

Ketika kita mempunyai persoalan, kita akan mencari minimal teman cerita yang mau memahami kita. Sebab teman yang memahami kesulitan kita tidak cepat mempersalahkan dan mengakimi. Banyak orang menderita pada zaman Yesus. Mereka menderita karena tuntutan hidup keagamaan yang melampaui batas kesanggupan dan beratnya dosa mereka. Para ahli Taurat sedikitpun tidak mengerti batas kemampuan dan keterbatasan mereka sebagai manusia. Datang kepada mereka berarti semakin menambah beban dan sakit hati.

Yesus mengundang mereka untuk datang kepada-Nya sebab Ia memiliki kualitas hati yang berbeda dari para ahli Taurat. Kualitas hati Yesus terletak pada kelembutan hati-Nya dalam memahami keterbatasan manusiawi dan dosa setiap orang. Sehebat apapun orang, ia tidak bisa sempurna seperti yang diinginkan para ahli Taurat. Yesus tidak menuntut mereka melebihi kemampuan yang ada. Yesus juga tidak menyukai dosa, tetapi Ia mencintai pendosa. Ia mengerti bahwa orang bisa jatuh dalam dosa, tetapi mereka juga bisa bertobat. Kepada mereka, Yesus memberi kesempatan untuk bertobat. Kita dipanggil untuk mengenakan hati Yesus.

Semakin banyak orang Katolik yang memiliki hati seperti Yesus, semakin banyak pula orang yang merasakan hati Tuhan yang berbelaskasih dan maharahim. "...Belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati..." (Mat 11:29).

Salam Kasih Dalam Sang Sabda.

P. Yonas, SVD (QC, 17/6/14)

WARTA

More on this category »

ORANG MUDA KATOLIK

More on this category »

ALTO CLUB

More on this category »

KELOMPOK KATEGORIAL

More on this category »

INFO DEKENAT BEKASI

More on this category »
 
Support : Seputar Harapan Indah DOTcom | WELL PRO | Team KOMSOS
Copyright © 2011. Gereja Santo Albertus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Team Komunikasi Sosial St. Albertus
Proudly powered by Blogger