Makin Adil Makin Beradab

Pada Tahun Yubileum Kerahiman Allah (Extraordinary Jubilee of Mercy) yang dimulai 8 Desember 2015 –tepat pada Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda (Maria Imakulata), sampai dengan tanggal 20 November 2016, Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Bapa Paus Fransiskus menghendaki agar Yubileum dirayakan di seluruh dunia. Untuk itu, semua Katedral dan Gereja Lokal dibuka sebagai penanda tahun Yubileum.

Gereja dalam Tahun Yubileum mengajak seluruh umat Allah untuk hidup dalam semangat rekonsiliasi dan pertobatan, memperbaiki cara hidup yang tidak selaras dengan spiritualitas inkarnasi Yesus Kristus dan semangat gembala baik dan murah hati sebagaimana Bapa Murah Hati, dan meningkatkan hidup doa, laku tapa dan amal kasih.

Dalam konteks Keuskupan Agung Jakarta, kita memulai juga dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (2016-2020), yaitu AMALKAN PANCASILA. Tema besar itu dalam sepanjang lima tahun dijabarkan dalam tema tahunan. Tahun lalu mengambil temanya adalah “Kerahiman Allah Memerdekakan”. Tema itu juga yang sudah kira renungkan bersama tahun lalu dalam tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2016): “Amalkan Pancasila. Kerahiman Allah Memerdekakan”. Paling tidak kita telah memulai membatinkan fokus intense dalam dua hal, pertama ungkapan iman. Ungkapan iman berupa gerakan pendalaman spiritualitas atau hidup rohani melalui kegiatan-kegiatan liturgi dan katekese. Yang kedua perwujudan iman. Iman selain diungkapkan mesti juga diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan nilai-nilai luhur Pancasila melalui gerakan amal kasih secara nyata. Itulah kurang lebih yang kita renungkan sepanjang tahun 2016.

Menjadi Manusia yang Beradab Pada tahun 2017 ini, kita akan memasuki Tahun dengan tema “Amalkan Pancasila: Makin Adil, Makin Beradab.” Intensinya adalah Gereja Keuskupan Agung Jakarta sebagai persekutuan dan gerakan umat Allah bercita-cita menjadi pembawa sukacita Injili dalam mewujudkan Kerajaan Allah yang Maha Rahim dengan mengamalkan Pancasila demi keselamatan manusia dan keutuhan ciptaan.

Untuk mengenal lebih jauh tema kita tahun ini, saya ingin mengajak memahami logo yang sudah Anda sekalian lihat di samping altar gereja kita.

Logo terdiri dari tagline Arah Dasar 2016 - 2020 KAJ “Amalkan Pancasila” berwarna abu-abu sebagai warna permanen simbol komitmen -ketetapan hati; dan tema Pastoral Evangelisasi 2017 “Makin Adil – Makin Beradab” berwarna hijau, tanda semangat kesegaran dalam melangkah demi keutuhan ciptaan; serta visual dengan warna-warna dinamis yang mengandung arti:

Bentuk Gunungan merah dan kuning keemasan mengerucut ke atas melambangkan kehidupan manusia yang bergerak menuju kepada Allah. Dibuat seperti Mitra sebagai simbol kepemimpinan Bapa Uskup dalam peziarahan ini. Bentuk ini juga merupakan simbol (a) Roh Kudus; tetesan darah dan embun kehidupan yang berpihak pada kemanusiaan; (b) konfigurasi visual di dalamnya membentuk wajah manusia Pembawa Kabar Sukacita Injil yang bergembira.

Timbangan berwarna kuning keemasan dan aksentuasi/penegasan berwarna putih menjadi simbol semangat dan landasan hidup berkeadilan. Tampak membentuk Salib sebagai tanda siap berkorban demi keadilan.

Kepala Burung Garuda simbol keberanian, pantang menyerah, setia, selalu mengarahkan diri pada kebaikan dan kebenaran. Menyiratkan bentuk kepala lambang Garuda Pancasila.

Tangan berwarna coklat menjadi simbol umat Keuskupan Agung Jakarta yang bahu- membahu berkarya membangun keadaban publik agar martabat manusia ditinggikan, terciptanya perlakuan yang adil terhadap sesama manusia, dan saling menghormati, menghargai sesama manusia yang memiliki rasa, cipta, cinta, karsa, dan keyakinan.

Mata rantai kuning keemasan yang saling berkait mengingatkan kita pada simbol Sila Kedua Pancasila sebagai fokus Pastoral Evangelisasi 2017 yaitu menghayati dan mewujudkan “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”.

Bagaimana menjadi Manusia Adil dan Manusia yang Beradab?

Itulah peranyaan besar kita dan harus kita jawab dalam permenungan sepanjang tahun. Dalam Pertemuan Pastoral KAJ tahun lalu dirumuskan bahwa kata adil berarti situasi ketika semua orang diperlakukan sesuai dengan martabatnya. Manusia adalah tujuan pada dirinya, karenanya tidak boleh dijadikan sarana untuk tujuan yang lain. Ketika kita menempatkan martabat manusia di bawah barang atau harta milik maka kita memperlakukan manusia seperti mesin, alat produksi, robot, komoditas/ barang. Tepat di situlah kemanusiaan dan keadaban manusia direduksi.

Semua yang kita lakukan (pendidikan, pemberdayaan, dan lain sebagainya) mesti mengarah pada pembentukan manusia yang utuh. Manusia yang memiliki kompetensi diri, manusia yang memiliki nilai-nilai moral, dan manusia yang memiliki bela rasa terhadap sesamanya. Dengan demikian, kebutuhan manusia untuk diterima, diakui, dilibatkan menjadi bagian yang tak terpisahkan tujuan manusia itu sendiri. Pada akhirnya, Kehadirannya menjadi berkat bagi sesamanya.

Dalam surat gembala Bapa Uskup Agung Jakarta menyerukan agar kita memuliakan martabat manusia, menegakkan keadilan, dan memajukan keadaban. Ketiga hal di atas akan terwujud kalau kita memegang prinsip-prinsip sebagai berikut. Pertama, menempatkan harta milik atau sikap terhadap harta milik mesti dipahami sebagai milik Allah dan kita menggunakannya sebagai untuk kebaikan bersama. Kedua, menempatkan nilai kemanusiaan di atas harta milik. Ketiga, harta milik bukanlah tujuan melainkan sarana untuk memuliakan manusia, menegakkan keadilan sosial, dan menumbuhkan keadaban.

Dalam kerangka iman kita dipanggil juga untuk bersikap adil sesuai dengan martabat Anak-anak Allah karena rahmat pembatisan. Yesus dalam hidupnya senantiasa menghadirkan gambaran sebagai manusia yang sanggup berbelarasa (compassion) yakni memiliki hati bagi orang lain.

Cara pandang kita mestinya menyamakan cara pandang Yesus. Itulah perspektif Yesus yang mengadirkan sikap toleran, inklusif, bebas nafsu serakah, bukan pendedam, tetapi mampu saling mengampuni. Sementara Beradab/keadaban adalah situasi terjadinya habitus/kebiasaan sosial yang mendukung kemanusiaan (misalnya kebiasaan antri, berlalu lintas dengan baik, perhatian pada pekerja rumah tangga/karyawan gereja, hingga laku-sikap adil, tidak menindas, tidak melakukan kekerasan/kejahatan).

Ketika kita menghadapi situasi yang berlawanan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, Gereja perlu menularkan sikap adil dan habitus keadaban kepada masyarakat. Maka, tema kemanusiaan yang adil dan beradab” sebagaimana semangat yang terkandung dalam sila kedua Pancasila yang juga menjadi kunci dari sila-sila lain dalam pengamalan Pancasila, semakin relevan untuk Gereja perjuangkan.

Dipanggil untuk Terlibat

Kita semua dipanggil untuk senantiasa menampakkan Wajah Allah yang terlibat pada persoalan-persoalan masyarakat dalam semangat “kemuridan” pada Sang Guru, yaitu Yesus sendiri. Yesus mengambil rupa seorang hamba. Menjadi teman bagi orang-orang kecil, miskin, sederhana, terbuang, pendosa, pelacur, dan kumpulan manusia-manusia terbuang. Konsekuansinya, ia menerima kematian di atas salib. Ia menjadi Allah yang terlibat langsung dalam hiruk-pikuk hidup manusia.

Akhirnya, bersama seluruh umat KAJ, kita hendaknya memiliki karakter, berupa kedalaman hidup yang senantiasa dimaknai, menjadi saudara bagi sesamanya, memiliki keyakinan dalam peran dan perutusan sesuai dengan misi Yesus, memiliki integritas, dan kepekaan terhadap mereka yang membutuhkan. Semoga!

By Thomas Diman, Umat Lingkungan FA; Peserta Program Master di School of Goverment and Public Policy (SGPP) Indonesia







Previous
Next Post »

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah ConversionConversion EmoticonEmoticon