Anugerah Ilahi

“Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?  Atau iri hatikah engkau,  karena aku murah hati?” (Mat 20:15)


Suatu masa, aku bekerja di sebuah perusahaan penerbitan buku. Di situ aku menjadi bagian redaksi, secara khusus diriku menjadi lay-outer. Tatkala tidak ada naskah yang harus di-lay-out, aku membantu editor dalam mengedit sebuah naskah. Nah ... di sini ada seorang editor baru, seorang lulusan UGM, Yogyakarta. Waktu istirahat, dia membandingkan gaji antara bagian redaksi dengan administrasi. Seorang editor yang dituntut ketelitiannya, tidak boleh salah sedikit pun, justru digaji lebih rendah dibandingkan mereka yang di administrasi. Iri hati muncul pada dirinya. Bukankah seharusnya seorang editor lebih tinggi gajinya dibandingkan dengan bagian administrasi?

Dalam hubungan dengan Allah, seorang beriman yang berkarya di ladang Tuhan tentulah tidak memikirkan berapa upah atau bagaimana pengupahan yang diperolehnya. Mengapa? Dalam kondisi masing-masing, orang beriman menerima panggilan yang sama dari Allah. Orang beriman dipanggil untuk berkarya di ladang Tuhan. Ini merupakan rahmat tersendiri, karena umat beriman diajak dan dipercaya untuk menangani pekerjaan-pekerjaan ilahi. Orang beriman tentulah menyingkirkan pikiran dan sikap iri terhadap sesamanya, karena mengutamakan pekerjaan-pekerjaan ilahi yang diselesaikan secara tuntas. Orang beriman tentulah merasakan kebahagiaan karena hidup dan karya ilahi diperuntukkan bagi semua orang. Maka, setiap orang beriman dalam kapasitas dan keterbatasan masing-masing mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ilahi sepenuh hati. 

Pada masa pandemi ini, tentulah umat beriman memikirkan betapa kesehatan dan keselamatan bersama haruslah diutamakan. Setiap orang haruslah menyingkirkan kediriannya demi kesehatan dan keselamatan diri sendiri. Setiap pribadi terasa begitu penting kesehatan dan keselamatannya. Tentu, hal ini tidak seharusnya menimbulkan kepanikan yang justru mencelakai diri sendiri. Kesadaran akan arti penting kesehatan dan keselamatan diri sendiri seharusnya menjadi pendorong kuat untuk membangun kebersamaan yang kondusif bagi hidup manusiawi. Di sini panggilan ilahi untuk ikut terlibat secara nyata dalam karya penyelamatan Allah tentulah begitu kentara. Kecenderungan untuk mengambil keuntungan dari keprihatinan seluruh umat manusia haruslah disingkirkan. Bencana seluruh umat manusia ini haruslah mengedepankan keselamatan bersama. 

Jikalau demikian akankah orang akan merasa iri? Semua orang memiliki peran masing-masing dalam karya keselamatan ilahi! Semua orang mendapat upah yang sama: hidup dan berkarya bersama Allah bagi hidup umat manusia!


Penulis : Slamet Harnoto & Publisher : Fabianus - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online] Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Anugerah Ilahi"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel