Penyesalan Yang Menghidupkan

“Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya” (Yeh 18:26-27) 


Mencermati pergolakan batin akhir-akhir ini yang ditatapkan pada bacaan-bacaan minggu ini terbersit permenungan tentang penyesalan. Penyesalan, pikirku, ada di dalam (batin) diri sendiri, bukan sesuatu yang berada di luar diri sendiri. Tekanan yang berasal dari luar sering kali justru membutakan orang terhadap kesalahan atau keberdosaannya. Orang justru tidak peka terhadap kesalahan atau dosa yang telah diperbuat. 

Penyesalan merupakan rahmat ilahi. Daya ilahi mengarah pada pertobatan utuh yang mengubah pribadi seseorang. Orang mampu terbuka pintu batinnya akan kesalahan atau keberdosaan karena disentuh oleh daya ilahi. Pintu batin yang terbuka membawa orang untuk bercermin diri dan melihat keadaan dirinya secara utuh. Daya ilahi memampukan tidak hanya melihat kesalahan atau dosa tetapi sekaligus menguatkan pribadi untuk menyangkal dorongan tetap berada dalam keadaan salah atau berdosa, untuk menyangga pribadi yang jatuh karena kesalahan dan atau dosa, serta menguatkannya untuk bangkit kembali, bertobat dan menerima konsekuensi kesalahan (hukuman). 

Dalam kisah dua orang anak, daya ilahilah yang bekerja. Meski tampak konsisten dengan omongannya, anak pertama tidak mengikuti atau melakukan apa yang seharusnya dikerjakannya. Dalam konteks hubungan dengan Allah, anak kedua mengalami daya kekuatan ilahi sehingga ia mengalami perubahan dengan mengerjakan apa yang seharusnya, tidak sekadar mengikuti perintah. Anak kedua mengalami rahmat ilahi dalam hidupnya. Ia dimampukan untuk menyangkal kecenderungan dirinya mengikuti keinginan diri sendiri. Ia sadar dan paham bahwa ia harus mengikuti apa yang diperintahkan. Pewartaan Yehezkiel tentulah bergema, “kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya” (Yeh 18:27). 

Umat beriman tentunya memerhatikan sungguh pewartaan minggu ini. Persekutuan jemaat bukanlah kumpulan hobi atau arisan. Persekutuan jemaat merupakan persekutuan kasih (cf. Flp 2:1). Setiap orang tidak mengedepankan kepentingannya sendiri, tetapi mengutamakan orang lain, yang tentu saja tidak mengejar puji-pujian atau kehormatan diri sendiri (cf. Flp 2:3-4). Oleh karena itu, umat beriman (seharusnya) sehati sepikir dengan Kristus yang telah mengosongkan dirinya (cf. Flp 2:5-7). 


Penulis : Slamet Harnoto & Publisher : Fabianus - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online] Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Penyesalan Yang Menghidupkan"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel