ZIARAH JALAN SALIB LINGKUNGAN FELISITAS 4


DI GOA MARIA BUNDA KRISTUS TEBAR KAMULYAN, KU BERLUTUT DAN MEMUJI

“Dengarkanlah Maria…” alunan lagu itu terdengar  pukul 19.30 WIB di pondok-pondok kecil di  Harmoni. Salib diapit dua lilin menyala tertata rapi di meja. Di tengah keheningan doa, sesekali ditimpali gelak tawa anak-anak batita yang ikut bergembira karena orang tua  tercintanya duduk bersimpuh memegang lilin kecil sambil mengucapkan “Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuh-Mu Yesus.” Kemudian disambut secara bersama-sama oleh umat yang hadir, “Santa Maria Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.” Itulah sekelumit kegiatan doa rosario harian yang terjadi di Felistas 4 Harmoni.


Bulan Maria merupakan bulan yang penuh sukacita karena di bulan itulah kami umat Felisitas 4 memiliki kesempatan untuk beranjangsana dari satu rumah ke rumah yang lain guna berdoa dan saling mendoakan. Doa Rosario dilakukan Senin sampai dengan Sabtu, hari Minggu dan hari libur nasional ditiadakan. Mengapa? Karena diharapkan para keluarga dapat berdoa rosario di rumah masing-masing bersama anggota keluarganya. Suka cita berketempatan dan kesediaan dikunjungi merupakan tujuan kedua selain mendaraskan doa Rosario di bulan Maria ini.


Selain sebagai bulan doa Rosario, bulan Maria juga dikenal sebagai bulan penziarahan. Muncullah kerinduan kami untuk  mengenang peristiwa sengsara Yesus di Kalvari. Mengunjungi Goa Maria Tebar Kamulyan Subang sebagai implikasi kerinduan akan kenangan penderitaan Yesus, sehingga  menjadi pilihan untuk berlutut, memohon dan memanjatkan doa-doa.

Perjalanan panjang dihadang sedikit kemacetan, sehingga menimbulkan celoteh-celoteh kekesalan dari mulut-mulut mungil. Kehadiran Suster Zita dan Oma Hanny yang dengan ceria menghibur  dengan pujian dan candanya, seakan  mampu mengusir rasa jenuh yang mendera kalbu. Di gerbang Goa Maria, di bawah komando Prodiakon Bapak Petrus Wahyu, kami  membentuk barisan doa merah membara  (karena seragam kami berwarna merah). Udara sejuk, angin lembut menyapa menyertai kami dari satu perhentian ke perhentian berikutnya. Imajinasi kesengsaraan  Kristus seolah hadir di setiap perhentian dan menyapa kami. Di Kalvari, kami berlutut dengan mulut terkatup, namun sederetan syukur, puji dan permohonan takkan luput dari telinga-Mu. Kami sapa diri Yesus secara pribadi dalam doa diiringi  nyala  lilin  menari seolah mengerti gerak bibir memuji.



Ketika rohani ini telah terisi, giliran kami menikmati kebersamaan sebagai bentuk saling menyapa
dan bercanda, sehangat air belerang dan sesejuk udara bukit-bukit yang menjulang. Tatkala senja merapat dan bunyi pengeras suara memanggil-manggil, saatnya kami beranjak pulang meninggalkan sejuta asa dalam doa dan harapan, semoga Bunda Maria menghantarkan ke Putra-Nya. Tak lupa kami mengabadikan Romo Paroki yang memacu semangat OMK dalam membiayai kegiatannya. Berjuang terus Romo, kami sumbangkan sedikit talenta yang terkumpul dari umat Felisitas 4, St. Albertus Harapan Indah, semoga.

Subang, 25 Mei 2013
 
Hilarius Amin R - Felisitas 4

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel