Adil Tanpa Menghakimi

Kolom Gembala  : Rm. Bernardus Indragraha, Pr

Beberapa bulan belakangan ini, dunia kembali menjumpai berbagai peristiwa ketidakadilan terhadap saudara-saudari yang lebih lemah.  Tentu kita mendengar kasus George Floyd yang mengalami kekerasan bahkan pembunuhan oleh aparat keamanan. Uniknya, semua orang langsung menyalahkan para aparat keamanan dan menghakimi mereka sebagai pribadi-pribadi yang tidak menghargai kesetaraan gender.

Akibatnya banyak demo yang terjadi dan #blackslivematter menjadi viral di berbagai sosial media. Iya, memang tindakan yang dilakukan terhadap George Floyd salah, tidak adil, bahkan brutal. Tetapi, apakah tindakan menghakimi aparat kepolisian dengan berbagai demo dan kampanye yang berakhir rusuh merupakan suatu tindakan yang adil?

Apakah dengan adanya satu tindakan salah yang diberitakan oleh media, semua orang berhak menghakimi yang bersalah itu? Bukankah berbagai demo dan kerusuhan akibat kasus ini justru mengakibatkan aneka tindakan ketidakadilan lainnya? Di sinilah terjadi kebingungan antara berusaha menegakkan keadilan (suatu hal yang baik) dengan menghakimi pihak yang bersalah dan justru mengakibatkan ketidakadilan lainnya.

Atau mungkin dalam ranah lebih sempit, kita mengenal harsh comment atau komentar-komentar negatif yang besifat menghakimi, merendahkan, bahkan melecehkan pribadi yang hanya ingin mengupdate media sosialnya. Apakah pribadi itu melakukan ketidakadilan sehingga layak dihakimi dan diberikan komentar negatif? Atau yang lebih menarik kita bisa bertanya apa yang ada di pikiran orang pemberi komentar itu sebelum mengomentari postingan tersebut?

Jadi teringat kata teman saya, “Kalau mau melihat kebebasan berpendapat di Indonesia, lihatlah komentar-komentar di media sosial.” Lantas teman tersebut menunjukkan satu postingan dari selebgram wanita cantik yang berisikan banyak komentar sungguh menghakimi dan merendahkan pribadi selebgram tersebut

Jebakan dalam Menghakimi Tentu kita perlu melihat secara lebih detail tindakan menghakimi itu seperti apa, tujuannya untuk apa, dan bagaimana tindakan tersebut. Kita percaya bahwa tindakan menghakimi yang dilakukan oleh lembaga peradilan atau pemerintahan pasti adalah tindakan yang adil. Meskipun dalam beberapa kasus tetap bisa menjadi perdebatan. Inilah rumitnya mengusahakan keadilan dalam dunia yang begitu luas dengan berbagai pandangan dan pikiran manusia di dalamnya. Maka, kita mencoba untuk lebih berfokus kepada masing-masing pribadi manusia. Apakah tindakan menghakimi yang mungkin pernah kita lakukan adalah tindakan yang adil? Bagaimana mengukurnya? Bagaimana menghakimi itu menghasilkan suatu keadilan?

Paus Fransiskus pada tahun 2013, pernah ditanya oleh reporter mengenai pandangan Gereja terkait kaum gay dan lesbi. Suatu pertanyaan yang bersifat global dan perlu dijawab dengan apa yang menjadi pandangan Gereja Katolik. Paus Fransiskus menjawab, “Bila seseorang itu gay dan dia mencari Allah serta memiliki kehendak yang baik, siapakah saya untuk menghakimi (who am I to judge)?” Paus Fransiskus mengatakan hal tersebut untuk memparafrase apa yang menjadi isi dari ajaran Katekismus Gereja Katolik bahwa mereka perlu diperlakukan dengan penuh perhatian dan tidak dimarjinalisasikan. Inilah teladan Paus Fransiskus yang berusaha untuk bersikap adil tanpa perlu menghakimi mereka yang mungkin pernah melakukan tindakan salah.

Melalui hal tersebut, paus sendiri menunjukkan kepada kita bagaimana berlaku adil tanpa menghakimi orang lain. Menjadi jelas apa yang perlu kita hindari dalam tindakan menghakimi adalah jebakan untuk mengerdilkan orang lain atau mengganggap orang lain lebih buruk daripada kita. Jebakan itulah yang sering membuat kita 


melakukan tindakan menghakimi yang berakhir pada mendiskriminasi, merendahkan, bahkan melecehkan pribadi yang lain. Dengan demikian, jebakan dari menghakimi inilah yang mengakibatkan tindakan menghakimi menjadi suatu tindakan yang tidak adil. Kita bisa melakukan tindakan tidak adil melalui pikiran, perkataan, dan komentar-komentar di media sosial kita. Jangan sampai tindakan menghakimi kita malah membuat kita melakukan tidak adil karena kita terjebak dalam sikap merendahkan orang lain tersebut

Lantas, tindakan menghakimi seperti apa yang bisa membawa kita sampai kepada tindakan yang adil bagi orang lain?

Menghakimi Demi Terwujudnya Keadilan
Menurut pendapat pribadi saya, sebenarnya ada dua hal yang bisa kita lakukan menyangkut sikap kita dalam menilai atau menghakimi orang lain. Yang pertama adalah mengingat bahwa kita tidak melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Hmmm, sepertinya kita tidak begitu peduli. Tidak baik memang, tetapi hal itu jauh lebih baik dibandingkan menghakimi orang lain menurut pendapat pribadi kita. Karena menghakimi lebih sering dikonotasikan sebagai hal yang negatif, maka tidak ada satu pun orang yang senang dinilai menurut pendapat orang lain yang buruk mengenai dirinya. Selain itu, kita tidak menjalani hidup dengan caranya, sehingga kita tidak pernah tau apa yang kita tuduhkan adalah benar.

Yang kedua, jika kita bisa lebih bijak, kita seharusnya dapat adil sejak dalam pikiran. Kita tidak terburu-buru menyimpulkan menurut pendapat pribadi mengenai suatu sebab. Dengan adil sejak dalam pikiran, kita akan lebih melihat sesuatu dengan cara yang baik. Kita mencari tahu lebih dalam apa yang menyebabkan sesuatu terjadi demikian, dan tidak mudah menghakimi. Untuk itu, lebih baik kita mulai mengingatkan diri sendiri ketika hendak menilai orang lain ataupun suatu hal yang terjadi. Tidak perlu memunculkan kebencian dengan terburu-buru menghakimi orang lain. Setiap orang memiliki alasan tertentu yang kita tidak pernah tahu. Terakhir dan yang paling penting, selalu kita mengingat dan bertanya sebelum melakukan tindakan atau menilai orang lain, “Apa yang sebaiknya saya lakukan, katakan, atau berikan komentar terhadap orang lain sehingga situasi menjadi lebih adil dan manusiawi?” Dengan pertanyaan ini, kita akan terbantu untuk tidak jatuh kepada jebakan dari menghakimi dan bisa melakukan tindakan adil kepada semua orang bahkan yang mungkin pernah melakukan tindakan salah.

Kisah Xi Jinping 

Disebutkan bahwa Presiden Xi Jinping dari Tiongkok pernah berkisah: Ketika saya masih kecil, saya sangat egois, selalu mengambil yang terbaik untuk diri saya sendiri. Perlahan-lahan, semua orang meninggalkan saya dan saya tidak punya teman. Saya tidak berpikir itu salah saya tetapi saya mengkritik dan menyalahkan orang lain. Ayah saya memberi saya tiga kalimat untuk membantu saya dalam hidup. Suatu hari, ayah saya memasak dua mangkuk mie dan meletakkan dua mangkuk di atas meja. Satu mangkuk hadir dengan satu telur di bagian atas mie dan mangkuk lainnya tidak memiliki telur di atasnya. Ayah berkata, "Anakku, silakan kamu pilih mangkuk mana yang kamu inginkan." Telur sulit didapat saat itu! Hanya bisa makan telur selama festival atau Tahun Baru. Tentu saja saya memilih mangkuk dengan telur! Saat kami mulai makan. Saya mengucapkan selamat kepada diri saya sendiri atas pilihan dan keputusan bijak yang saya lakukan dan mendapatkan telur itu. Lalu saya terkejut ketika ayah saya makan mie, ada dua telur di bawah mangkuknya, tersembunyi di bagian bawah mie! Saya sangat menyesal! Dan memarahi diri saya sendiri karena terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Ayah saya tersenyum dan iba kepada saya, “Anakku kamu harus ingat apa yang dilihat matamu mungkin tidak benar. Jika kmu berniat mengambil keuntungan dari orang-orang, kamu akan berakhir dengan kekalahan.” Keesokan harinya, ayah saya kembali 

memasak dua mangkuk mie: satu mangkuk dengan telur di atasnya dan mangkuk lainnya tanpa telur di atasnya. 

Sekali lagi, dia meletakkan dua mangkuk di atas meja dan berkata kepada saya, "Anakku, silakan pilih mangkuk mana yang kamu inginkan?" Kali ini saya lebih pintar. Saya memilih mangkuk tanpa telur di atasnya. Yang mengejutkan saya, saat saya memisahkan mie di atas, tidak ada satu pun telur di dasar mangkuk! Sekali lagi ayah saya tersenyum dan berkata kepada saya, “Anakku, kamu tidak harus selalu bergantung pada pengalaman, karena kadang-kadang, hidup dapat mengecohmu atau menipu kamu. Tetapi kamu tidak boleh terlalu jengkel atau bersedih. Kamu hanya perlu memperlakukan hal ini sebagai pengetahuan yang kamu dapat dari proses pembelajaranmu.” 

Hari ketiga, ayah saya lagi memasak dua mangkuk mie. Satu mangkuk dengan telur di atas dan mangkuk lainnya tanpa telur di atasnya. Dia meletakkan dua mangkuk di atas meja dan kembali berkata kepada saya sebagaimana sebelumnya. Kali ini, saya bilang kepada ayah, "Ayah, kamu pilih dulu. Ayah adalah kepala keluarga dan berkontribusi paling banyak kepada keluarga." Ayah saya tidak menolak dan memilih mangkuk dengan satu telur di atasnya. Saat saya makan semangkuk mie saya, di hati saya berkata pasti tidak ada telur di dalam mangkuk. Yang mengejutkan saya! Ada dua telur di dasar mangkuk. Ayah saya tersenyum kepada saya dengan cinta di matanya, “Anakku kamu harus ingat! Ketika kamu berpikir untuk kebaikan orang lain, maka hal-hal baik akan selalu terjadi pada dirimu.” 

Kisah ini mengajarkan kita untuk bersikap adil kita hanya perlu berpikir untuk kebaikan orang lain. Entah dalam rangka kita sedang membela keadilan, menghakimi orang lain, atau dalam berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. 



Publisher : Hery WW - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online]
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Adil Tanpa Menghakimi"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel