Jangan Menindas



25 Oktober 2020 Minggu Biasa XXX

Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40)

Jangan Menindas

Mencermati perkembangan global, aku merenungkan cara hidup bersama umat manusia. Rasaku, perhatian penuh kasih sayang haruslah ditekankan pada setiap insan. Setiap orang perlu belajar dan terus belajar bagaimana mengetahui dan memahami keadaan sesamanya. Tatkala sedang sakit, seseorang tentu sangat membutuhkan pertolongan sesamanya. Seandainya sesamanya tidak menyadarinya, bagaimana yang sakit dapat memperoleh pertolongan?

Umat beriman tentulah tidak asing terhadap hukum kasih; tidak asing pula terhadap bagaimana mengasihi sesama secara konkret. Kitab Keluaran menegaskan satu hal: jangan menindas orang lemah! Dalam bacaan Kitab Keluaran disebutkan siapakah orang lemah: janda dan anak yatim. Merekalah yang dari segi finansial lemah. Dalam masyarakat Yahudi pada waktu itu, peran laki-laki, sebagai penopang ekonomi, begitu dominan. Secara sosial juga demikian. Maka, Allah menggariskan agar tidak menindas mereka!

Seiring dengan perubahan sosial dan ekonomi hidup manusia, umat beriman pun belajar tentang bagaimana mengetahui dan memahami kelemahan sesama. Orang tidak sekadar memahami permasalahan sosial-ekonomi secara individual. Ada tatanan, baik yang disebut tradisional maupun modern, yang cenderung menindas. Sebagai rumah bersama, bumi seharusnya ditata bagi seluruh umat manusia, termasuk generasi yang belum terlahir. Suatu kebijakan sosial-ekonomi seharusnya menempatkan seorang anak manusia yang belum dan baru lahir untuk menikmati jaminan kesehatan dan keselamatan.  Tentulah ini menyangkut hak hidup yang asasi sifatnya.

Namun apakah tatanan yang ada bergantung pada hukum kasih sebagaimana hukum Taurat dan para nabi? Bukankah masih ada sebagian orang yang justru memanfaatkan celah tatanan yang ada untuk mencari keuntungan diri sendiri?

Pada akhirnya aku tawarkan satu permenungan: jangan menindas siapapun! Sikap hormat terhadap sesama sebaiknya dibangun dan dijaga kelanggengannya. Bagaimanapun lemahnya orang atau kelompok orang tentulah memiliki martabat manusiawi yang sama. Orang tidak dapat dipaksa menggapai sesuatu yang ada di luar jangkauan kemampuannya secara pribadi. Tidak jarang, orang butuh bantuan atau pertolongan sesamanya. Ambillah contoh orang yang sederhana hidupnya. Cara berpikirnya pun sederhana. Namun ia rajin (ringan tangan) dalam mengerjakan pelayanan gerejani. Pantaskah orang semacam ini dituntut lebih sebagaimana seorang berpendidikan tinggi?

Kembali ke awal, kiranya sikap hormat kepada sesama tampak dalam menjaga keselamatan bersama. Keselamatan tentulah disadari sebagai nilai tertinggi pada saat pandemi sekarang ini. Oleh karena itu, berobat tidaklah diukur dari kemampuan seseorang untuk membayarnya. Orang sadar betul akan arti keselamatan tanpa memperhatikan siapakah yang datang berobat. Tiadanya penindasan tentu sangat terasa pada masa sekarang ini.

Tuhan memberkati. Amin.

~o0o~



Penulis : Slamet Harnoto & Publisher : F.X Rudy - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online] Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Jangan Menindas"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel