Surat Keluarga Oktober 2013

 
 

Siapakah Bunda Maria Dalam Perjuangan Keluarga Kita?

Keluarga-keluarga KAJ yang terkasih, Bulan Rosario kembali mendatangi kita sesudah kita diperkaya dengan kekayaan Kitab Suci yang memberi makna bagi hidup keluarga kita. Kali ini kita diajak oleh Gereja untuk mendoakan bersama doa-doa Gereja bersama Maria, Bunda semua orang beriman.

Ketika kita mendoakan Rosario, kadang-kadang hati kita tidak sungguh sedang berdoa. Kita mendoakan butir-butir itu dengan hati yang penuh cinta pada Sang Bunda, sementara merenungkan sikap dan perbuatan Maria sebagai teladan hidup beriman kita dalam keluarga. Maria adalah sungguh pribadi yang tak pernah habis kita gali untuk kekayaan iman.

Hati saya sangat tergugah menyaksikan ada begitu banyak ibu dan bapak, sebagai orangtua yang sangat bertanggung jawab. Mereka yang berjuang dengan gaji pas-pasan, dengan anak-anak yang terus membutuhkan biaya, tetapi mereka dengan gagah berani menjalani hidup tanpa mengeluh atau merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Di antara mereka, banyak yang berprofesi sebagai penjual makanan di pinggir jalan, tukang pengangkut sampah, sampai yang biasa menjadi pembantu rumah tangga.

Rasanya, melihat perjuangan para  orangtua yang mencintai keluarganya membuat kehidupan Maria (dan Yusuf) menjadi terwujud kembali. Mereka berhasil menemukan kembali cinta kasih Allah di tengah pengalaman hidup yang, kadang-kadang, menurut banyak orang adalah penderitaan yang sering melemahkan iman.

Seorang nenek, usia 59 tahun,  adalah seorang Katolik yang sederhana. Ia hidup bersama 2 cucunya yang ditinggalkan oleh kedua orangtua mereka karena perceraian dan berjuang untuk menghidupi mereka yang dikasihinya. Sebagai buruh cuci, ia pasti jauh dari cukup. Banyak teman se-Gereja yang menolongnya mencari uang dengan mencucikan pakaian mereka.

Nenek ini tidak mengijinkan kedua cucunya ikut mencuci, tetapi ia memberi mereka kesempatan untuk menemaninya mengantarkan cucian. Kesedihannya bukan karena ia harus bekerja keras dan tetap miskin. Ia sedih membayangkan kedua cucunya tidak beribu dan berayah. Ia tidak tenggelam mengasihani diri, tetapi justru terus mencintai. Di tengah kesibukannya itu, ia tetap menemani kedua cucu yang masih kelas 2 dan  4 ke sekolah dan menjemput mereka juga.

Untuk kebanyakan orang di kota ini, barangkali cerita macam itu mudah terlupakan, karena terlalu banyaknya kisah yang sama. Tetapi kisah perjuangan satu orang seperti Maria jugalah yang membuat Gereja kita masih menghormati pribadi itu. Menghormati bukan semata “meminta-minta” saja, tetapi lebih meneladan hidupnya, sehingga ketika mengalami pengalaman sulit dan menantang, tidak putus asa.

Keluarga keluarga yang terkasih, Jakarta dan sekitarnya bisa membuat kita hanyut dalam pengalaman berlimpah harta dan gemerlap kota. Akan tetapi tidak sedikit juga yang masih mengalami perjuangan dan duka yang mendalam menjalani hidupnya. Ada juga yang menjadi putus asa dan berhenti berjuang. Perceraian, perpisahan, atau pertengkaran yang terus menerus dapat menjadi cara untuk menyelesaikan masalah.

Akan tetapi sebagai orang beriman, seperti Maria, kita perlu membiarkan Allah mendidik kita dan menguatkan kita  melalui apa saja yang tak terpikirkan. Asalkan kita tidak putus asa, maka pengharapan akan selalu diberikan dan menyelamatkan kita dari pengalaman merasa tak berarti.

Perjuangan setiap orang pasti berbeda. Kesulitan setiap orang pasti ada, betapapun makmur tampaknya. Jangan merasa sendirian di tengah kota yang “berebut” rejeki ini. Masih ada Tuhan yang selalu menjamin hidup kita, seperti Rosario yang tak ada ujungnya, tetapi bergantungkan salib yang membuat segala sesuatu menjadi alasan rohani untuk tanpa putus berdoa kepada Allah. “Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya.” (Mzm.27:3)

Maria pernah menjadi orang paling “malu” dan takut. Ia pernah menjadi orang yang paling bingung dan tak mengerti. Akan tetapi, ia ternyata justru bisa menjadi ibu yang membuat Sang Putera mempunyai persiapan yang cukup untuk menjadi Orang Besar yang dikagumi sepanjang masa. Ketegaran dan keperkasaan Maria semoga menjadi teladan bagi Bapak-Ibu yang merasa ragu-ragu dan cemas akan keluarganya.

Tuhan punya banyak cara untuk menolong kita, asalkan kita tidak ragu dan kehilangan iman. “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku." (Luk.7:22-23). Janji Tuhan ini indah, hanya bagi mereka yang tidak hanya berdoa, tetapi juga mempercayai apa yang didoakannya.

Marilah menyambut Rosario setiap hari dengan hati gembira, karena bersama doa yang panjang itu, kita menemukan saat paling mesra dengan Tuhan. Rosario membuat kita menikmati setiap kata wasiat Salam Maria, Bapa Kami, Kemuliaan, Terpujilah, dan doa pribadi menjadi semakin bermakna bagi hidup dan perjuangan di dalamnya. Selamat merenungkan.

Tuhan Yesus memberkati perjalanan hidup keluarga kita semua. Amin

Salam Keluarga Kudus

Rm. Alexander Erwin Santoso MSF
Komisi Kerasulan Keluarga KAJ


 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel