Hidup Berkelimpahan

“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10)

3 Mei 2020 Minggu Paskah IV Minggu Panggilan

“Hidup Berkelimpahan”

Saat renungan ini ditulis sebagian orang asyik masyuk memahami arti dari mudik dan atau pulang kampung. Bagiku, keduanya memiliki kesamaan: ketemu dengan sanak keluarga (terutama orangtua). Maksud/alasan kedatanganku bisa bermacam-macam: kehilangan penghasilan, memenuhi kerinduan, atau sekadar mengikuti ritual masyarakat. Tentu saja aku harus memersiapkan “dompet” selama pertemuan dengan sanak keluarga itu. Baik panjang atau pendek, aku memikirkan bagaimana saya bisa berjumpa dengan sanak keluarga dan bagaimana selama perjumpaan itu. Singkat ceritera, sadar atau tidak, aku memiliki rancangan selama perjumpaan itu.



Yohanes mewartakan, bahwa kedatangan Yesus tidak sekadar mudik atau pulang kampung. Ia adalah Gembala “domba-domba”. Pewartaan Yohanes membedakan antara kedatangan Yesus dan pencuri/perampok. Yesus tidak seperti pencuri yang hanya membuat kebinasaan “domba-domba”. Yesus justru memberi hidup dan membikin hidup “domba-domba” semakin berlimpah. Ya ... karena Yesus merupakan Gembala “domba-domba”.

Bagiku, keberadaan Yesus itu menunjuk pada kesejahteraan tiap “domba”. Itu berarti bahwa individu “domba” harus diperhatikan dalam kebersamaan. Salah satu yang penting dari peristiwa Yesus adalah bahwa semua makan dengan kenyang, bahkan terdapat sisa makanan (lih. Mat 14; Mrk 6; Luk 9; Yoh 6). Makan kenyang dan sisa makanan menunjuk pada kesejahteraan jiwa raga sekarang dan masa depan. Sang Gembala tidak hanya memikirkan dan bertindak saat ini, tetapi sekaligus untuk masa depan “domba-domba”. “Domba” tidak hanya hidup sekarang, tetapi juga berkelanjutan.

Maka, bagiku, penting bagi masyarakat “domba” yang mengenal Sang Gembala untuk memikirkan dan bertindak dalam kebersamaan untuk memerhatikan “individu domba”. “Domba” yang mengenal suara Sang Gembala tentulah tidak sekadar memikirkan hidupnya sendiri, tetapi sekaligus mau berbagi. Meskipun Sang Gembala sudah bersikap adil, tetapi kalau ada yang serakah, tidak memberi peluang atau kesempatan bagi yang lain, tentulah “domba” ini bagaikan pencuri yang menghendaki kebinasaaan bukan “domba” lain semata, tetapi dirinya sendiri juga.

Singkat cerita, agar hidup “domba” berkelimpahan, bagaikan mudik atau pulang kampung, tatanan kehidupan haruslah dirancang sungguh. Infrastruktur kesehatan haruslah diperhatikan dan dibangun, tidak hanya infrastruktur ekonomi. Demikian pula dengan infrastruktur pendidikan. “Domba” tidak dapat berbicara dengan lantang tentang pertumbuhan pundi-pundi kekayaan tatkala kebodohan dan penyakit menggerayanginya. Orang hidup berkelimpahan tatkala memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan dirinya.


Penulis : Slamet Harnoto & Publisher : F.X Rudy - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online] Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Hidup Berkelimpahan"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel