Makan Untuk Hidup

“Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51)

14 Juni 2020
Hari Raya TUBUH DAN DARAH KRISTUS


Makan Untuk Hidup

Saat kutulis refleksi ini, aku baru saja sarapan. Teringat olehku perkataan seorang dokter hewan waktu di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Dokter itu mengatakan bahwa sebuah penyakit dapat ditelusuri melalui apa yang telah dimakannya. Makanan itu bisa berarti makanan pokok yang disantap tiga kali sehari, atau sering dimakan karena kesukaannya, atau juga barusan dimakan. Memori tentang perkataan seorang dokter hewan ini membuatku berpikir tentang sarapanku pagi ini. Apakah sarapanku menyehatkan tubuhku atau justru sebaliknya?

Yohanes berbicara tentang “daging Yesus” yang dimakan untuk hidup selama-lamanya. Itu berarti bahwa “daging Yesus” melebihi makanan harian yang hanya memberikan daya hidup sementara. Orang harus terus makan agar dapat tetap hidup, meski pada akhirnya tetap mati. Sebaliknya, memakan “daging Yesus” membuat manusia dapat hidup abadi. “Daging Yesus” tidak sekadar membuat orang sehat, tetapi sungguh menghancurkan batas hidup manusia, yakni kematian.

Satu refleksi sederhana yang saya tawarkan dalam situasi pandemi sekarang ini adalah membedakan antara “hidup sementara” dan “hidup abadi”. Makanan seperti nasi, roti, sayur, daging ... merupakan makanan untuk hidup sementara; sedangkan “nasi yang turun dari surga” merupakan makanan untuk hidup abadi. Orang tidak hanya makan nasi dari dunia ini, tetapi seharusnya sekaligus memakan “nasi yang turun dari surga”. Orang tidak sekadar memikirkan kesementaraan hidup, tetapi seharusnya sekaligus memikirkan keabadian hidup. Orang tidak dapat memikirkan saat ini saja, tetapi sekaligus harus memikirkan keberlangsungan hidup.

Kiranya sangat baik pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dalam situasi pandemi direnungkan tentang keberlangsungan hidup manusiawi. “Memakan daging Yesus” kiranya dapat dipahami sebagai penerimaan akan orientasi akan keberlangsungan hidup manusiawi. Umat beriman yang telah “memakan daging Yesus” haruslah memiliki orientasi hidup seluas hidup ilahi. Itu berarti kesementaraan hidup sekarang ini berada dalam pelukan hidup ilahi dimana orang mampu menyingkirkan segala penderitaan dan kematian demi keberlangsungan hidup. Egoisme atau egosentrisme menyediakan jalan penderitaan dan kematian. Oleh karena itu, hal tersebut haruslah disingkirkan. Umat beriman sudah dimampukan untuk menampakkan dan mewujudnyatakan keabadian dalam kesementaraan hidup yang diwarnai dengan penderitaan dan kematian.

Semoga demikian. Amin.

Penulis: Slamet Harnoto & Publisher : F.X Rudy - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online] Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Makan Untuk Hidup"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel