Berjaga : Penantian Penuh Harap

“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya”
(Mat 25:13)



Berjaga: Penantian Penuh Harap

Beberapa waktu yang lalu aku menjenguk bapak yang dua bulan lebih terbaring sakit. Aku sempatkan untuk menengok rumah dan menemui kakak ipar yang diserahi untuk mengelola usaha bapak. Aku merasa sangat heran melihat iparku yang satu itu. Ia merasa tidak ada yang dapat dilakukannya terhadap apa yang ada di rumah, padahal ada peternakan lele, persewaan hajatan, kebun, dan sawah. Sebenarnya tidak ada waktu luang.

Ternak lele, misalnya, sambil menunggu panen dia dapat mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat pakan sendiri. Di desaku berlimpah pakan alternatif yang dapat memangkas biaya ternak lele sehingga membawa keuntungan berlimpah. Tapi itu tidak dilakukan iparku. Dia hanya memberi makan lele sehari sekali.

Berbeda dengan iparku, bapak senantiasa memerhatikan semua usahanya. Tatkala masih “gagah”, persewaan selalu diperiksa “kesehatan”-nya sehingga saat disewa siap dibawa dan dipasang di tempat hajatan. Demikian pun dengan sawah senantiasa ditengok, tidak sekadar menyerahkan penggarapannya pada orang lain. Di samping itu, bapak pun mengisi waktu luang dengan jualan di depan rumah.

Kedatangan Tuhan kembali bagaikan kedatangan “rejeki berlimpah”. Tidak sedikit orang yang mendambakan kedatangan “rejeki berlimpah” tanpa harus bersusah payah. Namun apakah mungkin? Orang tentulah harus bekerja keras agar memeroleh “rejeki berlimpah”. Itu pun sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Demikian pun kurang lebihnya “kedatangan Tuhan”. Tidak ada yang tahu kapan, di mana, dan bagaimana “kedatangan Tuhan”. Namun demikian satu hal yang pasti, sebagaimana disabdakan Yesus, “Orang harus bersiap-siaga selalu dalam menyambut kedatanganNya” (cf. Mat 25:13). Itu berarti bahwa orang tidak dapat berpangku tangan saja. Orang menanti dan mengisi waktu sampai saat kedatangan Tuhan dengan berkarya atau bekerja. Sebagaimana menanti panen padi atau panen lele, orang bekerja keras menanti kedatangan Tuhan. Sebagaimana kerja keras agar hasil panen padi atau panen lele berlimpah, orang sangat berharap bahwa kedatangan Tuhan memberikan kebahagiaan abadi bagi hidupnya.Kedatangan Tuhan dapat diartikan sebagai saat pertanggungjawaban hidup pribadi kepada Tuhan. 

Orang yang telah bekerja keras dalam mengungkapkan dan mewujudkan imannya akan memeroleh penilaian dari Tuhan: bagaimanakah penerimaan atas pertanggungjawabanku? Segera diajak masuk ke dalam kebahagiaan Tuhan ataukah ditolak atau ditinggalkan? Tentulah Tuhan tidak sekadar menilai, tetapi sekaligus memenuhi janji. Tuhan akan mengajak orang tersebut masuk ke dalam kebahagiaanNya.

Pengharapan kristiani akan janji Tuhan tentulah tidak akan sia-sia. Ketidaksia-siaan itu dikarenakan Tuhan sendiri tidak akan pernah mengingkari diriNya. Janji Tuhan pasti terwujud. Namun orang tidak dapat berpangku tangan, berserah diri pada nasib. Orang ditantang untuk bertanggungjawab atas hidupnya sendiri. Orang yang telah menikah tentulah akan bertanggung jawab atas kesejahteraan isteri dan anak-anaknya. Umat beriman bertanggung jawab atas keberlangsungan dan kesejahteraan hidup Gereja dan masyarakatnya. Penantian kristiani adalah pengharapan kreatif. Orang berusaha menemukan jalan keluar dalam berbagai permasalahan hidupnya. Ia tetap berpengharapan meski berhadapan dengan jalan buntu. Masih ada Tuhan! Ia pasti memberi jalan bagi mereka yang percaya kepadaNya.

Semoga demikian. Amin!

Penulis : Slamet Harnoto & Publisher : Fabianus William - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online] Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Berjaga : Penantian Penuh Harap"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel