Pertanggungjawaban Umat Beriman

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” 
(Mat 25:21)




Pertanggungjawaban Umat Beriman!

Dari tahun ke tahun, dari satu tempat ke tempat berikutnya, aku bekerja. Dari awal penerimaan, aku bersyukur tidak hanya akan memeroleh penghasilan dari pekerjaan, tetapi terutama merupakan kesempatan untuk mengekspresikan diri melalui pekerjaan yang aku terima. Hal ini tampak begitu jelas di sebuah sekolah dimana diriku mengajar. Aku tidak mengejar kenaikan gaji ataupun prestasi. Yang pasti, makin lama kurasakan aku diberi beban pengajaran yang semakin berat, meski gaji tiap bulannya tetap. Bahkan selentingan terdengar isu aku dipromosikan menjadi kepala sekolah.

Apa yang kupelajari?

Pertama, orang bertanggung jawab atas apa yang dipercayakan kepadanya. Bahwa pekerja layak mendapat upah (yang layak pula) adalah suatu kepastian. Tetapi tanpa pertanggung jawaban yang baik tentulah keberlanjutan pekerjaan tidak ada jaminannya. Orang harus bertanggungjawab atas pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Sekecil apapun pekerjaan tentu membawa konsekuensi.

Kedua, konsekuensi yang kualami adalah bahwa kepercayaan semakin besar. Atasan semakin lama semakin tidak meragukan diriku. Atasan bahkan tidak meragukan lagi kemampuan diriku. Kepercayaan makin besar seiring dengan tanggung jawab (beban pekerjaan) yang semakin besar.

Ketiga, konsekuensi akan berlanjut pada penyerahan posisi atau penggantian atasan. Dengan prestasi kerja yang bagus tentulah menyenangkan atasan atau bahkan owner. Kemampuan yang memadai yang terwujud pada dedikasi terhadap sekolah (anak-anak) membawaku pada promosi jabatan tertentu. Atasan atau owner tidak ragu lagi untuk memberikan posisi tersebut.

Pelajaran berharga itu ditatapkan pada gambaran tentang Kerajaan Allah. Apa yang direnungkan?

Pertama, umat beriman bertanggung jawab atas rahmat yang telah ia terima. “Talenta” tidak dapat disimpan. Segala potensi pribadi tentulah akan berkembang dan dikembangkan. Permasalahan justru terletak pada kehidupan bersama. Apakah kehidupan bersama memungkinkan individu-individu untuk berkembang?

Kedua, “talenta” yang berkembang tentu menuntut pertanggung jawaban lebih. “Talenta” aku sadari sebagai rahmat ilahi dalam perspektif Kerajaan Allah. Dari dalam dirinya sendiri rahmat ilahi tidak dapat dibendung perkembangannya. Inilah yang seharusnya aku cermati sehingga dalam tanggung jawab sosial yang semakin besar tentulah membutuhkan perhatian yang lebih (waktu, tenaga, dan dana).

Ketiga, perkembangan rahmat ilahi melibatkan semakin banyak orang. Ada bayang-bayang “kehancuran” kutemukan tatkala orang hanya menumpuk “talenta” yang mengembang terus-menerus. “Talenta” haruslah dibagikan kepada sesama sehingga semakin banyak orang merasakan kasih ilahi. Semakin banyak orang terlibat dalam kehidupan bersama tentulah menandakan semakin besar dan kuat kehidupan ilahi di dalam kehidupan umat manusia.

Hadiah terindah kurasakan dari Allah adalah bahwa aku dipercaya untuk mengembangkan “talenta”. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengembangkannya. Kebahagiaan bersama Sang Raja sebenarnya sudah dapat dipastikan karena sudah dijanjikan olehNya. Meski demikian, aku menemukan betapa Sang Raja berbahagia tatkala mendapati diriku mengembangkan “talenta” yang dipercayakan.

(Semoga) Anda pun demikian, bukan?

Penulis : Slamet Harnoto & Publisher : Fabianus William - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online] Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Pertanggungjawaban Umat Beriman"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel