Kekudusan Hidup



“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 5:3)

Kekudusan Hidup

Sebulan lagi genap satu tahun meninggalnya ibuku menurut perhitungan orang Jawa. Waktu mengunjungi Bapak di Pekalongan, Kakak mengajakku berbincang tentang rencana satu tahun mendiang ibu. Dalam perbincangan tersebut pada intinya aku berpegang pada tatanan iman Gereja Katolik, karena bagiku membebaskan dan memuliakan baik mendiang ibu maupun keluarganya. Menurutku, mengikuti adat Jawa itu baik asalkan tidak mengekang pribadi-pribadi dalam tujuan/maksud yang sama. Maka, diriku memersilakan kakakku untuk
mengatur dan menata peringatan satu tahun mendiang ibuku jika mengikuti adat Jawa haruslah berpegang pada iman Gereja Katolik.

Pada bulan satu tahun mendiang ibu Gereja Katolik juga merayakan semua orang kudus. Aku jadi berpikir bahwa ibuku tetap masuk surga memeroleh kebahagiaan ilahi sebagaimana dijanjikan berlandaskan iman kekatolikannya, meskipun dia (mungkin) tidak akan pernah dinyatakan “kudus” oleh Gereja. Bagiku, ibu merupakan orang “kudus”. Kekudusannya tampak bagiku dengan kesetiaannya pada iman Gereja. Sepanjang hidupnya ibu setia pada bapak, meski pernah tersakiti olehnya. Ibu selalu mengutamakan bapak daripada dirinya. Dalam kesederhanaannya, ibu mengupayakan sungguh mengikuti Ekaristi setiap hari Minggu Pagi di Kapel Stasi.

“Kekudusan” tidaklah ditentukan oleh seberapa banyak atau besar amal kasih terhadap sesama. Amal kasih merupakan pancaran dari kehendak batin yang tidak jarang justru dikotori oleh niat busuk seorang pribadi.

“Kekudusan” terutama ditentukan oleh rahmat ilahi yang meresap ke dalam kekotoran hidup manusiawi. Bagaikan handsynetizer, rahmat ilahi membersihkan kulit jari jemari dari berbagai bakteri dan virus kehidupan. Maka, “kekudusan” sendiri merupakan rahmat ilahi yang dicurahkan ke dalam hidup umat manusia.

Menurutku, tantangan terberat dalam hidup adalah “kekayaan duniawi”. Orang dihargai bukan karena kesalehannya, tetapi karena jabatannya. Orang disegani karena harta bendanya, bukan karena pengetahuannya yang luas. Kesaktian membuat seseorang menundukkan dan memengaruhi banyak orang, bukan karena ketaatannya pada tatanan moral. Nilai pribadi terukur bukan karena dirinya memang bernilai, tetapi dari prestasi dan profesi yang dijalaninya. Inilah “kekayaan duniawi” yang sering menantang hidupku sendiri. Mau dan mampukah aku memeluk “kemiskinan”?

“Kemiskinan”, menurutku, tidaklah berarti tidak memiliki “kekayaan duniawi”. “Kemiskinan” mengungkapkan disposisi batin yang tidak melekat atau dikuasi oleh “kekayaan duniawi”. Orang boleh (bahkan harus) memiliki rumah (tempat berteduh dan beristirahat), tetapi tidak berarti harus memiliki rumah mewah dengan fasilitas lengkap. Orang boleh makan di restoran mewah, tetapi tidak berarti berpuasa tatkala makanan sangat sedikit ketersediaannya. “Kekayaan duniawi” hanyalah sarana untuk menjalani hidup. Lebih dari itu, umat beriman memandang (seharusnya menurutku) “kekayaan duniawi” demi dan untuk memuliakan Allah dalam hidup. Orang beriman memiliki rumah besar karena diperuntukkan (misal) untuk pertemuan rutin jemaat lingkungan, wilayah, bahkan paroki. Orang makan di restoran karena pertemuan warga yang menuntut tempat yang cukup luas dan bersih. Maka, “kemiskinan” tidaklah sekadar jalan kekudusan, tetapi sekaligus merupakan kekudusan hidup.

“Kemiskinan” menempatkan Allah di atas segala sesuatu dan menjadikan Allah sebagai sumber segala sesuatu. Pada akhirnya, menurutku, “kemiskinan” menempatkan kebahagiaan bersama sebagai arah bagi kebahagiaan hidup pribadi. Kebahagiaan individual digapai dalam kebersamaan orang yang berbahagia. Tiada satu pun individu yang dikorbankan kebahagiaannya.

Semoga demikian! Amin!

Penulis : Slamet Harnoto & Publisher : F.William - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online]
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Kekudusan Hidup"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel