Jurnal 13 Days Fatima - Lourdes - Holydoor Bagian 2

Bagian II

Hari ke-5/ 14 Okt:
Pk 08.00 kami meninggalkan Valladolid. Romo memimpin ibadat pagi di dalam bus dalam perjalanan menuju Loyola (Ioloia dalam bahasa Spanyol). Pk 12.15 kami tiba di Sancta Casa, rumah kelahiran Santo Ignasius. Sebagian dari rumah telah dijadikan museum sehingga peziarah dapat mengikuti kisah perjalanan hidup Santo Ignasius. Siang itu kami mengikuti perayaan Ekaristi di Chapel of Conversion yg terletak di lantai 3 di Sancta Casa. Kapel ini adalah ruangan tempat Santo Ignasius mendapatkan penampakan Bunda Maria dalam masa penyembuhan luka akibat perang di Pamplon dan mengalami pentobatan dan perubahan drastis imannya. Dalam homilinya Romo mengajak umatnya meneladani Santo Ignasius yang disiplin dalam hal rohani. Setelah santap siang, pk16.00 kami bertolak dari Loyola untuk melanjutkan perjalanan ke Lourdes. Perjalanan selama 3,5 jam melintasi perbatasan Spanyol-Perancis.

Tiba di Lourdes, setelah check in dan santap malam kami menyempatkan untuk orientasi lokasi. Rupanya jarak hotel tempat kami menginap tidak sampai 15 menit berjalan kaki dari basilika tempat goa (grotto) penampakan Bunda Maria kepada Bernadette 11 Februari 1858. 

Hari ke-6/ 15 Okt:
Pk 08.15 kami mulai berjalan dari hotel menuju kalvari untuk ibadat Jalan Salib. Temperatur udara pagi itu sekitar 12 derajat dan angin bertiup cukup kencang karena jalur Jalan Salib berada di perbukitan di atas basilika. Jalur perjalanan pun terus menanjak sampai puncaknya di Perhentian XII. Sungguh pengalaman Jalan Salib yang sangat berkesan. Usai jalan salib kami merayakan misa hari Minggu di Kapel Mater Dolorosa. Dalam homilinya Romo menyampaikan bahwa Lourdes adalah tempat di mana mukjizat di mana kemudian St. Bernadette memberikan kesaksian atas pengalaman imannya. Sebetulnya lah setiap dari kita pernah mengalami mukjizat. Misalkan kesembuhan dari sakit, pulih dari kebangkrutan usaha atau mendapatkan kesempatan kedua dan sebagainya. Masalahnya adalah apakah peristiwa itu menjadi suatu pengalaman iman dan menjadikan kita berani memberikan kesaksian atas kasih Allah. Dalam kesempatan misa diberikan berkat untuk Ibu Ningsih yang berulang tahun dan pasutri pak Hartaman-Ibu Liesje yang merayakan ultah perkawinan.

Usai misa kami mengunjungi rumah St. Bernadette saat masih bersama keluarganya (Moulin de Boly) dan "sel" saat keluarga Sourbirous harus tinggal dalam masa sulitnya. Membandingkan Lucia di Fatima dan St. Bernadette di Lourdes sungguh nyata bahwa keluarga menjadi tempat persemaian iman dan berperan penting dalam menanggapi panggilan Allah.

Pk 14.00 bilik tempat mandi air suci Lourdes mulai dibuka. Kesempatan untuk mandi dengan air suci Lourdes diberikan dua kali sehari: pagi dan siang hari. Sayang waktu yg tersedia hanya dua jam. Beberapa peserta tidak berhasil mandi karena panjangnya antrian.

Malam harinya, segera setelah makan malam, 6 perwakilan peziarah dan Romo bergegas ke basilika untuk mendaftar sebagai peserta pembaca doa Rosario dengan bahasa Indonesia. Syukur bahwa permintaan kami dipenuhi. Meski hanya dua kali Salam Maria dan satu bait lagu Ave Maria namun sangat menyentuh hati dan membanggakan ketika pak Hartaman memimpin doa Salam Maria mengiringi prosesi di lapangan basilika Lourdes malam itu. Berbeda dengan prosesi di Fatima, para peziarah dapat ikut serta dalam iringan prosesi. Meski jumlah peziarah tidak sebanyak saat prosesi di Fatima namun sungguh menggembirakan turut dalam arak-arakan bersama peziarah dari berbagai negara dan berdoa Rosario dalam berbagai bahasa. Pengalaman hari ini: Jalan Salib, mandi air suci dan prosesi di Lourdes sungguh sangat berkesan.


Hari ke-7/ 16 Okt:
Pk 08.00 kami meninggalkan Lourdes utk menuju Zaragoza kota penting dalam sejarah perkembangan Gereja Katolik di Spanyol. Perjalanan ziarah kami cukup unik, dari Portugal, Spanyol, Perancis lalu masuk lagi ke Spanyol dan nantinya dalam perjalanan ke Roma/ Itali pun akan melewati Perancis. Namun perjalanan lintas-negara ini tidak melewati route yang sama. Seperti biasa, ibadat pagi di bus dalam perjalanan. Pada kesempatan makan siang, kami mencoba menu "Paella" makanan khas Spanyol. 

Menurut tradisi umat Katolik di Spanyol dipercaya bahwa Bunda Maria "mengunjungi" St. Yakobus Rasul dalam masa penyebaran ajaran Kristus di Spanyol di kota Zaragoza. Kunjungan Bunda Maria adalah untuk memberikan peneguhan kepada St. Yakobus. Sebagai penghormatan kepada Bunda Maria pada abad ke-4 dibangunlah Gereja di tepi sungai Ebro yang kemudian menjadi Basilica of Our Lady of the Pillar. Gereja ini masih dipergunakan untuk misa mingguan. Seperti kita ketahui, banyak gereja di Eropa yang karena kekurangan umat dan kurangnya dana untuk operasional akhirnya diserahkan kepada pemerintah dan berubah fungsi, umumnya menjadi museum namun tidak sedikit yang menjadi fasilitas komersial, misalnya hotel. Kami mendapat kesempatan untuk menyelenggarakan perayaan Ekaristi sore itu di Kapel St. Antonius Padua yang ada di dalam kompleks basilika. Misa dibawakan dengan ritus Tridentin di mana Imam menghadap altar "membelakangi" umat. Usai misa kami melanjutkan perjalanan ke Barcelona. Barcelona adalah ibu kota negara bagian/ wilayah otonmi Katalonia (Catalunya), merupakan kota terbesar kedua setelah Madrid, ibu kota Spanyol. 

Hari ke-8/ 17 Okt:
Hari ini kami eksplorasi seputar Barcelona. Persinggahan pertama adalah Biara Benediktin di Montserrat, arti kata harafiah "gunung bergerigi", pegunungan setinggi 1250 m di atas permukaan laut. Biara Benediktin di Montserrat memiliki dua keistimewaan. Pertama, tradisi umat Katolik Katalunya mempercayai bahwa patung Bunda Maria 'Black Madona' atau La Moreneta (yang sedikit berkulit gelap) yang konon dibuat olah Santo Lukas Penginjil yang hilang ditemukan pada tahun 880 di Monserrat. Untuk menghormati Bunda Maria maka dibangunlah Gereja di Monserrat. Kedua, dalam masa pemerintahan fasis Jendral Fransesco Franco yang melarang penggunaan bendera dan bahasa Catalan, Biara ini menjadi simbol keteguhan bangsa Catalan dalam menjaga tradisi Catalunya. Biara Benediktin pernah dihancurkan oleh Napoleon Bonaparte pada tahun 1810. Berkat dukungan umat dan masyarakat Catalan biara tersebut dapat dibangun dan direstorasi kembali dalam waktu 90 tahun. Biara Benediktin dan gereja di Monserrat masih aktif dipergunakan sampai saat ini. Di biara ini juga ada sekelompok anak laki-laki usia 10-14 tahun yang tinggal bersekolah di sana (Escolania). Mereka selain bersekolah seperti pada umumnya juga wajib belajar alat musik dan paduan suara. Kunjungan di biara dibatasi hanya sampai pk 11.00 karena adanya jadwal ibadat para biarawan. Namun kami beruntung dapat berdoa dan menyentuh patung 'Black Madona' Our Lady of Monserrat.

Turun dari Monserrat kami menuju pusat kota Barcelona mengunjungi Gereja Sagrada Familia, lengkapnya "Basilica i Temple Expiatory de la Sagrada Familia" (Basilica and Expiatory Church of the Holy Family). Gereja yang mulai dibangun atas inisiatif asosiasi swasta di Spanyol tahun 1882 sampai saat ini masih terus berlangsung pembangunannya. Arsitek utama bangunan luar biasa megah ini, Antoni Gaudi, saat memulai pekerjaannya berusia 30 tahun. Gaudi adalah sebetulnya arsitek kedua setelah Fransisco Paula yang bekerja hanya satu tahun. Gaudi merancang beberapa bangunan iconic di Barcelona. Namun setelah mendapatkan kepercayaan membangun Gereja Sagrada Familia, Gaudi tidak mengerjakan bangunan lain dan membaktikan seluruh hidupnya hanya untuk pembangunan Gereja ini. Gaudi menyadari bahwa pembangunan akan makan waktu lama sehingga dia membuat master plan bangunan. Pembangunan yang dilanjutkan setelah Gaudi meninggal tahun 1926 pada usia 73 tahun, terus mengikuti master plan ini. Kami melihat papan pengumuman yang menunjukkan bahwa pembangunan Gereja akan selesai pada tahun 2016. 

Ada tambahan acara dalam perjalanan kami yaitu mengunjungi Camp Nou - stadium milik klub sepak bola Barcelona - yang sebetulnya tidak masuk dalam itinerary. Bonus untuk para fans Barca tentunya. Dengan demikian utuh sudah pengalaman kami mengunjungi tiga situs yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Spanyol: 1) Gereja Sagrada Familia, 2) Camp Nou, dan 3) Monserrat.

(Bersambung ke Bagian III)

Oleh Maria & Arif

0 Response to "Jurnal 13 Days Fatima - Lourdes - Holydoor Bagian 2"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel