[POTRET] Sang Pelayan


Pagi itu seolah aroma rawon, soto, gudeg bahkan babi panggang karo alias BPK yang terpenjara dalam baki, keluar menerobos perarakan petugas liturgi menuju altar. Aroma tersebut seolah hendak membelokkan derap langkah mereka menuju meja hidangan. Godaan tersebut tak membuat petugas bergeming, mereka tetap menuju meja altar. Itulah sekilas potret perayaan puncak Hut ke 4 Paroki Harapan Indah. Masih banyak potret lain yang menarik dalam perayaan tersebut. Namun saya mau mengambil dari angle para pelayan dalam perayaan tersebut. Sebab tema ini cukup menarik untuk kita renungkan dalam perayaan HUT paroki.

Para pelayan liturgi adalah salah satu pelayan dari sekian banyak pelayan yang terlibat dalam pesta syukur HUT Paroki. Misalnya umat wilayah dan lingkungan yang memasak ribuan porsi hidangan untuk pesta rakyat, para penari tor-tor yang memeriahkan perayaan liturgi, panitia yang menyiapkan acara, sampai para pengisi acara yang memeriahkan acara serta masih banyak yang lainnya. Para pelayan tersebut adalah potret kecil yang mewakili para pelayan di Paroki Harapan Indah, dimana makin banyak keterlibatan umat untuk menjadi pelayan dalam hidup menggereja, di paroki, wilayah dan lingkungan. Namun seperti apakah pelayan itu, apakah sekedar mampu bekerja saja untuk Gereja (umat Allah)? Mari kita simak potretpotret sang pelayan dalam perjanjian Baru.

Model Doulos Istilah doulos (δούλος) berasal dari bahasa Yunani artinya hamba. Seperti apakah pelayan model doulos ini. Mari kita ingat perumpamaan Yesus tentang talenta (Matius 25:1430).  Dikisahkan demikian, seorang yang mau bepergian ke luar negeri,..memanggil hamba-hambanya (doulos) dan mempercayakan hartanya kepada mereka (ayat14).

Seorang tuan hendak bepergian, kemudian memanggil hambahambanya dan memberikan talenta. Hamba-hamba tersebut kemudian mengolah uang tersebut dan mengembangkannya (ayat 15-18). Namun setelah tuannya pulang mereka mengembalikan semua modal dan keuntungannya kepada tuannya. Mereka tidak meminta bagian dari keuntungan. Mereka yang melakukan ini disebut hamba yang baik.


Bila kita lihat dari perumpamaan tersebut ada beberapa ciri dari pelayan model doulos. Pertama, ia tidak mengharapkan upah. Sebab ia mengembalikan lagi modal dan seluruh keuntungannya kepada tuannya (ayat 21-23). Kedua, nasibnya amat bergantung dari tuannya. Hal itu terjadi ketika ia menyerahkan hasilnya dan sang tuan menentukan nasibnya untuk turut dalam kebahagiaan tuannya (ayat 23) atau masuk dalam kegelapan yang paling gelap, hanya ada ratap dan kertak gigi (ayat 30). Ketiga, seorang hamba dimiliki sepenuhnya oleh sang tuan. Status itu ditegaskan lewat protes hamba yang jahat bahwa sang tuan tidak menabur dan menanam tetapi tibatiba menuai dari kerja hambanya.“Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam” (ayat 24), itulah status kedudukan seorang hamba. Ketiga ciri tersebut menggambarkan kekhasan yang dimiliki oleh seorang pelayan model doulos yaitu sikap rendah hati, karena ia bekerja tanpa diupah, hanya menggantungkan diri pada tuannya dan dimiliki sepenuhnya oleh tuannya.

Model Diakonos Istilah diakonos (διάκονος) dari bahasa Yunani, artinya seorang pelayan yang secara khusus melayani meja untuk hidangan dalam perjamuan makan. Mari kita melihat potretnya pada kisah Maria dan Marta dalam Lukas 10:38-42, namun tanpa menghakimi kedua wanita tersebut, siapa yang benar dan salah dihadapan Yesus. Biarlah tafsir itu kita kesampingkan, kali ini kita lihat sisi pelayanan Marta. Kata diakonos dipakai dalam salah satu kutipan ayat berikut “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani (diakoneo) seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” (ayat:40). Lukas menuliskan kata “melayani” yang dilakukan Marta dengan sebutan diakoneo sebagai kata kerja dalam bahasa Yunani. Lukas menggambarkan bahwa Marta bertindak sebagai pelayan (diakonos) yang hendak menyiapkan hidangan untuk Yesus dan murid-muridnya.


Lalu apa yang menjadi kekhasan pelayan model diakonos ini? Hal tersebut dapat kita lihat dalam potret berikut: Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. (ayat 38).......Marta sibuk sekali melayani (ayat 40).

Dalam kutipan tersebut terlihat kekhasan seorang diakonos adalah berinisiatif menawarkan dan menyiapkan hidangan untuk menjamu Yesus dan para murid-Nya. Ia sudah mengerti apa yang harus diperbuat ketika melihat Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan yang melelahkan tersebut. Haus, lapar dan lelah sudah pasti dialami rombongan itu. Marta adalah satu dari sekian puluh atau ratus warga dari kampung tersebut yang berinisiatif untuk menerima mereka dalam rumahnya serta melayani rombongan tersebut untuk makan dan minum. Ia pun berinisiatif lebih dahulu menyiapkan perjamuan dengan sangat sibuknya. Walaupun akhirnya karena kewalahan ia meminta bantuan kepada saudarinya itu. Jadi kekhasan dari diakonos disini adalah pada inisiatifnya untuk melayani.

Model Huperetes  Kata huperetes (υπηρέτης) berasal dari bahasa Yunani yang secara umum artinya seorang pelayan atau hamba, namun secara khusus menjalankan tugasnya sesuai dengan mandat atau perintah atasannya. Mari kita bedah model pelayan huperetes ini dari potret rasul Paulus. Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus (1 Kor 4:1-21), Ia menuliskan, “Demikianlah hendaknya orang memandang kami: Sebagai hamba-hamba (huperetes) Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah” (ayat1). Paulus menuliskan hamba dengan menggunakan kata huperetes bukan doulos dalam bahasa Yunani. Tentu, Paulus hendak memberikan makna dan tekanan yang berbeda.


Kata huperetes ini digunakan pada zaman itu untuk menyebut para pelayan atau hamba yang bekerja mendayung sebuah kapal, umumnya kapal untuk bertempur. Para pendayung ini mendayung berdasarkan instruksi dari nahkodanya atau pemimpin kapalnya, apakah lurus, ke kanan atau ke kiri. Para pendayung ini amat taat dan mendengarkan nahkodanya. Paulus menggunakan kata huperetes untuk menyebut dirinya sebagai hamba atau pelayan yang penuh ketaatan kepada Kristus. Ia mengekspresikan dirinya sebagai pendayung yang bekerja berdasarkan perintah nahkodanya, yaitu Kristus sendiri. Objek ketaatan yang dilakukan Paulus adalah perbuatan dan perkataan yang dikehendaki Kristus. Hal tersebut tergambar dalam tuntutan kepada jemaat di Korintus, untuk menaati teladan hidupnya yang dituruti dalam Kristus.

“Sebab itu aku menasihatkan kamu turutilah teladanku, Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku  yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat” (ayat16). Maka sekali lagi ditegaskan bahwa kekhasan pelayan atau hamba model huperetes adalah ketaatan, bukan kerendahan hati seperti model doulos. Walaupun dalam versi terjemahan baru bahasa Indonesia keduanya ditulis dengan kata hamba. Paulus lebih lanjut menuliskan berkat ketaatan, seorang hamba “dipercayakan rahasia Allah” (ayat 1). Dengan kata lain, Paulus menunjukan buah dari ketaatan bahwa orang diberi kepercayaan untuk hal-hal yang berharga dari Allah.

Model Leitourgos Kata leitourgos (λειτουργός) berasal dari kata leiturgia (leitos/laos=bangsa dan ergon=karya) yang menggambarkan kerja yang diabdikan untuk bangsa. Maka leitourgos dapat diartikan sebagai pelayanan yang berhubungan dengan publik atau orang banyak. Kata leitourgos digunakan oleh Paulus dalam Roma 15:14-21. Paulus menuliskan demikian,“aku boleh menjadi pelayan (leitourgos) Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan
Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus” (Roma15:16). Paulus menggunakan leitourgos bukan doulos atau diakonos, atau huperetes karena pelayanan ditujukan bagi bangsa-bangsa atau berkaitan dengan banyak orang.

Lalu apa yang menjadi kekhasannya? kita dapat melihatnya sebagai berikut: Kesadaran rasul Paulus untuk mewartakan Injil bagi banyak orang yaitu bangsa-bangsa bukan Yahudi, membawanya pada kenyataan bahwa ia akan melakukan karya besar yang meliputi banyak orang, daerah yang cukup luas dan waktu yang panjang. Sangat mustahil pekerjaan sebesar itu, ia lakukan tanpa sebuah rencana yang jelas. Penyusunan rencana tersebut ia tuangkan dalam sebuah visi dan misi untuk mencapainya. Ia merumuskan visi sebagai berikut: ”apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan” (ayat 18).

Tujuan visi tersebut amat jelas yaitu memimpin banyak orang non Yahudi, tidak hanya saja percaya akan Kristus tapi sampai taat dalam perkataan dan perbuatan. Maka untuk mencapai visi tersebut, ia melakukan misinya dengan mengadakan perjalanan keliling mewartakan injil. Hal itu ditulisnya dalam perikop ini: “Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus.” (ayat 19).

Misi perjalanan keliling adalah sebuah cara yang memerlukan perencanaan yang matang. Ia harus menyiapkan dan memperhitungkan segala sesuatunya dengan baik. Jika salah perhitungan bisa saja Injil tak sampai pada bangsa-bangsa lain. Tidak hanya berhenti disitu, untuk memelihara iman banyak jemaat yang sudah dibangunnya, ia menyapa dan menasihati mereka lewat surat-suratnya. Tampaklah kepiawaian Paulus dalam memanajemen jemaatnya. Dengan demikian model pelayanan leitourgos bila di potret dari Paulus amat khas aromanya pada kematangan perencanaan dan manajemen yang baik dalam membangun dan merawat jemaatnya yang banyak.

Potret Diri Setelah kita melihat potret-potret dari 4 model pelayan diatas, kita dapat menjawab pertanyaan diawal, apakah menjadi pelayan cukup hanya mampu bekerja saja? Maka jawabannya tidak cukup, ternyata ada nilai-nilai yang menjadi keutamaan dalam diri sang pelayan. Pertama, model doulos dengan keutamaannya pada kerendahan hati. Kedua, model diakonos dengan keutamaan inisiatifnya. Ketiga, model huperetes dengan keutamaan ketaatannya. Keempat, model leitourgos dengan keutamaan perencanaan atau manajemen. Dengan keempat model pelayan ini, kita mendapat empat nilai atau keutamaan sebagai seorang pelayan. Ia harus rendah hati, inisiatif, taat, dan mampu memanajemen pelayanannya.

Hal yang penting sekarang adalah mari kita lihat potret diri kita sendiri sebagai seorang pelayan entah di Gereja, masyarakat, maupun rumah tangga. Pertama, didalam potret diri saat ini, sudah tergambar model pelayan yang mana saja dalam melayani? Kedua, mampukah kita dalam potret diri kita kedepan tergambar keempat model tersebut dalam melayani? Pertanyaan kedua tidak memerlukan jawaban cepat namun kita tahu bersama bahwa hal tersebut membutuhkan proses. Semoga Roh Kudus senantiasa menuntun kita dalam proses tersebut. Selamat HUT paroki yang ke 4 semoga semangat pelayanan menjadi nafas rohani kita.



By Rm. Yustinus Kesaryanto 
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "[POTRET] Sang Pelayan "

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel