Tentang Hidup Sesudah Kematian

10 Nopember 2019 Hari Minggu Biasa XXXII

“Mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat
dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20:36)


“Tentang Hidup Sesudah Kematian”
  
Kematian bukanlah akhir dari perjalanan hidup seorang anak manusia. Keyakinan akan keberlanjutan hidup tampak dalam keyakinan akan kebangkitan. Diskusi antara Yesus dan orang Saduki menyangkut bagaimana keadaan hidup (personal) sesudah kebangkitan (semua orang). Yesus merujuk pada keyakinan selama ini (sejak peristiwa mistis yang dialami Musa - lih. Luk 20:37) bahwa keadaan hidup umat manusia sesudah kebangkitan berbeda sungguh (secara esensial) dengan kehidupan duniawi. Perbedaan menyolok antara keduanya terkait dengan batas atau akhir kehidupan. Sesudah dibangkitkan, orang tidak dapat mati lagi. Ia mengalami kekekalan, sama seperti malaikat.

Yang menarik perhatian adalah “gerak kembali anak-anak Allah”. Pergerakan hidup berawal dari keberadaan keabadian (pra-eksistensi), lalu ada di dalam dunia, dan berakhir dengan kembalinya ke dalam situasi awal. Dengan pergerakan ini, dapat ditemukan ajaran Yesus tentang status anak-anak Allah. Status ini sudah sejak awal mula, bukan soal sudah ditentukan, tetapi memang sudah sejak awal sebagai anak-anak Allah. Oleh karena itu, anak-anak Allah bukanlah sekadar janji Allah yang diberikan kepada umat manusia yang akan dinyatakan pada kegenapan waktu, tetapi memang sejak awal mula adalah anak-anak Allah, sebagaimana sebutan bagi malaikat-malaikat.

Hal menarik lainnya adalah bahwa kondisi hidup duniawi tidak menentukan kedudukan sebagai anak-anak Allah. Gambaran orang Saduki tentang hidup perkawinan sebagaimana ditentukan oleh hukum Musa, tidaklah menentukan kehidupan mendatang. Status perkawinan di dunia tidak dapat menjadi patokan bagi kehidupan sesudah dibangkitkan. Dalam kehidupan sesudah dibangkitkan, orang tidak kawin atau dikawinkan (cf. Luk 20:35). Hidup di dunia ini bagaikan orang mengenakan baju. Tatkala terlahir, seorang anak manusia telanjang. Ketika mati, ia pun kembali menjadi telanjang. Pakaian merupakan simbol dari hukum sosial yang melekat pada diri seseorang yang dikenakan sesudah kelahiran dan dilepas tatkala kematian. Maka, tatanan sosial yang ada selama di dunia ini bersifat relatif terhadap kehidupan umat manusia. Tatanan sosial tidak bersifat abadi. Ia dapat diubah sejauh tidak membuat hidup umat manusia semakin menyerupai hakekat anak-anak Allah.


Selamat merenung! Berkat Tuhan!

By Hery WW  - Tim PARPOL  [ Partisipan Pelayan Online ]
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Tentang Hidup Sesudah Kematian"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel