Renungan Minggu Paskah IV- Hari Minggu Panggilan



“Akulah gembala yang baik.
Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya"

(Yoh 10:11)

Jangan Ditinggalkan! Aku sadar bahwa tidak ada kesempurnaan dalam hidup umat manusia. Orang dituntut untuk membuat skala prioritas. Tak dapat dihindarkan, masa pandemi begitu keras menghempaskan hidup umat manusia ke dalam prioritas kebijakan pemimpin. Demi keselamatan bersama, diriku pun harus menerima diri berada dalam prioritas tertentu.

Pelayanan gerejani pun mengalami penyesuaian. Ada yang diprioritaskan untuk menerima layanan sakramental. Ada pula inilah yang kuprotes dalam hati: tidak dapat menerima ... bahkan kurasakan ditinggalkan! Bagaikan mau pindahan, aku termasuk yang tidak dapat tempat duduk, aku kehabisan tiket!

Menelisik kehendak Sang Gembala, rasaku tidak benar meninggalkan orang seperti yang terjadi. Adakah yang pantas dan tidak pantas menerima pelayanan sakramental? Adakah yang pantas dan tidak pantas menerima keselamatan? Tidak ada dualisme atau pembedaan bagi Sang Gembala. Karena, Ia rela menyerahkan nyawaNya demi keselamatan (sekalipun hanya) satu orang (cf. Yoh 10:11).

Situasi pandemi bagiku menantang umat beriman untuk menghadirkan Sang Gembala. Penataan layanan sakramental tidak boleh meninggalkan seorang pun. Situasi pandemi merupakan situasi luar biasa. Jikalau demikian, penataan layanan sakramental pun seharusnya luar biasa. Yang reguler, yang selama ini terjadi haruslah diubah, dengan tetap berpegang pada sikap Sang Gembala yang tidak meninggalkan seorang pun. Yang saya renungkan adalah pelayanan keliling dan pelayan luar biasa. Pelayanan perlu tidak dibatasi di gedung gereja, tapi di rumah-rumah jemaat. Sampai sekarang, saya menemukan tidak ada larang orang berkumpul hingga sepuluh orang dengan protokol kesehatan ketat. Oleh karena itu, misa keliling, sebagai contoh sangatlah dimungkinkan. Kemudian, para pelayan luar biasa (prodiakon) dapat dioptimalkan bagi mereka yang “tidak mendapat tiket” misa di gereja.

Pelayanan sakramental itu hanyalah contoh dalam situasi pandemi yang saya renungkan. Tentulah dapat ditempuh berbagai cara dalam hidup menggereja dalam situasi khusus dan khas yang sudah berlangsung satu tahun lebih ini. Sekali lagi, semangat dan sikap Sang Gembala yang tidak akan meninggalkan seorang pun haruslah dipegang teguh dan diterapkan sungguh. Semoga demikian! Amin.

Penulis : Slamet Hartono & Publisher : F.X Rudy - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online]
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Renungan Minggu Paskah IV- Hari Minggu Panggilan"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel