Pertobatan Sejati

Pertobatan Sejati (Lukas 19:1-10)

Cerita tentang perjumpaan dengan Yesus yang membuat Zakheus bertobat dalam injil hari ini sungguh menarik! Mengapa? Hal ini mengingatkan saya akan seorang donatur terkenal di sebuah kota! Sebut saja namanya "Bram" (bukan nama sebenarnya). Pak Bram adalah tokoh Katolik yang mendanai beberapa panti asuhan, panti jompo, yayasan Katolik dan beberapa Gereja yang sedang membangun. Alhasil dia dipuja-puji dan menjadi terkenal akibat kebaikannya yang nyata itu. Tetapi ia mengakui bahwa dirinya adalah seorang konsultan pajak. Menurutnya: Gayus Tambunan adalah orang yang bernasib sial sehingga ditangkap. Sedangkan dia dan teman-teman konsultan pajak lainnya tergolong cukup mujur. Mengapa tidak? Pekerjaan seorang konsultan pajak menurutnya tidak lepas dari penipuan: memanipulasi dana, pertanggungjawaban fisik dan lain-lain, demi menyelamatkan pengusaha yang korup. 

Mulanya ia sangat menyesal dengan pekerjaan ini. Tetapi hanya ini juga satu-satunya keahliannya. Dan ia mengucap syukur bahwa ada kisah yang hampir sama dengan kisah hidupnya yakni cerita tentang pertobatan Zakeus. Makanya demi rasa sesal dan tobatnya itun ia membagikan juga kekayaannya itu untuk karya-karya sosial dan karya pelayanan Gereja.

Apa yang pak Bram lakukan merupakan sebuah pertobatan sejati. Pertobatan sejati itu harus konkret dan nyata! Artinya jika seseorang bertobat, ia tidak saja mengakui kesalahan dan dosa-dosanya, melainkan menyesalinya dan mengubah hidupnya dalam kata dan tindakan yang sama sekali baru. Dengan kata lain, di dalam hatinya seseorang yang berdosa itu harus ada kehendak yang kuat untuk berani mengambil resiko meninggalkan segala dosanya dan memberikan silih bagi orang-orang yang telah dilukainya.
 
Silih itu bisa berupa ucapan permintaan maaf yang tulus dan upaya yang sungguh untuk mengganti kerugian yang timbul akibat perbuatan dosa; atau juga melakukan kebaikan-kebaikan lain yang berlawanan dengan dosa dan kesalahannya. Hal semacam ini telah dipraktekan oleh Zakheus sebagai teladan bagi kita. Semoga pada hari ini kita belajar untuk meminta maaf kepada sesama yang telah kita lukai hatinya, entah sengaja atau tidak sengaja, langsung atau tidak langsung.
 
Salam Dalam Sang Sabda.
P. Anton Ebo Resi, SVD

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel