iklan banner

Pembekalan Lektor dan Komentator

Hujan deras yang turun sejak sore hari tidak menyurutkan semangat para Lektor dan Komentator untuk mengikuti pembekalan di Aula Gereja St. Albertus Sabtu malam 13 Juli 2013 lalu.

Sekitar 35 orang Lektor dan Komentator dari 60 orang yang terdaftar di Stasi St. Albertus hadir mengikuti pembekalan yang dimoderatori oleh Romo Yonas Manue Hunu, SVD. Acara yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB itu tidak hanya membahas apa itu Lektor dan bagaimana sejarahnya, tetapi juga membahas bagaimana sikap tubuh, suara, penggunaan mikrofon yang benar serta cara berpakaian pada saat kita bertugas sebagai seorang Lektor.

 
Lektor berasal dari bahasa Latin Lector yang berarti Pewarta Sabda Allah atau Penyambung Lidah Allah. Lektor sudah ada dalam tradisi agama Yahudi. Jejaknya bisa ditemukan dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan dalam Injil Lukas 4:16-30. Dalam tradisi Gereja, keberadaan Lektor ditemukan jejaknya pada periode abad-abad pertama sejarah kekristenan yaitu sekitar tahun 165 Masehi. Dalam abad-abad awal kekristenan pembacaan Kitab Suci dibacakan oleh Lektor. Para Lektor sangat penting dan terhormat masuk dalam tata tahbisan minor subdiakon. Diberikan dalam ritus khusus penumpangan tangan Uskup dan disertai doa. Setelah pembaharuan Konsili Vatikan 2, hak Lektor membaca Injil dihapuskan dan dipercayakan kepada Diakon atau Imam Konselebran. Bila dalam perayaan Ekaristi tidak ada Lektor terlantik, bacaan dapat dibacakan oleh umat awam, pria atau wanita yang memiliki kelayakan.   

Hal paling mendasar yang harus disadari oleh seorang Lektor adalah bahwa ia seorang yang menjadi Penyambung Lidah Allah. Untuk dapat menjalankan tugas perutusannya, Lektor dituntut lebih dulu untuk mengakui Tuhan dan kebenaran sabda-Nya dalam Kitab Suci. Lektor hendaklah percaya bahwa dalam liturgi, sabda Allah sungguh hadir melalui sabda yang dibacakannya. Dan melalui suaranya, Lektor hendaklah mampu menampilkan Roh Allah yang tersembunyi di balik kata-kata Kitab Suci yang penuh daya, dan mampu menghadirkan kembali karya keselamatan Allah dalam sejarah.

Seorang Lektor hendaknya memperhatikan gerak tubuh, suara dan bagaimana menggunakan mikrofon sehingga dapat menyampaikan sabda Allah dengan baik. Juga cara berpakaian, sepatu dan perlengkapan yang digunakan terutama untuk Lektor wanita diharapkan tidak berlebihan dan menarik perhatian.
Tak terasa sudah hampir dua jam pembekalan diberikan oleh Romo Yonas. Karena waktu yang tidak memungkinkan, yang awalnya akan diadakan praktek membaca yang baik bagi seorang Lektor, tidak jadi diadakan. Sebelum mengakhiri pertemuan, Romo Yonas berpesan untuk sering berlatih, baik sendiri maupun dengan sesama Lektor agar pada saat bertugas nanti, dapat membacakan sabda Allah dengan baik. Dan yang terutama, kalau mendapat tugas harus datang. Tidak seperti sekarang ini, masih banyak Lektor yang tidak datang saat bertugas tanpa pemberitahuan dan alasan yang jelas. Sudah sepatutnyalah kita bangga menjadi seorang Lektor yang terpilih dan terpanggil dari ribuan umat yang ada di Stasi kita ini karena kita adalah Penyambung Lidah Allah. Selamat bertugas untuk para Lektor. Tuhan memberkati.

Fransiska Sandra
text gambar text gambar text gambar text gambar text gambar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel