Peziarahan Para Musafir Rohani Lingkungan St. Arcadius 5


“Akhirnya…” itu kata pertama yang terucap dari Pak Henco, sang Ketua Panitia Ziarek Keluarga Lingkungan Arcadius 5. Kata itu terucap karena pada tanggal 31 Mei 2018 pukul 17.15 rombongan peserta ziarek yang dilaksanakan sampai dengan tanggal 02 Juni 2018 akhirnya berangkat dari Harapan Indah, Bekasi menuju ke Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus – Paroki Ganjuran. Gereja Hati Kudus Yesus merupakan gereja Katolik Roma di Ganjuran, Bantul, Indonesia. Gereja ini juga dikenal dengan nama Gereja Ganjuran, berdasarkan tempat letaknya. Gereja ini merupakan gereja tertua di Bantul.[1]



Gereja Ganjuran didirikan pada tanggal 16 April 1924 oleh keluarga Schmutzer, yang memiliki sebuah pabrik gula di wilayah itu. Dari jumlah 25 orang Katolik di Ganjuran pada tahun 1922, pada tahun 2011 sudah ada 8.000. Gedung gereja sudah banyak diubah, termasuk dibangun ulang setelah Gempa bumi Yogyakarta 2006.Banyak orang sudah menulis tentang desainnya yang beraliran Jawa, dan gereja ini terus memasuki budaya Jawa dalam liturgi.
Rombongan yang terdiri dari 39 orang dewasa dan 3 anak – anak tiba pukul 05.45. Rasa lelah dan kantuk langsung lenyap begitu air Ganjuran membasahi muka dan tubuh. Ditambah dengan sarapan pagi yang sangat memuaskan selera hati semakin bersemangat karena sentuhan rohani dari Bapak Andreas Tantri, Wakil DPH, yang juga merupakan umat Arcadius 5.
Lalu, para peserta ziarah mengungkapkan segala permasalahan hidupnya, kegembiraan dan duka cita, harapan-harapan di masa yang akan datang kepada Tuhan melalui Bunda Maria di Goa Ganjuran.


Perjalanan rohani dilanjutkan ke Gereja Santo Yakobus Alfeus – Paroki Pajangan, Bantul. Di sana ada Patung Wajah Kerahiman Yesus. “Patung Wajah Kerahiman Yesus merupakan tambahan fasilitas dari gereja sebagai tempat doa bagi umat Katolik dan dalam rangka menandai penetapan Tahun 2015 - 2016 sebagai Tahun Kerahiman oleh Sri Paus Fransiskus. Patung tersebut sebenarnya adalah bentuk master patung sumbangan dari seniman pematung Bantul yaitu Bapak Hardo Wardoyo Suwarto, sedangkan patung aslinya telah dikirim ke luar negeri di negara pemesannya,” jelas Ketua Lingkungan Gomarus Heru Sutrisno, S.IP kepada HarianBernas.com.

Sementara Patung Wajah Kerahiman Yesus diresmikan pada tanggal 2 Oktober 2016 oleh Bupati Bantul Drs. H. Suharsono dan diberkati oleh Pastor Paroki St. Yakobus Bantul Romo FX. Suhanto, Pr. Selain bentuknya yang cukup fenomenal, keberadaannya di tepian sungai Progo menambah teduhnya suasana. Tempat ini apabila dikelola dengan baik oleh masyarakat akan menjadi potensi wisata religi baru di Kabupaten Bantul yang tentunya akan menambah manfaat ekonomis untuk masyarakat di wilayah sekitar.



Dalam kesempatan ini Pak Eddy Santosa, sesepuh Arcadius 5 memberikan renungan tentang Kebhinnekaan dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara yang merupakan gambaran besar dari kehidupan bersama. Jika dalam keluarga atau komunitas kita berbeda dalam skala yang kecil maka dalam bermasyarakat kita beranekaragam dalam skala yang besar. Berdasarkan bacaan Kisah Para Rasul 15:1-11Pak Eddy mengajak umat Arcadius 5 untuk belajar bagaimana cara memecahkan suatu masalah di tengah keberagaman masalah. Dalam pesannya beliau mengatakan: “Kita wajib mencari jalan keluar secara dialog dengan membicarakannya bersama. Jika ada otoritas yang lebih tinggi seperti dalam Kisah Para Rasul di atas kita dapat meminta pertimbangan dan keputusan.”

Selanjutnya, Ambarawa menjadi tujuan berikutnya. Hotel Griya Wijaya siap menanti dengan keramahan dan makanan yang lezat. “Makanan dan tempatnya ok punya nich…” ungkap Pak Andreas. Sebagian peserta lainnya pun mengamini pernyataan tersebut, “Boleh nich, berikutnya menginap di sini lagi” celoteh bu Nellian, Kaling baru Arcadius 5. Acara dilanjutkan dengan jalan salib malam yang dikoordinir oleh Bapak Sudirja. Dan… bobo dulu untuk mengembalikan stamina agar besok dapat melanjutkan perjalanan rohani ini

Destinasi berikutnya Semarang, kota pantai yang cukup panas, kami sempat mampir ke Cagar Budaya Lawang Sewu. Sejarah singkat Lawang Sewu sebagai berikut.Bangunan Lawang Sewu dibangun pada 27 Februari 1904 dengan nama lain Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (Kantor Pusat NIS). Awalnya kegiatan administrasi perkantoran dilakukan di Stasiun Semarang Gudang(Samarang NIS), namun dengan berkembangnya jalur jaringan kereta yang sangat pesat, mengakibatkan bertambahnya personil teknis dan tenaga administrasi yang tidak sedikit seiring berkembangnya administrasi perkantoran.

Pada akibatnya kantor NIS di stasiun Samarang NIS tidak lagi memadai. Berbagai solusi dilakukan NIS antara lain menyewabeberapa bangunan milik perseorangan sebagai solusi sementara yang justru menambah tidak efisien. Apalagi letak stasiun Samarang NIS berada di dekat rawa sehingga urusan sanitasi dan kesehatan pun menjadi pertimbangan penting. Maka, diusulkanlah alternatif lain: membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh ke lahan yang pada masa itu berada di pinggir kota berdekatan dengan kediaman Residen. Letaknya di ujung Bodjongweg Semarang (sekarang Jalan Pemuda), di sudut pertemuan Bodjongweg dan Samarang naar Kendalweg (jalan raya menuju Kendal).
NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke Kota Semarang. Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan gambar kerjanya dibuat dan ditandatangani di Amsterdam tahun 1903. (Wikipedia)
Rombongan juga menikmati keindahan Klenteng Sam Po Kong yang mempunyai sejarah sebagai berikut :


Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang.Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi "marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an".
Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu, orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng - mengingat bentuknya memiliki arsitektur bangunan cina sehingga mirip sebuah kelenteng.Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah.Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Padahal laksamana cheng ho adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimaklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.(Wikipedia)




Menurut cerita, Laksamana Zheng He sedang berlayar melewati laut jawa, namun saat melintasi laut jawa, banyak awak kapalnya yang jatuh sakit, kemudian ia memerintahkan untuk membuang sauh. Kemudian merapat ke pantai utara semarang untuk berlindung di sebuah Goa dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng. Bangunan itu sekarang telah berada di tengah kota Semarang di akibatkan pantai utara jawa selalu mengalami proses pendangkalan yang di akibatkan adanya proses sedimentasi sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara.


Konon, setelah Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang di tempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam, di Klenteng ini juga terdapat Makam Seorang Juru Mudi dari Kapal Laksamana Cheng Ho (Wikipedia)



Akhirnya… pulanglah para peziarah rohani ini ke Harapan Indah tercinta, segala kelelahan dan kepenatan menjadi bagian dari perjalanan ini.Semoga peziarahan ini dapat mengisi relung hati yang paling dalam dengan segala bisikan dan dan tuntuna dari Roh Kudus dalam mengarungi kehidupan selanjutnya. “Sayang…. Taman Doa di Cirebon tidak sempat kita datangi karena sudah terlalu malam” kata pak Henco, sang Ketua Panitia. 
By Kontributor Lingkungan St. Arcadius 5

0 Response to "Peziarahan Para Musafir Rohani Lingkungan St. Arcadius 5"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel