BERLAKU ADIL SEBAGAI WUJUD KASIH


Penulis : Rm. Bernardus Indra Graha, Pr.

“Amalkan Pancasila: Kita Adil, Bangsa Sejahtera” adalah tema keuskupan kita di tahun 2020. Kita bisa mengkritisi tema ini dengan beberapa pertanyaan berikut. Apa urusannya Gereja dengan keadilan bukannya Gereja itu hanya mengurus perayaan Ekaristi (toh, umat hanya mengalami Gereja itu ya pada saat Ekaristi saja)? Apakah Gereja mengurus keadilan juga? Bagaimana bisa Gereja atau umat Katolik yang totalnya kurang lebih 3% dari penduduk Indonesia mampu mewujudkan “Bangsa Sejahtera” sesuai tema tersebut? Ketiga pertanyaan ini membantu kita untuk mendalami tema tahun keadilan tersebut.

SURVEY TAHUN KEADILAN 

Pada Bulan April-Mei 2019, tim litbang KAJ mengadakan survey kepada para aktivis paroki (Romo, DPH, Seksiseksi, Tim karya) untuk mengetahui gambaran kondisi keadilan sosial masyarakat di sekitar Gereja dan situasi internal paroki berdasarkan pengamatan para Penentu dan Pelaksana kebijakan di tingkat paroki. Survey yang diadakan secara online menggunakan google form ini diikuti oleh 565 responden. Sungguh menarik untuk berbicara mengenai keadilan berangkat dari beberapa hasil survey tersebut.

Berdasarkan survey, masalah kemiskinan ekonomi menjadi masalah keadilan sosial yang menjadi prioritas mendesak di Kesukupan Agung Jakarta (74%). Adapun faktor penyebabnya adalah keterbatasan modal (48%) dan sumber daya manusia (kemalasan 34%). Terkait dengan pelayanan Gereja menanggapi masalah keadilan, para aktivis mengungkapkan bahwa selama ini Gereja cenderung melakukan karya yang bersifat karitatif (45%) dibandingkan yang bersifat pemberdayaan (14%). Bentukbentuk karya karitatif adalah bantuan pendidikan (35%), bantuan pangan dan kesehatan (31%), serta tempat tinggal (27%). Sedangkan bentuk karya pemberdayaan yang sudah diupayakan adalah pelatihan untuk wirausaha dan pelatihan kerja lainnya (39%) dan pemberian modal usaha atau bantuan keuangan (21%).  

Hasil survey keadilan sosial ini menunjukkan kepada kita semua bahwa Gereja sudah terlibat dalam usaha mewujudkan keadilan terutama menghadapi masalah kemiskinan ekonomi yang dialami umatnya dan masyarakat sekitar. Meskipun, pengaruh dari pelayanan ini memiliki dampak yang tidak terlalu besar, Gereja tetap memberikan pelayanannya untuk mewujudkan keadilan. Pelayanan dan segala yang diusahakan Gereja tentu berdasarkan ajaran Gereja menanggapi kehidupan dunia sosial di masa sekarang ini.

AJARAN GEREJA MENGENAI KEADILAN 

Sejak 1891, Gereja mulai menanggapi konteks kehidupan manusia dan berbagai masalah yang dhasilkan karena perkembangan kehidupan manusia. Tanggapan itu diungkapkan Paus Leo XIII melalui Ensiklik Rerum Novarum. Dalam ensiklik tersebut, Gereja menanggapi konteks revolusi industri abad 19 dan mempromosikan martabat manusia dengan keadilan dalam upah pekerja, memperhatikan hak-hak buruh, dan mendukung persaudaraan antara yang kaya dan miskin. Sejak saat itulah, Gereja memiliki apa yang disebut dengan Ajaran Sosial Katolik yang berisikan tanggapan Gereja terhadap masalah sosial di dunia.

Terkait dengan keadilan, Gereja berulangkali menyatakan pentingnya menegakkan keadilan di dunia. Salah satunya dalam dokumen Convenientes ex Universo (Berhimpun Dari Seluruh Dunia) atau Justicia in Mundo (Keadilan di Dunia) yang merupakan dokumen hasil sinode para uskup di Roma pada 1971. Dunia sedang menghadapi problem keadilan yang sangat mencemaskan terutama di Gereja Amerika Latin dan dunia ketiga.

Untuk pertama kalinya, sinode para uskup menaruh perhatian pada soal-soal yang berkaitan dengan keadilan. Secara jelas, Gereja Katolik lewat suara para Uskup mengkritik praktik-praktik tidak adil juga di wilayah-wilayah yang penduduknya sebagian besar Katolik. Para uskup menggali makna keadilan dari Kitab Suci dan berpusat pada teladan Kristus sendiri. Keadilan adalah kehadiran dari Kristus sendiri dan Kerajaan Allah, maka perjuangan mengenai prinsip-prinsip keadilan adalah wujud nyata dari pewartaan.

“Gereja wajib memberi kesaksian akan keadilan, ia mengakui bahwa siapa pun yang memberanikan diri untuk berbicara kepada sesama tentang keadilan harus pertama-tama adil dalam pandangan mereka. Oleh karena itu kita perlu mengevaluasi cara-cara bertindak, dan harta-milik serta pola hidup yang terdapat dalam Gereja sendiri.“ (Convenientes ex Universo art. 40)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Gereja memiliki tugas penting terkait kesaksiannya dalam memperjuangkan keadilan di dunia ini. Para uskup juga mengusulkan agar Gereja perlu membina semakin banyak umatnya untuk dapat memajukan keadilan bagi semua orang. Selain itu, kerja sama untuk mencapai keadilan perlulah dilakukan oleh Gereja dengan pihak-pihak yang berkehendak baik. Usulan-usulan inilah yang sebenarnya sudah dapat kita temukan di Gereja pada masa sekarang ini. Pembinaan mengenai keadilan dan kerjasama dengan berbagai pihak sudah dilaksanakan 

Gereja Indonesia sendiri juga selalu menyerukan mengenai penegakan keadilan ini dalam berbagai kesempatan. Salah satu yang paling monumental adalah Dokumen Surat Gembala 1997: Keprihatinan dan Harapan. Para Uskup menegaskan bahwa bangsa Indonesia “sedang menghadapi kemerosotan moral hampir di semua bidang kehidupan masyarakat yang dapat membahayakan, bahkan menghancurkan persatuan masa depan dan keselamatan bangsa kita”(KWI, 1997: 3-4).

Secara kongkret berbagai masalah itu dijabarkan dalam kutipan berikut: “hukum kurang ditegakkan secara tegas, adil, dan konsisten; hak-hak dan martabat manusia kurang dihargai: keadilan seakanakan hanya berlaku bagi yang kuat kaya dan yang berkuasa; masih sering terjadi diskriminasi dalam berbagai bidang terhadap beberapa golongan warga masyarakat; hak-hak orang kecil kurang dihormati dan dilindungi rakyat sering diperlakukan sebagai abdi dan kurang dilayani; ada kesenjangan antara katakata indah dan tingkah laku serta kurangnya keteladanan; korupsi, kolusi, manipulasi juga rasanya makin meluas dan mengakar.”

Situasi Indonesia yang digambarkan dalam surat gembala tentu kita rasakan juga bahkan berlangsung sampai dengan saat ini. Oleh karena itu, para uskup menegaskan pentingnya umat Katolik untuk ambil bagian secara lebih berani dan konkret untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan dalam kehidupan bersama. Keadilan tata pelayanan penyelenggara negara harus dipulihkan. Gereja Katolik berkepentingan untuk mengulurkan tangan, untuk membangkitkan pengharapan-pengharapan baru. 

SEMAKIN BERBELARASA Lantas, apa relevansinya berbagai ajaran mengenai keadilan ini bagi kita dan perjuangan hidup kita sehari-hari? Tentu kita mengenal keutamaan iman, harapan, dan kasih sebagaimana disampaikan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:13. Ketiga keutamaan itu saling berhubungan dan memiliki pengaruh satu dengan yang lain. Hubungan ketiganya dapat dianalogikan seperti tanaman. Iman menjadi akar, harapan sebagai batangnya, dan kasih menjadi buah atau bunganya. Oleh karena itu, iman kita yang sudah dilengkapi dengan pengetahuan mengenai keadilan dengan membaca tulisan ini, memiliki konsekuensi untuk mewujudkannya dalam tindakan kasih yang kita lakukan.

Tindakan kasih itu adalah dengan berlaku adil di dalam hidup sehari-hari. Iman mengajak kita untuk keluar dari diri sendiri dengan berfokus untuk memikirkan Tuhan dan sesama. Hasilnya adalah kasih yang kita lakukan dalam perbuatan seharihari karena kita sudah pernah membaca bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Inspirasi dari ajaran mengenai keadilan yang telah kita baca di bagian sebelumnya mengajak kita mewujudkan iman dengan berlaku adil kepada sesama dan berani memperjuangkan keadilan dalam hidup kita.

Dengan demikian, kita bisa mengembangkan iman kita sesuai dengan apa yang menjadi perutusan umat Keuskupan Agung Jakarta, “Semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbelarasa.” Kita memperdalam iman dengan mencari pengetahuan iman dan mengolah pengalaman. Iman itu pun berbuah dalam persaudaraan kita dengan sesama dan belarasa kita yang diwujudkan dalam tindakan kasih kepada sesama, salah satunya dengan berlaku adil bagi sesama kita. Maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana berlaku adil tersebut dilakukan dalam hidup kita sehari-hari?
Bapak Uskup Ignatius Kardinal Suharyo dalam renungannya di Oase Rohani Katolik edisi 25 Desember 2019 (bisa didengarkan di channel youtube Hidup Tv) mengungkapkan ada tiga langkah yang diperlukan untuk dapat terlibat dalam dunia dan berlaku adil. Pertama, kita mesti mempertajam mata hati kita untuk melihat kehendak Tuhan dan menangkap kehendak-Nya lewat doa. Doa itu adalah doa mohon kegelisahan agar kita berani keluar dari zona nyaman kita dan mau menemukan kehendak Tuhan bagi hidup kita. Kedua adalah langkah intelektual. Realitas yang kita temukan dan menggelisahkan kita dianalisis berdasarkan ilmu-ilmu yang tersedia. Dengan demikian, kita terbantu untuk membaca realitas ini dan bisa menanggapinya. Ketiga adalah gerakan yang dilakukan sehingga keterlibatan di dunia itu bisa diwujudkan. Sederhananya gerakan ini bisa ditemukan dengan menjawab pertanyaan apa yang harus dilakukan agar situasi ini menjadi semakin manusiawi dan bermartabat. Gerakan-gerakan yang dihasilkan bisa sangat beragam oleh berbagai komunitas dan lingkungan kita.

Secara sederhana Bapak Uskup juga memberikan contoh ketika kita melakukan bantuan untuk Keuskupan Agats dengan kolekte kedua yang diberikan untuk Agats. Kegelisahan bisa ditemukan ketika kita membaca berita mengenai apa yang terjadi di Agats. Lantas berbagai analisis bisa kita temukan juga melalui media-media yang ada. Kemudian, gerakan apa yang bisa dilakukan untuk membantu Agats tentu sangat banyak dan beragam tetapi yang melibatkan hampir seluruh umat adalah dengan kolekte kedua ini. Maka, gerakan itulah yang akhirnya dipilih untuk dilakukan.

SELAMAT BERKEADILAN Oleh karena itu, pada tahun keadilan sosial 2020 ini, mari kita mewujudkan kasih kita dalam perilaku adil terhadap sesama kita dan lebih memperhatikan mereka yang lemah, miskin, kecil, tersingkir dan difabel. Mari Amalkan Pancasila: Kita Adil Bangsa Sejahtera. Mari berbagi penuh kasih cinta pada yang lemah, kecil, dan papa. (Reff Lagu Tema KAJ 2020) 

Sumber : Majalah Sanctus VOL. XIV/FEBRUARI 2020

By Hery WW - Tim PARPOL  [ Partisipan Pelayan Online ]
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "BERLAKU ADIL SEBAGAI WUJUD KASIH"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel