Ketegaran Hati

7 Oktober 2018 Minggu Biasa XXVII 

“Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu” (Mk 10:5) 
Akar Perceraian: Ketegaran Hati 

Sangat menarik mencermati pengajaran Yesus tentang perceraian. Dalam dialog dengan orang-orang Farisi, Yesus menunjukkan sebab atau latar belakang mengapa Musa mengijinkan perceraian dengan memberikan surat cerai: “ketegaran hati”. “Ketegaran hati” menunjuk pada mengerasnya hati, tidak dapat lentur dalam bersikap, ... sudah tertutup. Ketertutupan hati inilah yang menjadi akar dari perceraian. 


Menilik sifat komunal dari pembicaraan antara orang Farisi dan Yesus, “ketegaran hati” menunjuk sikap tertutup dari Bangsa Yahudi. Ketegaran hati itu bukanlah personal, tetapi komunal sifatnya, mengakar pada sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ketegaran hati itu dapat ditemukan mencengkeram hidup individu-individu dalam masyarakat. Karena itu, mau tidak mau perceraian tampak menjadi bagian dari hidup masyarakat. 

Akar tersebut seharusnya dicabut. “Yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Mk 10). “Ketegaran hati” dalam konteks ini berarti penolakan terhadap Allah. Maka, dalam diri setiap individu yang hidup bermasyarakat kekerasan hati seharusnya dihancurkan. Karena mengakar, butuh kebersamaan dalam menghancurkannya. Kebersamaan itu dilandasi oleh akar yang sangat kuat: Kehendak Allah. Yesus melandasi kebenaran ilahi dalam hidup perkawinan: rencana ilahi dalam karya penciptaan. Sejak awal mula laki-laki dan perempuan diciptakan setara oleh Allah (Kej 2:23; Mk 10:6). “Laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu” (Mk 10:7-8; Kej 2:24). 

Mencabut ketegaran hati berarti membuka hati akan kasih ilahi. Tatkala badai kehidupan menerpa biduk perkawinan, berpeganglah pada kasih ilahi, berharaplah selalu padaNya agar kasihNya tetap menyala di dalam hati. Tetaplah terbuka akan kasih ilahi yang memancar dalam biduk perkawinan. Di sini, nilai kesetiaan dipertaruhkan. Nilai kesetiaan perkawinan berakar pada kesetiaan Allah pada umat manusia dalam ikatan perjanjian. Dalam darah Kristus, perjanjian itu menemukan kesempurnaannya.

By Slamet Harnoto

0 Response to "Ketegaran Hati "

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel