Demi Kemuliaan Allah

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat 5:16)

9 Februari 2020 Minggu Biasa V
Demi Kemuliaan Allah

Sore itu aku meluncur ke rumah seorang teman. Sesampai di rumahnya, terlihat olehku jam handphone yang menunjukkan padaku perjalanan selama setengah jam, tidak seperti sebelumnya yang menggapai waktu satu jam lebih. Setelah uluk salam temanku membukakan pintu. Kami ngobrol di teras rumah. Tanpa terasa sudah larut malam. Singkat ceritera, aku segera pamit, pulang.


Satu pembicaraan yang mengesan bagiku adalah ajaran leluhur Jawa, yakni semat, kramat, dan drajat. Orang mudah tergoda dan terjerumus ke dalam semat, kramat, dan drajat (harta, tahta, dan kemuliaan). Beberapa kasus investasi bodong dan perebutan kursi kekuasaan mengungkapkan kecenderungan orang pada ketiga hal tersebut. Orang menjadi lupa akan gambaran diri sendiri sebagai titah (abdi). Sebagai titah, orang haruslah senantiasa memerhatikan Yang menitahkan (memerintahkan). Orang lupa, atau mabuk, bahwa Sang Penciptalah yang seharusnya diperhatikan. Orang mabuk semat-kramat-drajat, sehingga lupa bahwa orang hidup oleh, karena, dan demi Sang Pencipta. Orang menjadi disorientasi dalam hidupnya.

Garam dan Terang dunia menunjuk pada jatidiri umat beriman. Dunia bagaikan atau masakan atau lingkungan hidup umat manusia. Di tengah masakan dunia umat beriman haruslah menjadi garam. Sebagai bagian lingkungan hidup umat manusia, umat beriman haruslah menjadi terang bagi seluruh umat manusia. Tatkala tidak menyadari dan tidak (dapat) mengekspresikan kejatidiriannya, umat beriman harus “dibuang” (cf. Mt 5:13b “Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang”; Mt 5:15 “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, ...”).

Umat beriman haruslah menyadari sungguh bahwa seluruh ekspresi diri sebagai garam dan terang dunia semata demi kemuliaan Allah (cf. Mt 5:16). Umat beriman tidaklah mengejar kemuliaan diri sendiri. Semat, kramat, drajat hanyalah sarana ekspresi demi kemuliaan Allah. Jangan sampai umat beriman disorientasi hidup, menjauh bahkan memisahkan diri dari Allah. Dengan demikian, umat beriman membimbing sesamanya untuk mengalami kemuliaan ilahi. Sesama ikut serta dalam memuji dan memuliakan Allah. Demikian pula pada akhirnya sesama menyadari diri sebagai bagian dari garam dan terang dunia. Maka, yang dikejar umat beriman adalah bagaimana sesama (dapat) memuliakan Allah. Penting bagi umat beriman untuk memerhatikan berbagai kesulitan atau hambatan sesamanya dalam memuliakan Allah. Penting bagi umat beriman untuk memerhatikan kenapa sesama tidak dapat bersyukur kepada Allah atas rahmat ilahi yang begitu agung dalam kehidupannya. Penting bagi umat beriman untuk memerhatikan kenapa sesama tidak pernah berdoa.

Selamat merenung! Berkat Tuhan!

By Slamet Harnoto - Tim PARPOL  [ Partisipan Pelayan Online ]

0 Response to "Demi Kemuliaan Allah"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel