Kunci Pertama

1 Maret 2020 Minggu Prapaskah I
                                                                                                                                                         
“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Mat 4:10)

Kunci Pertama


Dua dekade yang lalu aku mengalami di suatu daerah di Jawa Tengah. Kunci mobil tertinggal di dalam mobil, sementara mobil terkunci rapat. Untung, aku parkir di depan bengkel milik umat katolik. Dengan keahlian perbengkelan akhirnya kunci dapat diambil dan aku bisa membawa mobil pulang.

Pengalaman pertama yang sangat mengesan itu memberiku inspirasi akan keberadaan hidupku. Aku tidak boleh meninggalkan kunci (meski lupa) di dalam batinku kalau perjalanan hidupku tidak ingin mengalami banyak kesulitan. Kunci hidupku yang pertama dan terutama adalah berbakti kepada Allah. Kebaktian bukanlah semata soal hati, tetapi sekaligus juga ungkapan dan perwujudan. Sama halnya kunci mobil, tatkala kunci hidup tertinggal di dalam aku harus terima berbagai kesulitan dalam perjalanan hidupku sendiri.

Masa Prapaskah merupakan kesempatan untuk merefleksikan kunci hidup itu. Apakah saya sungguh menyadari dan yakin sungguh bahwa kebaktian kepada Allah menentukan hidup saya? Bagaimana ungkapan dan perwujudan kunci itu dalam kehidupan konkretku selama ini?

Salah satu yang menentukan keberadaan hidup adalah motivasi dasar. Apakah Allah menjadi landasan dan tujuan dari semua pergerakan hidupku? Pertanyaan ini menyentuh kesadaran hidup sehingga menjadi “Bagaimana Allah saya sadari sungguh menjadi landasan dan tujuan dari hidupku?” Di tengah arus pemikiran yang berpusat pada manusia dan atau lingkungan, rasanya mengembalikan Allah sebagai pusat pemikiran menjadi absurd. Teramat sulit memikirkan bagaimana Allah menjadi pusat segala-galanya.

Maka, menjadi tantangan tersendiri bagi umat beriman untuk menjadikan Allah sebagai landasan atau motivasi dasar dalam hidupnya. Tidak hanya tantangan arus pemikiran yang ada di dalam Gereja, tetapi juga berbagai kebutuhan hidup konkret. Pencobaan di padang gurun merupakan gambaran pencobaan hidup umat manusia. Pertama, dibicarakan tentang makanan. Pergulatan hidup umat manusia terkait dengan ketahanan makanan. Bagaimana ketersediaan makanan bagi milyaran umat manusia menjadi persoalan abadi dalam hidup umat manusia. Keterbatasan makanan membentuk pemikiran dalam budi manusia tentang kekuasaan. Orang yang menguasai “makanan” adalah orang yang berkuasa atas sesamanya. Dalam berbagai bentuknya kekuasaan itu ada dalam masyarakat manusia: kepala negara (raja, presiden), pengusaha, ilmuwan, dll. Itulah cobaan yang kedua yang berujung pada siapakah yang disembah. 

Saya pikir baik untuk merefleksikan tentang kekuasaan hidup. Umat manusia tidak berkuasa atas hidupnya sendiri. Oleh karenanya, kekuasaan itu relatif sifatnya, hanya Allah yang menguasai segala sesuatu. Maka, sembahlah dan berbaktilah kepadaNya saja. Itulah kunci pertama dan terutama. Amin.
~o0o~



By Slamet Harnoto - Tim PARPOL  [ Partisipan Pelayan Online ]
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Kunci Pertama"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel