Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat

Dalam perlombaan pembina Bina Iman Remaja Dekenat Tangerang, salah satu juri sempat mengatakan kepada para peserta bahwa tema KAJ tahun ini adalah Tahun Berhikmat, yakni Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat. Lantas beberapa pembina saling bercakap satu dengan yang lain, “Gimana menjelaskan kata Hikmat kepada anak-anak? Apakah mereka tahu hikmat tersebut?” Para pembina merasa kesulitan untuk menjelaskan kata ‘hikmat’ kepada anak-anak yang mereka bina. Mungkin sampai dengan saat ini, mereka bahkan kita, orang dewasa, juga masih bingung untuk menerjemahkan kata hikmat itu. Paling tidak diri sendiri juga masih merasa bingung bila ditanya arti kata hikmat dan bentuknya. Dalam kebingungan makna kata hikmat, kita tetap memasuki masa Prapaskah tahun ini dengan tema APP: “Amalkan Pancasila: Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat”. Perlahan-lahan mari kita merenungkan makna kata sekaligus tema tersebut.

Diawali dengan Surat Gembala Prapaskah yang mengajak kita untuk lebih memilih yang baik dan benar daripada yang mudah dan menyenangkan. Berhikmat – kata yang diambil dari sila keempat Pancasila – berarti bertumbuh menuju kepenuhan hidup kristiani, kesempurnaan kasih, dan kesucian. Untuk tujuan itu Paus Fransiskus menunjukkan kepada kita jalan-jalan sederhana dalam pengalaman hidup sehari-hari. Ketika kita memutuskan hal apapun, selalu memilih yang baik dan benar bukan sekedar yang mudah dan menyenangkan.” Dari kutipan ini kita bisa memaknai ada beberapa unsur penting, yakni ajakan untuk bertumbuh menuju kepenuhan hidup kristiani, pengalaman hidup sehari-hari, dan memilih yang baik dan benar. Kutipan ini juga dapat menjadi pijakan kita untuk menilai tindakan dan kebiasaan dalam hidup sehari-hari. Sudahkah kita berhikmat untuk menuju kepenuhan hidup kristiani?

Kepenuhan Hidup Kristiani

Untuk mendalami kepenuhan hidup kristiani ini, ada baiknya kita kembali kepada peristiwa penciptaan manusia. Kitab Suci menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26-27). Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia menjadi sama seperti Diri-Nya. Konsekuensinya adalah jika Allah itu suci dan kudus, maka manusia juga suci dan kudus. Itulah tujuan dari penciptaan manusia sehingga manusia selalu hidup menuju kepada kekudusan dan kesucian. 

Masalah yang terbesar adalah pada kisah selanjutnya setelah penciptaan itu manusia justru jatuh ke dalam dosa dan terus menerus memilih untuk berdosa (Kej 3). Bahkan, dosa dan kejahatan semakin besar dalam kehidupan manusia hingga Allah menyesal (Kej 6:5-6). Kehidupan yang penuh dosa itulah yang membuat manusia jauh dari Allah dan tidak lagi menuju kepada kekudusan. Namun, Allah yang begitu baik, tetap berusaha menyelamatkan manusia dengan mengutus orang-orang yang mengajak manusia untuk bertobat. Hingga akhirnya, Allah mengutus Putera-Nya sendiri, yakni Yesus Kristus.

Kehadiran Yesus Kristus itulah yang membuat manusia bisa kembali menjadi gambar dan rupa Allah. Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia hadir ke dunia ini untuk menunjukkan kepada manusia cara seharusnya manusia hidup dan berelasi dengan manusia lainnya. Peristiwa Yesus yang mengurbankan Diri-Nya di kayu salib, wafat, dan dibangkitkan itulah yang membebaskan manusia dari segala dosa dan membuat manusia semakin menjadi murni dan mampu untuk menuju kepada kekudusan kembali. Peristiwa itulah yang kita kenang dan rayakan dalam Perayaan Paskah. Manusia dibebaskan dari dosa dan memiliki kesempatan kembali untuk menuju kepada kekudusan.

Bagaimana tanggapan manusia terkait dengan undangan menuju kekudusan ini dan pembebasan dari dosa yang dikaruniakan oleh Allah? Itulah mengapa kita perlu melihat pengalaman hidup kita sehari-hari.

Pengalaman Hidup Sehari-hari

“Saya suka merenungkan kekudusan yang hadir dalam kesabaran umat Allah: dalam diri para orang tua yang membesarkan anak-anak mereka dengan kasih yang besar, dalam diri pria dan wanita yang bekerja keras untuk mendukung keluarga keluarga mereka, dalam diri orang-orang sakit, dalam diri kaum religius yang berusia lanjut yang tidak pernah kehilangan senyuman mereka. Dalam ketekunan mereka sehari-hari saya melihat kekudusan militansi Gereja. Sangat sering kekudusan ditemukan dalam sesama kita di pintu sebelah, mereka yang hidup di tengah-tengah kita, mencerminkan kehadiran Allah. Kita mungkin menyebut mereka “kelas menengah kekudusan”(Gaudete et Exultate art. 7).

Kutipan di atas berasal dari tulisan Paus Fransiskus, Anjuran Apostolik Gaudete et Exultate. Paus mengajak kita untuk merenungkan mengenai panggilan menuju kekudusan itu. Dalam tulisan tersebut, Paus menyampaikan terlebih dahulu perihal orang-orang kudus yang menjadi teladan kehidupan beriman (art. 3-5). Semua manusia bisa menjadi kudus dengan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan tersebut nyata seperti dalam kutipan di atas Paus menyebut bahwa kekudusan itu ditemukan dalam sesama kita di pintu sebelah, mereka yang hidup di tengah-tengah kita mencerminkan kehadiran Allah.

Suatu hal baru bagi kita yang hidup di masa sekarang ini karena kita cenderung berpikir bahwa kekudusan itu kita temukan dalam doa doa, ibadat, puasa, dan pantang yang kita lakukan. Namun, Paus Fransiskus memperluasnya dengan memberikan kenyataan bahwa kekudusan itu ada dalam kehidupan seharihari dan berbagai peristiwa serta pekerjaan hidup kita. Inilah yang bisa memberi kita suatu motivasi baru untuk menjalankan hidup, yakni untuk menuju kepada kekudusan melalui kegiatan kita sehari-hari.

Maka dari itu, mari kita melihat pengalaman hidup kita setiap harinya. Apakah kita menemukan kekudusan di dalamnya? Apakah kita menemukan kekudusan di dalam kehidupan orang yang ada di sekitar kita? Sebuah kekudusan yang sederhana, tetapi mencerminkan kehadiran Allah. Pertanyaan kita selanjutnya adalah kegiatan hidup sehari-hari apakah yang menampakkan kekudusan?

Yang Baik dan Benar

“Berikut ini contohnya: seorang perempuan pergi berbelanja, ia bertemu dengan seorang tetangga dan mereka mulai berbicara dan gosip dimulai. Namun, ia mengatakan dalam hatinya, “Tidak, aku tidak akan berbicara buruk tentang siapa pun”. Ini adalah sebuah langkah maju dalam kekudusan. Kemudian, di rumah, salah satu anaknya ingin berbicara dengannya tentang harapan dan impiannya. Meskipun sesungguhnya ia lelah, ia duduk dan mendengarkan dengan kesabaran dan cinta. Itulah pengorbanan lain yang membawa kekudusan. Kemudian, ia mengalami beberapa kecemasan. Namun, mengingat kasih Perawan Maria, ia mengambil rosarionya dan berdoa dengan iman. Masih jalan kekudusan yang lain. Belakangan, ia pergi ke jalan, berjumpa orang miskin dan berhenti untuk mengucapkan kata ramah kepadanya. Satu langkah lagi.” (GE art. 16)

Kutipan di atas merupakan contoh yang diberikan oleh Paus untuk kita terkait dengan menemukan kekudusan dalam kehidupan sehari-hari. Kita selalu berada dalam pilihan menjadi kudus atau cenderung mengikuti kemauan diri kita sendiri. Pilihan kitalah yang enjadi jalan untuk menuju kekudusan. Ketika kita memilih pada yang baik dan benar kita sedang menjalani satu langkah menuju kepada kekudusan. Inilah yang ingin disampaikan oleh Paus dalam kutipan di atas.

Kalau kita kembali kepada tema Prapaskah tahun ini, kita menemukan frasa, “Kita Berhikmat”. Di awal kita mempertanyakan bentuk berhikmat itu. Dari penjelasan dan berbagai kutipan ini kita menemukan berhikmat menjadi momen bagi kita untuk menentukan suatu pilihan yang selalu berdasarkan pada kebaikan; kebenaran bukan kemudahan dan menyenangkan. Maka dari itu, kita diajak untuk lebih bijaksana dalam berbagai pilihan hidup kita sehari-hari.

Berdasarkan pengamatan, ada beberapa kebiasaan yang terlalu sering dilakukan sehingga seakan-akan dianggap benar, tidak masalah, atau dibiarkan begitu saja. Salah satunya, kebiasaan saat kita di Gereja pada Hari Minggu. Ada beberapa umat yang mungkin merasa bahwa datang terlambat pada saat Ekaristi adalah suatu hal yang biasa atau wajar. Ini tentu menjadi pertanyaan bagi kita, pilihan apa yang dibuat olehnya? Yang baik dan benar atau mudah dan menyenangkan? Bagaimana persiapan mereka untuk mengikuti Ekaristi? Bagaimana penghormatan mereka terkait Perayaan Ekaristi ini? Hal yang mengkhawatirkan terjadi adalah karena salah memilih, kesalahan itu semakin berkembang, lantas menjadi dosa, dan kejahatan yang terus menerus membesar. Inilah yang membuat manusia justru malah tidak menghargai penebusan Kristus dan membiarkan diri berada di dalam dosa serta tidak mau menuju kepada kekudusan.

Banyak hal lain yang bisa kita jadikan contoh, seperti di dalam pekerjaan, saat di rumah, bertemu dengan orang lain, belanja, berkonflik dengan orang lain, dan berinteraksi dalam keluarga. Semua kegiatan itu kerapkali membuat kita untuk memilih. Oleh karena itu, ada baiknya di saat-saat kita hening atau saat kita tidak sibuk, kita bertanya kepada diri kita sendiri sudahkan kita memilih berdasarkan kebaikan dan kebenaran pada kegiatan kita hari ini? Di situlah kita membiasakan diri untuk berhikmat, menemukan, dan mengelola hikmat.

Bangsa Bermartabat

“Bangsa Bermartabat” menjadi hasil akhir dari berbagai tindakan berhikmat yang sudah kita lakukan. Dengan berhikmat, kita mengubah diri menuju lebih baik (bertransformasi). Pribadi kita menjadi lebih baik. Akhirnya, kita dapat mempengaruhi orang-orang sekitar kita, dan transformasi ini menular hingga menjadikan bangsa kita bermartabat. Itulah transformasi yang diharapkan. Di awali dengan transformasi pribadi menuju kepada transformasi institusi, yakni “Bangsa Bermartabat”


By RD Bernadus Dimas Indragraha  
Kolom Gembala Majalah Sanctus Vol XII April 2019
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel