Gereja, Rahim Ilahi

28 April 2019 Hari Minggu Paskah II
Hari Minggu Kerahiman Ilahi

“Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:22-23)

Gereja, Rahim Ilahi 

Sembilan hingga sepuluh bulan seorang anak manusia ada di dalam rahim ibunya. Tiba saatnya, dia akan keluar dari rahim dan memasuki dunia yang sungguh-sungguh baru, dunia tanpa batas dalam ketelanjangan dan ketidakberdayaan. Keheningan rahim harus ditinggalkan. Tangisan mengiringi saat-saat awal berada dalam ketidakterbatasan.


Paguyuban murid Tuhan telah disucikan oleh Kristus sendiri. Pencurahan Roh Kudus dan pernyataan Kristus menunjukkan betapa paguyuban ini telah disucikan dan dinyatakan sebagai “Rahim Ilahi” (lih. Yoh 20:22-23). Roh Kudus dan dosa merupakan dua “oknum” yang bertentangan satu sama lain. “Dosa” merupakan sampah kehidupan; sementara itu Roh Kudus membersihkan atau menghancurkan dosa. Paguyuban murid Tuhan dengan penyucian Roh Kudus menerima kuasa bagi pembersihan atas berbagai macam atau bentuk dosa dan keberdosaan. Sebagai Rahim Ilahi, paguyuban murid Tuhan menjadi tempat pembentukan kehidupan yang murni.

Dalam pergulatan konkret umat beriman mengalami satu proses pemurnian. Ada perbedaan pendapat. Ada pertentangan, bahkan permusuhan antar-pribadi, antar-pribadi dan kelompok, dan antar-kelompok. Ada kemunafikan, kedengkian, dan kuasa dosa. Semua hendaknya disadari sungguh dalam proses pemurnian. Tidak sedikit orang yang berpikir bahwa di dalam rahim, keheningan dan kenyamanan begitu kentara. Kasih yang mendalam dan tanpa syarat hadir secara nyata di sini. Benarkah demikian tatkala disadari akan realitas hidup yang ditemukan, sekalipun di dalam rahim bayi tidak menunjukan gelagat ketidaknyamanan?

Rasaku penting disadari bahwa proses pemurnian di dalam rahim juga diwarnai pergulatan dan kesakitan luar biasa. Perubahan dari saat ke saat merupakan rangkaian rasa sakit tak terperikan, tak terucap, bisu! Kehidupan baru dimulai tatkala dua kehidupan saling berbenturan dan keduanya mati. Sebuah kehidupan di dalam rahim terjadi dari dua kehidupan yang menyatu. Kematian tentulah meninggalkan bekas luka tak terperikan. Kematian dua kehidupan ini terbawa dalam satu kehidupan yang baru, bagaikan benih yang akan bertumbuh dalam satu kehidupan yang baru.

Maka, kesadaran akan kasih sayang yang tanpa syarat haruslah diimbangi dengan kesadaran akan penderitaan yang (akan) dialami dalam satu proses pemurnian. Gereja sebagai rahim tak dapat dipungkiri memuat proses ini. Para murid Tuhan menjalani proses dialektika antara kasih yang menyenangkan dan rasa sakit yang menyesakkan. Rahmat ilahi telah dicurahkan dan menjadi kekuatan setiap murid Tuhan agar tetap berada di dalam proses pemurnian hidupnya hingga akhirnya harus terlahir ke dalam satu dunia tanpa batas bagi dirinya. Seorang murid Tuhan akan mengalami penderitaan tak terkatakan karena memasuki dunia yang baru ini, keluar dari rahim, dan hanya tangisan semata yang terjadi pada dirinya, tanpa bisa berbuat apapun.

Sebagai Rahim Ilahi, paguyuban murid Tuhan tidaklah hidup dari dan untuk dirinya sendiri. Ia hidup dari dan bagi Allah. Ia tidak semata ruang dan waktu, tetapi sungguh menyalurkan rahmat ilahi bagi pertumbuhan murid-murid Tuhan. Kristuslah pribadi yang menghidupkan dan menentukan bagi keberadaan paguyuban murid Tuhan, rahimNya. 

Selamat merenung! Selamat berproses! Tuhan memberkati!

By Slamet Harnoto  - Tim PARPOL  [ Partisipan Pelayan Online ]
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Gereja, Rahim Ilahi "

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel