Imam Besar

“Ia menundukan kepalanya dan menyerahkan nyawaNya” (Yoh 9:30b)

19 April 2019 Jumat Agung

IMAM BESAR

Di tengah gemuruh penantian kedatangan seorang imam besar di negeri ini, umat beriman memandang peristiwa persembahan hidup SANG IMAM BESAR! Yesuslah Sang Imam Besar itu (cf. Ibr 4:14)! Dia bukanlah raja ataupun kepala negara yang memiliki kekuasaan politik dan menentukan bagi keberlangsungan hidup suatu negeri. Dia bukanlah seorang pemimpin organisasi yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan massa. Dia hanyalah Hamba Allah (cf. Yes 52:13-53:12). 


Seorang imam dalam perjalanan sejarah umat manusia merupakan seorang pemimpin ritual atau ibadat sebagaimana telah ditentukan oleh Yang Ilahi. Dalam suatu upacara ritual tentulah ada sesuatu yang dipersembahkan. Ritual itu dilakukan dengan ketentuan tertentu agar keinginan umat yang mengikutinya dikabulkan oleh Yang Ilahi. Tentu saja ada persembahan bagi Yang Ilahi agar permohonan terkabulkan.

Peristiwa sengsara dan wafat Yesus merupakan peristiwa ritual abadi bagi keselamatan umat manusia. Peristiwa itu merupakan peristiwa ritual penebusan dosa. Persembahan yang dihunjukkan tidak sekadar uang, roti, anggur, atau anak domba. Korban persembahan adalah hidup Yesus sendiri. Maka, Yesus adalah Imam Besar sekaligus Korban Persembahan.

Apa maknanya bagi umat beriman?

Saya tawarkan untuk direnungkan: totalitas hidup di hadapan Allah dan sesama. Paguyuban murid Tuhan hanya dapat berkembang jikalau ada rasa hormat yang mendalam dan ketulusan dalam mengasihi sesama. Itu menunjuk pada penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dan sesama. Umat beriman sebenarnya memancarkan Sang Imam Besar dan Korban Persembahan sendiri. Umat beriman bertindak sebagai imam dengan memersembahkan hidupnya sendiri kepada Allah. Tentulah ini dengan imamat umat beriman yang telah diterima. 

Maka, pada dasarnya umat beriman bertanggung jawab juga (terlibat) dalam karya penebusan Kristus di dunia ini. Salah satunya adalah dengan menyelamatkan air dari segala pencemaran. Umat beriman sudah seharusnya menjaga kemurnian air bagi kehidupan seluruh umat manusia. Rasanya sudah tidak dapat diterima pemikiran bahwa apa yang terjadi di satu tempat khusus tidak berpengaruh secara global. Satu tindakan memurnikan air atau menjaga kemurnian air tentulah akan berpengaruh secara global. Itu berarti tindakan umat beriman di satu paroki tentu akan membawa dampak yang luas. Bagaimana jika paroki-paroki memiliki gerakan satu dan sama? Luar biasa, bukan, efeknya?

By Slamet Harnoto - Tim PARPOL  [ Partisipan Pelayan Online ]
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Imam Besar"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel