Dipanggil Untuk Menjadi Berkat

BEKASI. Dalam rangka tahun refleksi yang dicanangkan Keuskupan Agung Jakarta tahun 2021, wilayah Fransiskus Asisi sebagai bagian dari Paroki Harapan Indah mengadakan rekoleksi seluruh pengurus wilayah dan lingkungan serta umat, (Sabtu, 20/2/2021). Hadir dalam dalam pengurus lingkungan yang berjumlah enam lingkungan dan pengurus wilayah, OMK, dan WWFA (Wanita Wilayah Fransiskus Asisi).


Rekoleksi wilayah tahun ini mengambil tema Membangun Persaudaraan dalam Semangat  Fransiskus Asisi yang didampingi seorang fransiskan, yaitu Pastor  Yulius Fery Kurniawan, OFM. Menurut ketua panitia, Anna WS,  tema ini sejalan dengan tema KAJ 2021 sebagai tahun refleksi Semakin mengasihi, semakin terlibat, dan semakin menjadi berkat. “Kita dipanggil dengan cara dan peran masing masing untuk menjadi berkat bagi banyak orang” katanya saat diwawancarai kontributor Majalah Sanctus.

Wilayah FA Bersama seluruh umat  hendak menegaskan kembali panggilannya baik sebagai warga gereja maupun masyarakat bahkan warga dunia untuk terus terlibat dengan cara masing-masing dalam membangun persaudaraan sosial. Hal itu ditegaskan oleh Koordinator Wilayah Fransiskus Asisi, Thomas Diman, dalam kata sambutan sebelum rekoleksi secara virtual dimulai.

“Semangat persaudaraan untuk lebih mengasihi, lebih terlibat, lebih menjadi berkat juga senada dengan  ajakan Paus Fransiskus dalam ensiklik terbarunya Fratelli Tutti, untuk mendorong  keinginan akan persaudaraan sosial.  Pandemi  covid-19 menjadi latar belakang munculnya ensiklik ini.” Kata Thomas Diman yang suka jalan-jalan ke hutan Kalimantan ini.

Lebih lanjut Korwil FA ini mengatakan   kedaruratan kesehatan global menyadarkan kita bahwa  tidak seorang pun  dapat menghadapi  hidup sendirian, dan kita mesti bahu membahu, bergandengan tangan sebagai satu keluarga umat manusia  untuk mengatasi situasi ini secara bersama-sama.



Belajar dari Hidup Fransiskus Asisi

Romo Fery, biasa dia dipanggil dalam pengantar rekoleksi mengatakan, bagi Fransiskus satu kata terpenting dalam hidupnya adalah kata saudara dan saudari. Tidak ada perbedaan antara probadi  manusia yang tua muda, laki  perempuan, kaya miskin, terpelajar dan tidak. Semua adalah saudara atau saudari baik mereka yang  kristiani atau yang  memiliki kepercayaan lain, baik yang baik maupun yang jahat, baik kawan maupun lawan, bahkan hewan-hewan dan segenap ciptaan menjadi saudara dan saudari.

“Perspektif ekologis menjadi sangat kuat dalam semangat hidup Fransiskus. Bahwa dunia ini mestinya menjadi rumah bersama, hormat kita bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada alam sebagai tumpah darah kita. Bumi sebagai Rahim Bersama mesti kita rawat Bersama, bukan menghancurkannya.” Ujar Fransiskan asal kota Malang, Jawa Timur ini.

Lebih lanjut Romo Fery mengatakan, bagi Fransiskus, persudaraan adalah cinta kasih. Dalam persudaraan, setiap orang mesti  mendengar dan memberi telinga kepada saudara atau saudarinya yang menceritakan pengalamannya, keterbukaannya, pengharapannya, dan permasalahannya. Saudara dan saudari yang  memberi telinganya kepada orang lain  meti mengampuni kesalahan sesamanya seperti kisah orang Samaraia yang baik hati dalam perumapaan Yesus. 

“Jika seorang saudara atau saudari berada dalam situasi krisis, maka dia pun jangan takut untuk menyatakan situasinya kepada saudara atau saudarinya yang lain. Setiap saudara atau saudari mesti menerima sesama dengan penuh cinta kasih, tanpa prasangka” Kata Romo Fery, yang sedang mempersiapkan studi lanjut ke Roma ini.



Dipanggil untuk Menjadi Berkat

Pada bagian akhir Romo Fery mengajak umat untuk terus menerus saling tolong menolong, saling memerhatikan sekeliling agar kehadiran kita di lingkungan, baik lingkungan RT, RW,  juga wilayah sungguh menjadi berkat satu sama lain bukan menjadi kutuk. Ia mengutip  semangat hidup dalam ordonya yang juga menjadi semangat kita sebagai wilayah dan paroki.

“Hendahlah para saudara yang diberi karunia untuk bekerja, melakukannya secara bakti dan setia, sedemikian rupa sehingga sambil menjauhkan diri dari sikap bermalas-malasan yang adalah musuh jiwa, mereka tidak memadamkan semangat doa dan kebaktian yang suci yang kepadanya diabdikan semua hal yang bersifat sementara”. Kilahnya

Dalam rekolesi yang dihadiri sekitar 61 orang ini bergabung juga RD Nemensius Pradipta, yang merupakan Romo  rekan di Paroki Harapan Indah. Dalam kata penutupnya di akhir rekoleksi, Romo Dipta menyampakan terima kasih kepada Wilayah FA yang sudah mulai menegaskan semangat  untuk menggali, merenungkan, dan membuat aksi bersama sebagai wilayah dalam rangka tahun refleksi 2021.

Paling tidak ada beberapa butir-butir permenungan selama rekoleksi antara lain agar menjadikan Tuhan sebagai patron, idola bagi kita. Kurangi menyampah baik sampah  betul maupun sampah kata-kata yang  sering muncul di social media.  Dan yang lain agar semakin hari kita menumbuhkan sikap belarasa terhadap sesama, sehingga kita semakin terlibat untuk terus menjadi  berkat. 


Penulis : Grace Annantha  & Publisher : Hery WW. - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online] Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Dipanggil Untuk Menjadi Berkat"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel