Menyehatkan Hidup Rohani


17 Februari 2021 Rabu Abu

Pantang dan Puasa
“Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu” (Mat 6:17)

Menyehatkan Hidup Rohani

Sejak cacat di pinggang (tulang belakang) delapan tahun yang lalu, saya mementingkan kesehatan. Pekerjaan yang memberikan upah harus saya sesuaikan dengan kondisi fisik. Saya sadar bahwa saya sudah mengalami kesulitan “ikut orang”. Penghasilanku lebih banyak dari belaskasihan saudara-saudaraku kandung. Saat ini aku merasa bersyukur sungguh karena dapat menurunkan berat badan hingga 10 kg. Rasaku langkahku enteng. Meski tidak lincah tatkala umur 20-an tahun, tapi kurasakan kegembiraan merasuk ke dalam batinku.

Masa puasa dimulai dengan Rabu Abu. Tatkala merenungkan pantang dan puasa, mengutamakan kesehatan merasuk ke dalam permenunganku. “Pantang dan puasa seharusnya tidak melemahkan sehingga mengurangi daya hidup untuk bekerja, apalagi melemahkan kegembiraan,” pikirku. “Aku tidak berusaha tetap sehat walau berpantang dan berpuasa,” larangku pada diriku sendiri, “tetapi pantang dan berpuasa agar tetap sehat”.

Kesehatan dan kematangan rohani akhirnya mengiang di batinku. Sama seperti pada umumnya, aku berpikir apa arti dan kriterianya? Sederhana bagiku: kegembiraan yang melekat. Itu tidak sama dengan kegembiraan yang meledak-ledak, bagaikan orang memenangkan hadiah. Kegembiraan yang melekat mengalir dari pancaran sinar yang menenangkan (sekaligus melumpuhkan ... kejahatan batin). Kegembiraan itu tidak pernah pudar; akan selalu terbawa di mana pun dan kapan pun.

Pantang dan puasa bagiku menjaga dan mengembangkan kegembiraan itu. Sinar yang memancar dalam batin akan menuntun orang pada tatanan nilai (yang semakin) tinggi. Ada dua kemungkinan kutemukan dalam diri: menyakiti batin karena telah salah; atau menyenangkan karena telah menggapai nilai yang tinggi. Jikalau demikian, bagiku, pantang dan puasa merupakan kesempatan, tindakan, aliran hidup yang semakin meningkat.

Menolak atau menunda apa yang masuk ke perut (makanan dan atau minuman) merupakan sarana berlatih agar menjadi pribadi yang terlatih dalam memilih dan memeluk tatanan nilai (ter-)tinggi. Agar terhindar dari penyakit akibat kolesterol tinggi aku harus menolak atau mengurangi makanan berkolesterol. Agar terhindar dari kerusakan jaringan paru-paru aku harus mengurangi (atau tidak) merokok. Ini semua merupakan latihan-latihan agar pada akhirnya aku menjadi terlatih dalam memilih dan memeluk nilai kesehatan.

Aku sadar juga bahwa aku pun harus terus berlatih mengendalikan diri. Menolak atau mengurangi makanan dan atau minuman memerlukan pengendalian diri yang kuat. Itu sama halnya dengan bagaimana aku berpikir. Aku harus melatih diriku sendiri dengan pikiran-pikiran yang selaras dengan alam pikir Gereja. Itu artinya aku tidak sekadar harus rajin membaca Kitab Suci, tetapi sekaligus juga refleksi-refleksi iman para pujangga Gereja. Sangat besar harapanku bahwa kehadiranku merupakan kehadiran Gereja secara konkret tidak hanya dalam tutur kata dan pikiran, tetapi juga mewujud dalam komunikasi dan tindakan bersama.

Maka, penting bagiku berpenampilan menarik, meski sedang berpantang dan berpuasa. Kesehatan dan kematangan rohani dari pribadi terlatih tentu akan mengalir atau terekspresikan dalam penampilan sehari-hari. Orang murung tentu akan mengalami kesulitan dalam komunikasi dan tindakan bersama. Orang murung cenderung ditafsirkan sedang ada masalah.

Penting bagiku untuk “minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu” (Mat 6:17). Bagaimana dengan Anda?


Penulis : Slamet Harnoto & Publisher : F.X Rudy - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online]

0 Response to "Menyehatkan Hidup Rohani"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel