Merenungi Ketidakpercayaan Kepada Allah



21 Februari 2021 Minggu Prapaskah I

“kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Mrk 1:15)

Merenungi Ketidakpercayaan Kepada Allah

Beberapa waktu yang lalu aku ngobrol bareng penjual krupuk. Dia bukan orang Bogor, tapi Kuningan. Satu tema menarik adalah harga tanah yang semakin meningkat, seiring dengan menyempitnya lahan yang tersedia. Ketertarikanku nyata pada kenyataan di sekitar rumah di mana sekarang aku tinggal. Setelah hampir 10 tahun, hanya sebidang tanah yang masih ditanami ketela. Yang lain sudah didirikan bangunan rumah atau gudang. Pertanyaanku tidak dijawab penjual krupuk, “Kalau tidak ada lahan lagi, mau tinggal di mana?”

Kegenapan waktu yang diwartakan Yesus bagiku merupakan saat pelaksanaan dari rencana ilahi. Saat itu bisa diartikan sebagai awal dimulainya pelaksanaan, tetapi juga berarti terjadinya rencana. Itu menunjuk pada Kerajaan Allah. Dikatakan “sudah dekat”. Sangat menarik dalam benakku karena ada kemendesakan sungguh di sana. Kemendesakan itu tampaknya “berupa ancaman” terhadap hidup umat manusia. Kalau merujuk pada Kitab Kejadian yang menceriterakan air bah. Ancaman itu nyata: kemusnahan hidup manusiawi. Oleh karena itu, diserukan “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” Itu menunjukkan bahwa pertobatan dan kepercayaan kepada Injil merupakan syarat mutlak orang memperoleh keselamatan, terhindar dari ancaman.

Gencarnya pembangunan seharusnya tidak meninggalkan tata kelola pangan. Milyaran mulut harus disuapi makanan agar hidup manusiawi terjaga dan berkembang. Namun sering kali tampak ketimpangan antara pembangunan gedung dan sarana hidup lainnya dengan sektor pangan. Di sisi lain, keterbatasan lahan juga semakin memiriskan kehidupan. Bagaimana menyediakan rumah dan pangan sekaligus di lahan yang dari dulu hingga sekarang tidak bertambah luas?

Sangat menarik memperhatikan pewartaan Yesus: bertobatlah! Kehebatan umat manusia yang semakin meningkat seharusnya tidaklah meninggalkan orientasi hidup pada kesempurnaan. Kerajaan Allah menunjuk pada kesempurnaan itu. Kerajaan Allah adalah Kerajaan Kasih dimana kasihlah yang menguasai hidup manusiawi. Kedatangan Kerajaan Allah yang sudah dekat menjadi alasan untuk bertobat. Kehebatan umat manusia yang terarah pada penghancuran hidup manusiawi haruslah segera ditinggalkan. Kehebatan umat manusia harus diarahkan kembali seutuhnya pada kasih yang menyempurnakan hidup manusiawi. Ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya semakin menyempurnakan hidup manusiawi, bukan pada penghancuran.

Hal itu dapat terjadi jika umat percaya sungguh pada Injil! Percaya tidak sekadar mengakui eksistensi, tetapi sungguh bersandar padaNya. Orang yang percaya menunjukkan bahwa dirinya sungguh mengenal yang dipercaya. Dalam hal ini, Dia adalah Kristus Yesus. Orang yang percaya kepada Injil adalah orang yang percaya kepada Kristus Yesus. Di dalam Dia orang memiliki kasih ilahi yang menyatukan dirinya dengan Allah dan sesamanya. Di dalam Dia orang terlibat dalam “pergulatan ilahi” yang senantiasa mengembangkan hidup ilahi.

 

Penulis : Slamet Harnoto & Publisher : F.X Rudy - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online]
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Merenungi Ketidakpercayaan Kepada Allah"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel