Ibadat dan Refleksi APP 2021 Kedua di Wilayah St. Anastasia

IBADAT DAN REFLEKSI APP 2021
Tema 2: Persaudaraan dalam Masyarakat
Wilayah Anastasia, 02-03-2021

Masih dalam suasana Pandemi Covid 19 ini, Pengurus Wilayah dan Lingkungan Santa Anastasia, melaksanakan kegiatan masa Pra-Paskah 2021, dengan menggelar pertemuan virtual dalam lingkup Wilayah. Gagasannya adalah agar pertemuan tatap muka yang sudah jarang dilakukan baik dalam lingkungan Wilayah maupun Lingkungan, sejak pertengahan Maret 2020, maka pertemuan secara virtual ini dapat mengobati kerinduan untuk bertemu antar umat se Wilayah dan antar Lingkungan. Pertemuan secara virtual ini dilakukan baik dalam bentuk Refleksi APP 2021 dan Ibadat Jalan Salib yang di fasilitasi-dikoordinir bergantian secara wilayah dan Lingkungan..



Pada hari ini, Selasa, 2 Maret 2021, pukul 19.30 – 21.30 WIB telah diadakan pertemuan kedua Ibadat - Refleksi APP yang bertema “Persaudaraan Dalam Masyarakat.” Hadir dalam pertemuan ini 37 Bapak dan I Ibu serta 1 orang muda (OMK) yang mereprentasikan kehadiran 32 keluarga katolik di Wilayah St. Anastasia. Dibandingkan dengan jumlah umat yang ada di Wilayah St. Anastasia yang berjumlah sekitar 500 orang, maka secara persentase yang hadir dalam pertemuan ini hanya sekitar 8% dari jumlah umat. Terhitung rendah animo umat untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan lingkungan-wilayah semacam ini.

Pertemuan APP kedua ini dipimpin oleh Pak Eko Roli. Pertemuan ini mengajak berfleksi bersama bagaimana kita sebagai mahluk sosial membangun persaudaraan dalam lingkungan hidup kita berada, baik di rumah, di sekolah, ditempat kerja, dalam komunitas khusus, maupun di tengah hidup bermasyarakat. Sekitar delapan ratus tahun yang lalu, Santo Fransiskus mendesak agar semua bentuk permusuhan atau konflik dihindari dan kesederhanaan yang rendah hati dan persaudaraan harus ditunjukkan kepada mereka yang tidak seiman.

Lebih lanjut, Bapa Paus Fransiskus menulis dalam “Fratelli Tutti”: saya (Paus Fransiskus) merasa sangat terdorong oleh Imam Besar Ahmad Al-Tayyeb, yang saya temui di Abu Dhabi, di mana kami menyatakan bahwa “Tuhan telah menciptakan semua manusia yang setara dalam hak, kewajiban dan martabat, dan telah memanggil mereka untuk hidup bersama sebagai saudara ”. (Fratelli Tutti, 4-5)

Dalam pertemuan APP ke-2 ini, kita merefleksikan bagaimana mempraktekan hidup beriman kita di tengah masyarakat, khususnya dimasa pandemi ini. Semoga retret agung masa puasa dan tobat ini dapat kita gunakan untuk menemukan kehadiran Allah dalam diri para sesama.

Landasan Alkitabiah yang menginspirasi tema ini adalah Lukas 10: 25-37 “Orang Samaria Yang Baik Hati” Dalam perikop ini Yesus mengingatkan kita untuk memiliki keterbukaan hati dan kepekaan terhadap kesulitan orang lain agar kita mampu menganggp orang lain sebagai saudara, terutama mereka yang kurang diperhatikan, ditinggalkan dan tersisih.

Dalam masa pertobatan ini, hendaknya kita selalu ingat akan kehadiran Tuhan dalam mengasihi setiap manusia. Karena besar cintaNya itu, Ia rela menderita sengsara dan menumpahkan darah sampai wafat di kayu salib. Kita diajak untuk menyadari spiritualitas persaudaraan itu, yakni mengasihi sesama sebagai saudara dan saudari.











Releksi Sosial

Dalam membangun relasi yang baik dalam masyarakat, kita harus hidup secara SEHAT, yakni kita harus bisa “Share” berbagi suka maupun duka; “Empowered” saling meneguhkan dan menguatkan; Head/Heart menggunakan akal dan budi yang baik; “Attitude” memiliki sikap hidup yang baik dan toleran; dan “Trust” bisa dipercaya dalam kata dan perbuatan.

Untuk membangun hidup persaudaraan dalam masyarakat kita secara praktis dapat melakukan aksi nyata sebagai berikut:

  1. Bekerjasama lintas agama di masa Pandemi ini dengan membantu warga yang terpapar Covid secara bergantian via penyediaan bahan makanan dan sanitaizer dan sarana prokes.
  2. Bergaul menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal kita via kegiatan budaya, sosial, gotong royong bersih-bersih lingkungan, bekerjasama mengurus kematian warga, dsb.
  3. Kita harus membuka diri dengan tulus, jangan menutup/menarik diri dari kegiatan masyarakat, walaupun diawali dengan kecanggungan satu sama lain, lewat proses waktu dan interaksi yang intens dan saling pengertian akhirnya pergaulan menjadi cair dan bisa saling menerima apa adanya.
  4. Memberi perhatian kepada orang kecil: tukang bersih jalanan, tukang tambal ban pinggir jalan, tukang tambal jalanan rusak, pengemis pinggir jalan, pengamen, pemulung dengan cara mengajak ngobrol sebagai saudara insani dan sesekali membawakan makanan sehat dan atau bersedekah langsung bila memungkinkan.
  5. Ikut aktif dalam komuitas penyandang gagal ginjal dengan cara tolong menolong secara moril dan material, akan menghilangkan rasa takut menjadi berani menghadapi tantangan hdiup sebagai penyandang gagal ginjal.
  6. Mengunjungi orang yang sakit kronis/menahun dengan mengajak untuk memberikan penghiburan, berdoa bareng untuk peneguhan dan memberikan bingkisan yang bermanfaat.
  7. Untuk membangun persaudaraan dalam masyarakat, kita jangan pernah mengungkapkan atau berpikir tentang siapa mayoritas dan siapa minoritas. Cara pikir itu dapat menyebabkan minder untuk bergaul dan berinteraksi atau sebaliknya memicu arogansi/superioritas yang tidak pada tempatnya.
Setelah sharing refleksi dilanjutkan dengan doa umat untuk mendoakan para pemimpin dan masyarakat-umat agar dapat menjalani hidup sosial secara bijak dan penuh toleransi.


Penulis : Marcellina Ratna dan Margo Widayat | Publisher : .... - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online] Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Ibadat dan Refleksi APP 2021 Kedua di Wilayah St. Anastasia"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel