Pengorbanan Diri - Renungan Masa Prapaskah IV



“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia 
tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yoh 12:24)

Pengorbanan Diri

Rasaku tidaklah terlalu sulit untuk merenungkan bagaimana kematian Yesus itu bagi umat manusia. Setiap hari, bahkan setiap saat, aku ditantang untuk merenungkan keberadaanku secara konkret. Untuk apa aku mencari duit? Untuk siapa aku bekerja? Untuk apa aku aktif di Gereja dan di tengah masyarakat? .semuanya menyadarkanku akan arti hidupku. Arti hidupku sendirilah yang sebenarnya dipertaruhkan tatkala merenungkan kematian Yesus bagi umat manusia.

Kematian Yesus merupakan kematian keduniawian yang membawa hidup pada kesempurnaannya. Kematian itu mengungkap eksistensi hidup umat manusia. Hidup umat manusia pada dasarnya (dalam permenunganku) memerhatikan sesama seutuhnya. Hidup konkret seorang insan mendapatkan tempatnya tatkala ia mau dan mampu menyatakan dan mewujudkan kasihnya kepada sesama. Dorongan kasih yang utuh dan tulus membutakan orang untuk memberikan dirinya kepada sesamanya. Itulah cinta. Itulah arti hidup seorang anak manusia. Itulah kematian keduniawian yang mementingkan diri sendiri. Itulah makna kematian Yesus. Itulah eksistensi hidup umat manusia.

Masa pandemi menyadarkan diriku akan tindakan Allah yang menyadarkan umat manusia. Ia ada dan senantiasa hadir di batin setiap insan. Ia tidak sekadar telah menorehkan hukum dan kehendakNya di batin insani (cf. Yer 31:33). Ia sendiri hadir dan menyuarakan kehendakNya di dalam batin manusia. Kematian Yesus mengungkap kehancuran hati yang membeku dan tertutup bagi kehadiran Allah. Kematian Yesus menyatakan bahwa kasih seutuhnya merupakan pemberian diri. Kematian Yesus merupakan tindakan Allah yang adalah kasih merasuk dan meraja di dalam batin setiap insan.

Pengorbanan diri sangatlah dimungkinkan tatkala hidup manusiawi terancam. Oleh Yesus,
pengorbanan diri tidak ada yang sia-sia. Pengorbanan diri justru membuat hidup berkembang jauh lebih baik. Tatkala merenungkan hal ini aku teringat akan kedua orangtuaku yang telah tiada. Kasih mereka yang tidak memikirkan diri sendiri telah membuat anak-anaknya menjadi “orang” bagi
sesamanya. Dalam Yesus ... seluruh umat manusia terbuka akan keselamatan sesamanya.
Pengorbanan diri dilandasi oleh kasih yang tulus ikhlas demi hidup sesamanya.

Penulis : Slamet Harnoto  & Publisher : Willy - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online]
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Pengorbanan Diri - Renungan Masa Prapaskah IV"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel