Ular Padang Gurun - Renungan Masa Prapaskah III




“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan" (Yoh 3:14)

Ular Padang Gurun

Permenunganku sampai pada keselamatan yang “akan” dianugerahkan oleh Allah. Kata “akan” tidak sekadar “belum terjadi”, tetapi sekaligus “sudah terjadi”. Pewartaan alkitabiah mengungkap sejarah keselamatan yang telah dan akan terjadi. Oleh karena itu, permenunganku merupakan garis sudah dan belum. Inti permenunganku adalah “kasih setia Allah”.

Saya yakin bahwa pewartaan Yohanes dalam konteks orang Yahudi yang begitu melekat dengan peristiwa perjalanan Bangsa Israel di padang gurun dengan tokoh utamanya Musa. Oleh karena itu, gambaran peristiwa Golgota diidentikkan (“disejajarkan”) dengan peristiwa Sinai. Baik peristiwa Sinai maupun Golgota mengungkap hal yang sama: keselamatan yang datang dari Allah. Inilah yang bagiku menjadi landasan pengharapan umat beriman. Allah telah “memancangkan” keselamatan bagi semua orang, yakni salib Yesus di puncak Golgota. Sebagaimana Bangsa Israel diselamatkan dengan memandang ular yang ditancapkan, demikian pula semua orang akan selamat tatkala memandang salib Yesus.

Peristiwa keselamatan merupakan peristiwa yang sedang terjadi. Ini menunjuk pada keselamatan yang sudah atau pernah terjadi dan yang akan terus terjadi. Perjalanan hidup umat manusia merupakan perjalanan keselamatan bersama dengan Allah. Tatkala aku takut, aku ingat atau sadar akan keberadaan Allah bersamaku. Tatkala aku ragu, aku sadar akan keberadaan Allah di sisiku. Dia yang mengasihiku pastilah tidak membiarkan diriku dalam kesesakan. Pada masa pandemi, “Ular di padang gurun” menjadi nyata sungguh bagi kehidupanku. Tidak bernada takhyul, tetapi sungguh nyata bahwa kekhawatiran terhadap keterancaman hidupku terasa digenggam erat oleh Yesus dengan senantiasa mengingatkanku untuk tetap menjaga kesehatan. Demi kasihNya yang besar terhadapku, aku harus senantiasa berusaha menjaga kesehatanku. Kesehatan, bagiku, merupakan syarat mutlak untuk menjalani hidup dengan penuh syukur.

Yang sangat jelas bagiku adalah bahwa Yesus “Sang Ular di padang gurun” yang ditancapkan di Golgota memberikan pengharapan yang besar bagi umat beriman. Ia tidak akan pernah mengingkari janjinya pada seluruh umat manusia. Ia pasti akan menyelamatkan seluruh umat manusia. Di saat keputusasaan menggerogoti hidup umat manusia, “Sang Ular di padang gurun” tetaplah menjadi kekuatan satu-satunya akan keselamatan umat manusia.

Penulis : Slamet Harnoto & Publisher : F.X Rudy - Tim PARPOL  [Partisipan Pelayan Online]
Paroki Harapan Indah Bekasi

0 Response to "Ular Padang Gurun - Renungan Masa Prapaskah III"

Posting Komentar

Mohon berkomentar secara bijaksana, bersudut pandang positif dan menyertakan identitas di akhir komentar (walaupun fasilitas komentar tanpa nama). Satu lagi mohon tidak meninggalkan komentar spam !

Terima Kasih | Tim KOMSOS St. Albertus Agung Kota Harapan Indah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel